
Kebahagiaan karena limpahan perhatian dan kasih sayang yang Dewa berikan selama ini kepadanya, membuat Ruby lupa akan tujuannya menikah dengan Dewa adalah ingin memberi cucu kepada Sandra, wanita yang begitu ia sayangi hingga ia rela melepaskan cintanya untuk menikahi Bule Sableng yang begitu ia sayangi sekarang ini.
Ruby yang larut akan lamunannya sampai tidak memperhatikan jika pria yang juga tengah memperhatikan raut wajahnya yang tak seceria saat ia tinggalkan.
Sebuah kecupan mengembalikan kesadaran Ruby dari lamunannya. Dewa pelakunya, siapa lagi orang yang berani sembarangan menciumnya?
"Kamu kenapa?" Pelukan hangat Dewa dari belakang membuat sudut hati Ruby semakin berdenyut sakit.
"Melda hamil," jawab Ruby sambil menghela nafas panjang.
Sekarang Dewa tahu penyebab wajah cantik itu murung. Istrinya sedang memikirkan tentang seorang bayi.
Bayi?
Apa Dewa benar-benar membutuhkan seorang bayi?
Dia sendiri pun tak yakin, karena baginya dengan Ruby ada di sampingnya saja sudah membuat dirinya bahagia, Ruby seperti warna baru yang ia temukan untuk memenuhi warna hidupnya yang membosankan. Bekerja, bekerja, dan bekerja hingga dia lupa bagaimana rasanya bisa mencintai seseorang, hingga akhirnya sosok Cerewet itu datang.
"Wah itu kabar gembira buat bibimu. Sebentar lagi dia akan menjadi nenek." Dewa mempererat pelukannya sambil menatap langit siang yang begitu terik lewat kaca jendela di tempat mereka berdiri.
"Aku juga mau," ucap Ruby lirih.
"Jadi nenek-nenek?" Pelukannya semakin erat.
"Punya bayi. Aku mau punya bayi juga!" rengek Ruby mendengar pertanyaan konyol suaminya.
"Bagaimana kalo kita mencobanya disini?" Kali ini Dewa mulai menciumi leher istrinya kemudian ke kuping dan berpindah lagi ke leher.
"Setiap malam kita itu, tapi kenapa aku belum hamil juga? Apa masalahnya? Apa mungkin aku seperti yang sering kamu bilang dulu?" Suara Ruby bergetar menahan tangis.
"Apa?" Ternyata Dewa sudah melupakan semua ucapan dan ejekannya kepada Ruby. Jelas, dia begitu menikmati setiap sudut tubuh istrinya.
"Ladang Gersang!"
Kali ini sudut hati Dewa yang berdenyut sakit, dia begitu menyesali umpatannya kepada Ruby dulu. Bahkan di hari pertama mereka bertemu pun Dewa sudah mengatainya Ladang Gersang.
"Siapa yang bilang itu kepadamu? Ckckck, jahat sekali orang itu! Katakan padaku siapa pelakunya?" Dewa pura-pura lupa.
"Kamu!" Bentak Ruby yang kini membalikkan tubuhnya.
"Kapan? Aku tak ingat. Mana mungkin pria baik dan dermawan ini mengatai istrinya seperti itu? Buktinya hari ini saja aku sudah mengajakmu terbang 2 kali." Dewa menyelipkan rambut Ruby yang terurai.
"2 kali?" Ruby mencoba berpikir.
"Pertama dengan helikopter, yang kedua dengan jari-jari suci ini."
__ADS_1
Ruby langsung merona mendengar ucapan mesum suaminya, dia kembali teringat kelakuan mesum suaminya beberapa saat lalu.
"Dasar Mesum!" Ruby menoleh ke arah lain.
"Tapi kamu suka! Ya kan?" Dewa mengoda wanita yang sedang gundah gulana itu.
"Kamu apa-apaan?" Ruby memukul punggung suaminya yang tanpa aba-aba membopong tubuhnya.
"Ingin memeriksa ladangku!" jawab Dewa dengan seringai mesumnya.
"Ini kantor!" Ruby mendorong dada suaminya yang kini berada di atas tubuhnya.
"Aku tau!"
"Aku capek!"
"Aku belum, bahkan untuk tiga kali pertempuran pun aku masih sanggup," jawab Dewa sambil meraih remot kemudian mengarahkannya ke dinding untuk menutupnya kembali.
Nathan yang baru saja masuk dan ingin mengajak atasannya makan siang di luar langsung berdecak melihat dinding yang menjadi pintu masuk itu menutup perlahan.
"Apa yang akan kalian lakukan di kantor siang-siang begini? Dasar pasangan Mesum!" Dia pun kembali keluar dengan tak henti menggelengkan kepalanya.
Di dalam sana Dewa sedang melucuti bajunya sebelum membuka gaun istrinya.
"Apa yang kamu lakukan Mesum?" Dewa menaikan salah satu alisnya melihat Ruby ikut melepaskan pakaiannya.
"Aku gak mau pulang tanpa celana dalam lagi," ucap Ruby sinis.
Dan siang yang terik itu semakin panas oleh kegiatan panas kedua makhluk yang saling mengatai mesum satu dengan lainnya.
Setelah mendengar rengekan yang tak henti-henti dari mulut istrinya akhirnya dengan terpaksa Dewa mengantarkan istrinya untuk pergi ke dokter spesialis kandungan, dengan tanpa sepengetahuan Sandra, karena Dewa takut memang ada sesuatu yang salah dengan kondisi mereka. Dia masih belum siap melihat kekecewaan di wajah Mommynya.
