
Dewa langsung menelpon istrinya saat sadar salah satu berkas pentingnya tertinggal di apartemen.
"Ada apa?" tanya Ruby tanpa basa-basi.
"Dokumenku tertinggal di meja depan. Tolong antarkan kesini," jawab Dewa dengan tergesa-gesa. "Cepat sekarang juga!"
"Tapi aku belum pakai baju. Masa aku ke kantor hanya dililit anduk?" keluh Ruby.
"Jangan mengotori kesucian otakku dengan ucapan mesummu itu!" bentak Dewa yang langsung memvisualisasikan bentuk tubuh istrinya.
"Dasar otakmu saja yang sudah tercemar!" Sindir Ruby. Telpon pun ditutup dengan sebuah cibiran di bibir Ruby.
Sekitar satu jam kemudian Ruby sudah berada di lobby perusahaan suaminya. Kali ini para resepsionis langsung menyapa dan menyambut kedatangan istri pemilik perusahaan itu.
"Selamat siang Bu. Ada yang bisa kami bantu?"
"Oh iya. maaf kalo bisa jangan panggil aku Ibu, panggil Ruby aja. Aku gak biasa dipanggil Ibu oleh orang yang lebih tua dari aku." Ruby tersenyum manis. "Aku hanya ingin memberikan dokumen ini."
Ruby menyerahkan sebuah map hitam tebal kepada resepsionis itu.
"Nona!" panggil Nathan.
"Eh, iya? Apa kamu mau ambil ini?" tanya Ruby sambil memperlihatkan dokumen yang ia bawa.
"Iya. Saya takut Anda tak tahu tempat rapat kami, jadi saya niatnya menunggu Anda disini," jawab Nathan sambil mengambil dokumen dari tangan Ruby. "Silahkan tunggu di ruangan Bapak. Rapatnya hanya sekitar satu jam, jadi silahkan Anda beristirahat di ruangan Bapak."
"Ah, gak usah. Saya mau pulang aja," jawab Ruby.
"Baik Nona. Mari, saya permisi dulu." Nathan pun segera berlalu.
"Mari saya juga mau langsung permisi dulu." pamit Ruby pada kedua resepsionis membuat mereka salah tingkah melihat betapa hormatnya Ruby.
"Ah, iya Nona. Sampai jumpa lagi."
"Hati-hati di jalan!" sambung yang satunya.
Ruby pun membalas dengan senyum sebelum meninggalkan keduanya.
"Ruby!" Suara yang begitu familiar di telinga Ruby memanggil namanya.
__ADS_1
Benar saja, pria itu adalah pria yang sangat ia kenal dan pernah sangat dekat dengannya dulu. Irfan. Dia kini sedang berjalan tergesa-gesa menghampirinya.
"A'Irfan?" Ruby terkejut bisa bertemu mantan terindahnya di perusahaan sang suami.
"Kamu lagi ngapain disini?" tanya Irfan yang juga terkejut melihat Ruby disana.
"Nganter berkas suami aku yang ketinggalan di rumah," jawab Ruby.
"Suami kamu kerja disini juga?" Irfan tak tahu jika lantai perusahaan yang sedang ia injak itu adalah milik suami dari mantan kekasihnya.
"Ah. Iya." Ruby bingung menjelaskannya. "Tadi A'Irfan bilang 'juga' kan? Emang A'Irfan kerja disini juga?"
"Baru kemaren aku diterima kerja, ini hari pertama aku mulai kerja disini Tapi sekarang lagi ada rapat, jadi aku belum ketemu sama atasan aku. Soalnya yang kemaren interview aku itu asistennya." Irfan menjelaskan. "Duduk dulu disini, temenin aku dulu aja ya, sambil nunggu rapat." Irfan menggiring Ruby untuk duduk di sofa yang ada di lobby tersebut.
Walaupun sedikit risih, tapi Ruby yang memang memiliki sifat tak enak menolak permintaan orang lain memilih menuruti permintaan Irfan. Toh mereka pun hanya sekedar mengobrol. Pikir Ruby.
Mereka mengobrol seperti biasa, tanpa ada terselip niat terselubung dari keduanya. Karena Irfan pun sudah mengikhlaskan Ruby. Kalo bukan jodoh mau bagaimana lagi? Tapi tak bisa dipungkiri masih ada sedikit rasa sukanya pada Ruby, yang kini terlihat semakin cantik dan berkelas.
