Love Me Boy!

Love Me Boy!
Alasan Dewa


__ADS_3

Mentari sudah berada di ujung barat, saat Ruby dan Dewa pamit pulang kepada keluarga Ruby, seperti bersembunyi dibalik gunung yang tetap menjulang kokoh dengan berbagai situasi yang menimpanya, seperti sedang mengejek Ruby yang terlihat begitu berat meninggalkan keponakan cantiknya. 


"Mel, ikut kita aja yuk! Aku gak rela banget ninggalin Caca." Dia kembali mencium bayi dalam dekapannya. 


"Ngaco!" Melda mengambil putrinya dari dekapan sepupunya. "Aku do'ain semoga kalian cepet beres bulan madunya supaya bisa cepet punya bayi juga!" Doa Melda, tulus. 


Dewa mengernyit mendengar ucapan Melda, apa istrinya tidak menceritakan kejadian sebenarnya kepada keluarganya? Apa dia begitu menjaga nama baiknya agar tak dicap sebagai salah satu jenis manusia aneh? Si Cerdas Dewa tak tahu jawabnya. 


"Amien," jawab Ruby, mencium bayi Melda sekali lagi sebelum akhirnya dia benar-benar pamit pergi. 


Sebulan yang menakjubkan, merasakan kerinduan yang teramat sangat kepada gulingnya, namun mendapatkan banyak pengalaman yang belum pernah dia lakukan, apalagi jika bukan ikut mengasuh putri Melda. 


"Kita ke rumah Mommy aja yuk! Aku kangen," ucap Ruby saat mobil mereka sudah bersatu dengan kendaraan lain di jalanan kota.


"Oke." Dewa tak membantah. Dia bisa melihat ada kesedihan yang sulit istrinya bagi bersamanya, dan Dewa pun tahu pasti apa itu penyebabnya. 


Hampir tengah malam saat mobil berwarna merah Dewa terparkir di pekarangan rumah sang Mommy. Sudah lebih dari setengah jam juga kedua orang dalam mobil itu tak menampakkan diri keluar dari dalam mobil, karena pikiran Dewa sedang berkecamuk, ada rasa sesak yang sulit diungkapkan mengapa? Ada kepedihan yang sulit diungkapkan dengan kata, hanya dengan melihat wajah istrinya yang tengah terlelap. 


Sebuah usapan lembut di pipinya membuat seseorang yang terlelap itu membuka matanya, senyum tanpa arti pun terbit saat melihat pria yang sedang memandang lekat wajahnya, seolah sedang menyelami hatinya. 


"Kita udah sampe rumah Mommy?" Suaranya masih sangat serak dan lengket. 


"Hemm." Dewa langsung mengalihkan tatapannya. "Tapi kayaknya mereka sedang sibuk dengan mimpi-mimpinya." Dewa masih duduk di balik kemudi. 


Sejak tragedi pembahasan perihal program bayi tabung yang Mommynya rekomendasikan untuk mereka, Dewa belum pernah berkunjung lagi ke sana. Sandra pun tak pernah menghubunginya selain saat menerima pesan salah kirim Ruby.


"Yuk!" Ruby yang turun lebih dulu. 


Tapi Dewa masih terlihat enggan beranjak dari mobilnya. "Aku janji, aku gak akan bahas soal anak lagi," ucap Ruby ketika dia membukakan pintu mobil suaminya. 


Walaupun senyum masih terpasang di wajahnya, tapi Dewa bisa melihat ada kekecewaan yang teramat dalam di mata Ruby saat mengucapkannya. Lagi-lagi itu membuat Dewa didera rasa tak nyaman. 


Suasana rumah itu sudah sangat hening, keduanya langsung saja masuk ke kamar mereka yang ada di lantai dua. 


"Kamu kenapa sih?" tanya Ruby, melihat suaminya tak seperti biasanya. 

__ADS_1


"Hanya lelah." Dewa mengelak, karena dirinya sendiri pun tak mengerti perasaan apa yang sedang mengungkungnya sejak meninggalkan rumah Ruby. 


"Istirahat duluan aja, aku mau ganti baju dulu."


Saat itu juga Dewa menarik pinggang kecil Ruby, menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher jenjang istrinya, menghirup aroma parfum yang telah menyatu dengan aroma tubuh wanita yang begitu ia cintai. 


"Terimakasih, kamu mau kembali. Terimakasih, kamu mau terima kebodohanku. Terimakasih, kamu bersedia menjadi istriku. Terimakasih kamu hadir dalam hidupku." Kata-kata itu meluncur dengan mulus dari mulut Dewa yang biasanya hanya berisi sanjungan-sanjungan untuk dirinya sendiri. 


Ruby tak menjawab, karena menurutnya tak ada kata-kata yang lebih mewakili perasaannya saat itu. Perasaan bahagia yang begitu sulit untuk didefinisikan, hingga ia sadar bahwa kebahagiaannya adalah bisa dimiliki seorang pria bernama Sadewa. 







"Tadi malam, jam—" 


"Aku tidak bicara denganmu." Sandra memotong begitu saja ucapan putranya. "Aku tidak mau bicara dengan keturunan penjajah." Ketusnya. 


Akbar tersedak makanannya, mendengar kata-kata istrinya. "Maksud Mommy?" Akbar memicingkan matanya, Sandra salah sasaran, malah Akbar yang tersinggung. 


