Love Me Boy!

Love Me Boy!
"Kamu jangan sakit ya! "


__ADS_3

Sekitar tiga puluh menit kemudian sebuah ambulans datang bersama Ryu di dalamnya. Dia dan kedua petugas medis lainnya langsung berjalan menuju ruang kerja CEO dengan tergesa-gesa membuat jutaan tanya di benakmu para pegawai termasuk Ruby yang ternyata masih berada di kantor suaminya karena tadi dicegat oleh Irfan saat dia hendak keluar gedung. 


Ruby ikut panik saat Ryu masuk ke dalam lift suaminya. 


Apa yang terjadi disana?


Siapa yang sakit? 


Apakah itu suaminya?


Ruby langsung memikirkan yang tidak-tidak. Dia sudah lupa momen menjijikkan yang ia lihat setengah jam yang lalu. 


"Mereka ke ruangan suami kamu. Siapa yang sakit disana?" Tanya Irfan. "Bukannya kamu baru dari sana?"


Ruby menggeleng dengan genangan air mata. "Aku gak tau." Dia takut hal tak diinginkan menimpa suaminya. 


"Semoga tidak terjadi apa-apa dengan suami kamu Bi." Irfan mengusap-usap punggung mantan kekasihnya yang kini sudah berstatus menjadi istri pemilik perusahaan tempat ia bekerja. "Kita berdoa aja!"


Sekitar 15 menit kemudian pintu lift kembali terbuka, Ryu keluar terlebih dahulu disusul kedua petugas medis yang mendorong ranjang tempat pasien terbaring. Ruby langsung bernafas lega saat melihat suaminya keluar di urutan terakhir masih dengan kondisi sempurna. Senyum merekah pun langsung terbit dari wajahnya. 


Darah Dewa tiba-tiba mendidih saat melihat Irfan sedang mengusap-usap punggung istrinya. Dengan langkah lebar dia berjalan menuju tempat mereka berdiri, dan tanpa babibu lagi Dewa langsung memanggul istrinya. 


"Dia istriku! Mulai sekarang menjauhlah dari Rubyku!" Ucapan Dewa dengan lantang dan tegas kepada Irfan. 


"Aaaaa! Kamu apa-apaan sih?" Ruby memukul punggung suaminya, dia begitu malu jadi pusat perhatian para pegawai yang sedang berada di sana. 


Tapi sepertinya Dewa tidak peduli, bahkan ia seperti tak mendengar teriakan istrinya yang begitu memekakan telinga. 


"Diam!" Dewa menepuk dengan keras bokong Ruby yang berada di atas pundaknya. 


"SAKIIIIIT!" Ruby semakin berteriak. 


"Makanya diam!" Dewa kembali menepuk bokong Ruby dengan lebih keras. 


"Kalian mau ikut ambulans?" Tanya Ryu saat kembali ke dalam lobby, yang sepertinya tadi sedang menunggu kedatangan Dewa di ambulans. "Hisst, disaat genting seperti ini kalian masih saja pamer kemesraan." 


"Aku menyusul dengan mobil." Sekali lagi Dewa menepuk bokong istrinya agar Ruby diam. Dia membawa panggulannya yang adalah istrinya sendiri hingga ke parkiran, didorongnya tubuh Ruby agar duduk diam kursi penumpang. 


"Kamu apa-apaan sih? Aku malu tau." Sinis Ruby. 


"Jangan banyak bicara, pegang sabuk pengamanmu dengan kencang. Kita harus segera sampai ke rumah sakit. Persiapkan juga dirimu, karena malam ini aku akan menghukummu sampai kamu memohon ampun." 

__ADS_1


Dewa pun membawa mobil kebanggaannya dengan kecepatan penuh, rasa khawatirnya terhadap Nathan membuatnya tak memperdulikan jeritan Ruby yang memintanya untuk mengurangi kecepatan. 


Nathan sudah ditangani para petugas medis saat Dewa datang, tak lama berselang istri Nathan yang bernama Gea datang menyusul mereka. 


"Bagaimana kondisinya?" Tanya Gea dengan bibir gemetar menahan tangisnya. Kekhawatiran nampak jelas di wajah ayu wanita cantik itu. 


"Sudah lebih baik. Cuma kami belum mendapatkan hasil tes darahnya dari labnya." Ryu yang menjawab. "Tapi melihat kondisinya yang pulih dengan cepat, sepertinya dia hanya kurang istirahat."





Ruby sangat merasa bersalah kepada Dewa dan Nathan karena telah berpikiran negatif. Parahnya dia berpikiran bahwa kedua pria itu memiliki hubungan yang tidak wajar. 


"Kamu jangan sakit ya!" Bisik Ruby pada suaminya setelah mereka berada di ruang rawat inap Nathan, melihat betapa khawatirnya istri Nathan membuat Ruby ketakutan bila hal itu terjadi pada suaminya. 


"Kamu pikir suamimu ini alien. Setiap makhluk bernama manusia pasti mengalami sakit." Jawab Dewa  sambil mengelus rambut Ruby, meredam kekhawatiran di wajahnya. 


Kondisi Nathan sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, bahkan sekarang dia sudah bisa menggoda istrinya yang sejak tadi terlihat begitu khawatir akan kondisinya. 