Mereka berbincang, dan kadang bercanda tawa kala mengingat kejadian lucu yang pernah terjadi di kehidupan mereka dulu.
"Siang Honey!" Suara Dewa menghentikan tawa Ruby.
"Kamu udah beres?" tanya Ruby yang terkejut karena Dewa tiba-tiba saja mengecup keningnya
Dewa pun tak habis pikir mengapa sang mantan terus saja mengikuti istrinya. Dia seperti penguntit.
"Perkenalkan Pak, dia ini adalah Kepala Staf keuangan baru yang direkomendasikan oleh Pak Rehan." Ucapan Nathan membuat Dewa dan Irfan terkejut.
Dewa tak tahu jika Irfan adalah calon karyawan yang harusnya ia interview kemarin, tapi karena insiden sakitnya Sandra, jadilah Nathan yang menginterview Irfan kemarin. Sedangkan Irfan tak pernah menyangka jika pria yang berstatus suami mantan kekasihnya adalah pemilik perusahaan tempat ia bekerja sekarang.
"Apa kalian sudah saling mengenal?" tanya Nathan melihat raut wajah terkejut dari keduanya.
"Iya. Kami sudah pernah bertemu di kampung Ruby," jawab Dewa seperti malas membahas bagaimana mereka bertemu.
"Kita makan siang?" ajak Dewa pada istrinya.
"Boleh. Aku juga emang sudah lapar."
"Yuk! Sebentar lagi aku harus mempersiapkan keberangkatanku."
__ADS_1
"Ayo 'A, mau ikut makan siang sama kita?" ajak Ruby basa-basi.
"Dia masih jam kerja. Belum waktunya makan siang. Cuma aku satu-satunya manusia yang bebas keluar masuk perusahaan ini." Dewa yang menjawab sambil merangkul pinggang istrinya, seolah memberitahu Irfan jika wanita yang pernah ia cintai itu kini sudah menjadi miliknya.
Mereka pun pergi meninggalkan Irfan dan Nathan tanpa ucapan apapun.
•
•
•
"Kenapa kamu tidak memberitahu kalau pria kampung itu bekerja di perusahaanku?" bentak Dewa, pada siapa lagi jika bukan Nathan. "Kamu tau kan standar karyawan di perusahaan ini sangat tinggi. Jadi, kenapa kamu sembarangan saja menerima orang kampung itu!"
"Irfan maksud Bapak?" Nathan pura-pura tak tahu. Walaupun sebenarnya dia sudah tahu siapa Irfan, karena saat makan siang tadi Irfan memberitahunya jika Dia itu adalah mantan kekasih dari istri sang CEO.
"Jangan sebut nama dia!" bentak Dewa yang dirinya sendiri pun tak tahu mengapa dia sangat marah.
"Memang dia itu masih sebangsa dengan Voldemort yang namanya tak boleh disebut?" Sang Asisten durjana itu seperti memancing kemarahan Dewa. Melihat pria narsis itu kesal adalah moodbooster baginya.
"Saya sudah memeriksa latar belakang pendidikan dan kualitas kerjanya di perusahaan sebelumnya. Kualifikasi dia sangat cocok untuk perusahaan kita. Wajahnya pun rupawan, sangat cocok bagi kesejahteraan karyawan wanita yang bekerja disini. Pasti para karyawan wanita akan betah bekerja disini." Nathan malah memuji Irfan.
"Hei, para karyawan wanita betah kerja disini karena mereka mempunyai CEO yang begitu tampan dan kharismatik seperti yang ada di film-film Hollywood. Jadi akulah yang membuat mereka betah kerja disini."
"Lalu saya harus bagaimana?"
"Pecat dia!" bentak Dewa.
"Haaaaah?" Nathan terkejut. "Apa saya harus membacakan isi kontrak untuk para karyawan kepada Anda?" sindir Nathan.
Dia pikir gampang apa memecat karyawan?
"Bisa tidak sekali-kali kamu menurut kepada atasanmu ini? Harga diriku selalu turun bila ada di hadapanmu," gerutunya.
"Baiklah saya akan memecatnya. Dengan alasan karena tidak boleh ada mantan terindah istri Anda yang bekerja disini," ucap Nathan sambil pergi meninggalkan Dewa yang semakin emosi karena ucapannya.
"NATHAAAAAN!"
...Vote! Vote! Vote!...
__ADS_1
...Biar Otor soleha semangat up lagi hari ini.. ...
...🤗🤗🤗...