"Maksud Mommy, bukan Papi, tapi pria Bule Sipit itu!" 


"Kami datang jam setengah dua belas, semalam, Mommy sama Papi mungkin udah tidur." Ruby menjelaskan, "aku kangen Mommy," lanjutnya. 


"Sama, Mommy juga kangen kamu." Sandra tersenyum ke arah menantunya, setelah sebelumnya mengarahkan tatapan mata tajamnya ke arah putranya. Sandra masih sangat kesal dengan sikap putranya yang menurutnya sangat tidak wajar. Dulu dia bersikeras tidak ingin menikah, dan setelah Sandra berhasil menjebaknya dalam sebuah pernikahan yang harmonis, kini Dewa tak ingin memiliki bayi? Apa sih sebenernya yang ada di otak putranya itu? 


Rasa aneh dan tak nyaman yang sejak semalam menyelimuti dirinya semakin menghimpitnya, saat dirinya merasa diabaikan oleh kedua orang tuanya. Sandra sibuk mengobrol dengan istrinya, dan memang sengaja tak pernah menjawab pertanyaan yang ia ajukan, sedangkan Akbar sibuk dengan gadget yang pastinya sedang tenggelam bersama angka-angka yang menunjukkan kemajuan perusahaan miliknya.


"Mom, bukan aku gak mau memiliki bayi—" Semua orang yang ada di meja makan langsung menghentikan aktivitas mereka, bahkan beberapa orang pembantu yang ada di dapur ikut mencuri dengar, sebab mereka juga begitu penasaran dengan alasan putra majikan mereka yang seperti tak menginginkan kehadiran anak dalam rumah tangganya. 

__ADS_1


"Kamu gak usah menjelaskan apapun!" Ruby menggenggam tangan Dewa. "Karena aku udah gak butuh penjelasan dari kamu," ucap Ruby, begitu tulus. 


"Biar aku jelasin alasan aku yang sebenarnya sama kalian. Karena selama ini juga aku tidak pernah memberikan alasan apapun." Dewa menarik tangan yang sedang digenggam istrinya, membalikkan posisi mereka, karena kali ini dia yang menggenggam tangan Ruby. 


Sedangkan kedua orang tua itu hanya menunggu jawaban putra mereka. 


"Aku tau aku dinikahkan dengan Ruby karena Mommy ingin segera memiliki cucu, begitu pun Ruby yang mau menikah dengan pria ini hanya ingin membuat kalian bahagia, dengan memberikan kalian cucu, aku juga menginginkan itu, tadinya.—" Dewa menarik nafas dalam-dalam. "Dan aku yakin kalian juga tau kondisi Ruby yang mengalami penyumbatan di tuba falopinya, karena aku yakin kalian memiliki banyak CCTV yang mengawasi kita. Tapi apa Mommy tau perjuangan Ruby selama melakukan pengobatan kemarin?"


Sandra hanya terdiam, karena memang dia tidak melihat sendiri proses pengobatan istri putranya tersebut. 


"Dia harus menahan rasa sakit setiap kali pemeriksaan, mengonsumsi obat-obatan yang tidak sedikit tiap harinya, kadang aku melihat sendiri saat dia jengah, harus mengkonsumsi banyak obat dan vitamin. Tapi Ruby sangat menginginkan kalian bahagia dengan memberikan kalian bayi. Aku juga juga ingin itu, tapi bukan perkara mudah untuk aku melihat secara langsung semua yang Ruby lalui untuk kesembuhannya, tapi aku harus menyemangatinya, mendukungnya dan juga menguatkannya. Dan sebuah berita bahwa Ruby telah sembuh itu adalah sebuah kabar yang sangat menggembirakan untuk aku. Karena aku tak harus lagi melihatnya tersakiti di depan mata kepalaku sendiri." Tegasnya, seraya menghembuskan nafas kasar, sebelum melanjutkan ucapannya. "Melihat dia merasa minder saat orang lain menyinggung soal anak, hal itu juga membuat aku sakit, tapi pada kenyataannya bayi itu belum juga bersemayam di perutnya. Sebelum Mommy menyarankan program bayi tabung, hal itu bahkan pernah terlintas dalam benak aku untuk melakukan prosedur bayi tabung, sebelum aku menikahi dan menggaulinya."


Kedua orang tuanya tercengang mendengar penuturan putranya, karena Dewa sampai berfikir sejauh itu karena begitu menghindari bersentuhan dengan seorang wanita.


Tapi untuk sekarang jangan ditanya lagi, sebab menyentuh Ruby adalah candu untuknya. 


"Apa Mommy tau prosedur yang harus dilalui dalam program bayi tabung?"


Sandra menggeleng, bahkan Akbar yang tak ditanya pun ikut menggeleng. 


"Itu sangat rumit dan begitu menyakitkan untuk beberapa orang perempuan dan aku tak mau melihat penderitaan istriku lagi." Tegas Dewa. "Jadi jangan pernah lagi menyuruh kami melakukan program itu. Karena aku tak akan setuju." Dewa langsung meninggalkan ruang makan setelah menjelaskan alasannya tanpa menghabiskan makanannya. 


...Siapa nih yang masih setia baca cerita Otor Soleha sampe episode ini? ...


...Jangan lupa ritual sehabis baca! ...


...Like! ...


...Komen! ...


...VOTE! ...


...VOTE! ...


...VOTE! ...

__ADS_1


__ADS_2