Sepasang suami-istri itu langsung menemui dokter kandungan hanya untuk sekedar berkonsultasi awal sebelum dia merujuk mereka untuk melakukan tes kesuburan dari masing-masing pasangan.
Ruby yang terlebih dahulu melakukan pemeriksaan awal dengan Dewa yang selalu berada di sampingnya.
"Aku gugup." Ruby terus menggenggam erat tangan suaminya, dengan wajah penuh ketakutan.
"Tatap saja wajah suamimu, karena aku yakin ketampananku akan menghilangkan semua kecemasanmu." Dewa mencoba menenangkan kegugupan istrinya dengan kenarsisannya, dan hal itu memang selalu berhasil menarik kedua sudut bibir istrinya untuk tersenyum.
Hari pertama Ruby melakukan tes ovulasi. Tes yang dilakukan dengan pengambilan darah ini bertujuan untuk menentukan apakah dirinya berovulasi dan menghasilkan sel telur secara teratur atau tidak.
Sedang Dewa setelah melewati tes pemeriksaan fisik, ia melanjutkan dengan tes kesuburan pria. Tes yang mencakup tes analisis sperm*, USG, tes pemeriksaan hormon, biopsi testis, pemeriksaan Chlamydia dan yang terakhir adalah tes genetika.
Dan hari itu Dewa melakukan analisis sperm*, yang telah ia siapkan sesuai perintah sang dokter.
__ADS_1
Ternyata tes pemeriksaan itu tidak selesai hanya dengan satu hari, hampir sekitar dua minggu mereka melakukan prosedur tes kesuburan itu.
Proses yang cukup panjang untuk kedua insan itu lewati, walaupun Dewa terlihat enggan melakukan semua prosedur kesehatan itu, tapi demi Ruby ia rela meluangkan waktu berharganya untuk ikut melalui semua prosedur tes yang membuatnya selalu berdesis tiap kali akan melakukannya.
Aku tidak butuh bayi, aku hanya butuh kamu. Ingin sekali dia mengatakan semua itu pada Ruby.
Hal serupa pun dialami Ruby, bukan perkara mudah bagi Ruby melewati semua prosedur tes, tapi demi buah hati yang begitu ia inginkan juga dukungan Dewa yang selalu setia menemaninya, Ruby bisa melewati semua tes dengan baik, mulai dari tes ovulasi, pemeriksaan cadangan sel telur pada ovarium yang diawali dengan pemeriksaan hormon di awal siklus menstruasi. Dilanjutkan dengan tes hormon seperti salah satunya pemeriksaan hormon tiroid yang biasanya turut mempengaruhi proses reproduksi. Tapi semua itu belum memberi jawaban mengapa Ruby sulit hamil. Hingga akhirnya dokter spesialis kandungan melakukan tes hysteroscopi yang membuat Ruby begitu ketakutan pada hari itu.
"Aku ada disini!" Dewa menggenggam tangan istrinya dan duduk dengan setia di samping ranjang pemeriksaan Ruby.
"Apa harus memasukkan benda itu? Aku takut." Ruby masih merapatkan kakinya. Karena kali ini dokter kandungan akan memasukkan alat khusus melalui leher rahim untuk memantau kondisi rahim dan memeriksa apakah ada kelainan pada rahimnya.
Dokter muda cantik itu tersenyum melihat ketegangan di wajah cantik pasiennya yang semakin erat menggenggam tangan suami tampannya yang begitu setia menemaninya di setiap sesi pemeriksaan.
"Tenang saja, jangan khawatir. Alatnya sangat kecil. Masih jauh besar gajahmu!" Bisikan Dewa membuat dokter dan kedua perawat pendamping yang ada di ruang pemeriksaan itu tersenyum dan mungkin ikut membayangkannya juga.
"Hist, dasar Mesum!" Ruby mencubit lengan kekar dengan guratan otot-otot yang menonjol.
"Tarik nafas!" titah sang dokter.
Ruby pun mengikuti perintahnya.
"Iya bagus, sekarang keluarkan perlahan lewat mulut!" lanjutnya.
"Rileks saja, ini tak akan sesakit malam pertama kita." Dewa masih berusaha membuat istrinya tersenyum dengan guyonan mesumnya.
Ruby mengigit bibir bawahnya saat merasakan alat itu mulai masuk ke area pribadinya. Rasanya cukup nyeri dan berdenyut dibagian perut bawahnya. Hingga air matanya pun menetes menahan nyeri yang ia rasakan.
"Ibunya rileks aja supaya gak sakit. Jangan tegang!" Seorang perawat ikut memberi pengarahan.
"Lihat aku, aku ada disini. Jangan takut, ini tidak akan menyakitimu!" ucap Dewa, berusaha menenangkan istrinya.
Dan akhirnya setelah melakukan tes terakhir itu, dokter itu langsung dapat menyimpulkan penyebab mengapa mereka belum ada janin yang bersemayam di rahim gadis cantik itu.
Hayo kira-kira apa penyebabnya ya???
Kepo yaaaaa?!
Jangan lupa ritualnya Shaaaaayyy!!!!
...Like! ...
...Komen! ...
...Vote! ...
__ADS_1
...Vote!! ...
...Vote!!!...