"Bun, tolong jelasin sama perempuan di samping Pak Dewa itu siapa aku. Tega-teganya dia menganggap aku berselingkuh sama suaminya." Sindir Nathan yang sedang disuapi buah-buahan oleh istrinya. 


Mendengar penuturan suaminya Gea malah terbahak-bahak, hal itu mengingatkannya pada kejadian beberapa tahun lalu saat dia baru bekerja di kantor Dewa sebagai salah satu sekretarisnya. 


"Dulu aku juga berpikiran begitu." Ucap Gea disela gelak tawanya. 


"Maksud kamu?" Kali ini Nathan yang dibuat mengerutkan kening. 


"Iya, waktu dulu aku juga pernah berpikiran kalian itu pasangan sesama jenis." Lanjut Gea, tanpa berusaha menghentikan tawanya. 


"Sebenarnya apa sih yang ada di otak kalian para perempuan sampai-sampai berpikiran hingga sejauh itu." Dewa benar-benar tak habis pikir. 


"Karena cuma kalian pria-pria yang tak pernah aku lihat jalan dengan seorang perempuan. Kemana-mana selalu berdua, kadang aku liat kamu kesel banget sama Pak Dewa sampe Pak Dewa ngomong aja kamu cuekin. Dulu aku pikir kamu lagi ngambek sama Pak Dewa." Gea masih terus saat mengingat kejadian itu. 


"Kalaupun aku gay, gak akan mau aku pacaran sama orang macam dia. Yang ada darah tinggi mulu bawaannya punya hubungan sama orang macam itu." Nathan ketus. 


Ruby manggut-manggut menyetujui ucapan Nathan. "Emang bikin darah tinggi." Cicit Ruby. 


"Tapi kok kalian bisa sampe nikah?" Ruby penasaran. 

__ADS_1


"Takdir." Jawab Nathan. 


"Enak aja. Ceritain dong gimana kamu pepet aku terus dulu sampe aku gak punya jawaban untuk bisa nolak cinta kamu!" Sindir Gea pada pria yang duduk di atas ranjang pasien. 


Ruby makin penasaran dengan cerita cinta pasangan suami-istri di hadapannya. "Ceritain Mbak!" 


Sedangkan Dewa hanya memutar bola matanya, karena dialah saksi bagaimana mereka bisa bersatu. 


"Aku tuh nyelametin kamu supaya kamu berhenti jatuh cinta sama orang sinting!" Sindir Nathan. 


"Sialan." Dewa langsung melempar sepotong buah apel ke arah pasien yang istrinya suguhkan. 


Ruby semakin bingung melihat suaminya yang tiba-tiba marah. "Maksudnya gimana sih?"


"Istri aku itu tadinya naksir sama Pak Dewa, lah aku kan tau itu sama kayak nungguin ayam jantan bertelur." Jelas Nathan. "Jadi aku cuma nyelametin kamu dari sakitnya patah hati."


"Perempuan mana yang gak naksir sama Pak Dewa? Semua karyawan perempuan di kantor juga mendambakan jadi istrinya. Tampan, mapan, dengan kekayaan yang gak akan abis tujuh turunan. Perempuan mana yang gak naksir?" Ucapan Gea membuat Dewa tersenyum lebar. "Cuma satu kekurangan, narsisnya bikin aku mual tiap hari."


"Ayo kita pulang!" Ajak Dewa saat mendengar ucapan terakhir Gea.


"Jangan dulu, ceritanya belum beres. Aku bahkan belum tau cerita bagaimana mereka sampe nikah." Ruby menarik lengan suaminya agar kembali duduk di sampingnya. Seperti keinginan Ruby, Dewa pun kembali duduk walau dengan wajah malas. 


"Aku masih gak percaya, kalau Pak Dewa bisa bertekuk lutut sama perempuan." Gea masih tak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Aku? Bertekuk lutut? Pada perempuan ini? Hahahaha." Dewa tertawa garing. Ingat egonya masih sangat menjulang sampai saat ini. Jadi mana mungkin seorang Dewa mau terang-terangan mengakui bahwa dirinya tergila-gila pada seorang wanita, walaupun itu istrinya sendiri. 


Ruby mendesis mendengar ucapan suaminya.


"Aku jadi penasaran, bagaimana cara si Arogan saat meminta itu." Nathan malah berfantasi. 


"Dia tidak pernah minta, tapi langsung aja merobek celana dalam aku." Sinis Ruby. 


"Hei apa yang kamu—" Dewa melotot ke arah Ruby supaya istrinya tutup mulut. 


"Apa? Emang itu kenyataannya setiap malam kamu—Emmmp!" Dewa buru-buru menutup mulut istrinya. 


"Ayo kita pulang!" Dewa mendorong paksa tubuh Ruby tanpa melepaskan tangannya dari mulut sang istri. "Jangan terlalu lama disini, nanti kita ketularan penyakit rakyat jelata."


"Kami pulang!" Pamit Dewa sebelum mereka keluar dari kamar sang pasien, tanpa memperdulikan wajah protes istrinya. 


Vote!

__ADS_1


Vote!!


Vote!!!


__ADS_2