
"Siapa yang datang?" Tanya Ruby pada suaminya saat dia baru selesai membersihkan diri.
"Mertuamu yang cerewet." Jawab Dewa.
"Tadi itu mommy?"
"Siapa lagi. Emang kamu punya berapa ibu mertua?"
"Hisst. Terus sekarang mommy dimana?" Ruby mengambil alat pengering rambut.
"Masih di ruang tengah."
Ruby buru-buru mencabut kembali alat pengering rambut dan hanya menyisir rambutnya dengan tergesa-gesa. "Kenapa gak bilang kalau mommy masih ada." Ruby beranjak dari meja riasnya.
Dewa mencekal lengan istrinya. "Aku bilang sama mommy kalau tadi kamu sedang kurang sehat. Awas kalau kamu salah ngomong!"
"Apa? Emang kamu mau apa kalau aku bilang sama mommy kalau tadi itu aku lagi kamu hukum?" Tantang Ruby.
"Aku akan menghukummu lagi." Dewa tersenyum sambil menaikan sebelah alisnya.
"Kalau gitu aku akan bilang sama mommy, supaya aku dapat hukuman lagi." Ruby pun membalas kemesuman suaminya.
Sandra terlihat sedang berkeliling ruang tengah saat Ruby menghampirinya, setelah sebelumnya ia melihat-lihat kondisi dapur yang sedikit berantakan, ada udang di dalam wastafel yang baru dibersihkan sebagian, bawang yang belum selesai diiris dan beberapa bahan masakan yang tergeletak di atas meja dapur. Sandra dapat menyimpulkan jika mereka akan membuat makan siang mereka.
"Mommy!" Seru Ruby saat melihat Sandra memperhatikan pajangan kristal yang kini bersih dari debu.
"Halo sayang." Sandra menyambut pelukan menantu kesayangannya yang terlihat segar dengan rambut basahnya.
"Maaf tadi aku—" Ruby melirik ke arah Dewa dengan sedikit senyum seolah sedang menantangnya. "Aku kurang sehat."
Dewa langsung bisa bernafas lega mendengar ucapan istrinya, rasa gengsinya ternyata masih setinggi Himalaya. Dia masih malu mengakui jika dirinya begitu menyukai Si Cerewet Ruby.
Sandra hanya mengangguk dengan menahan senyumnya, sebab barang bukti masih berada di tempat kejadian perkara.
"Ayo duduk mom, bagaimana kalau kita makan siang bersama." Usul Ruby. "Dewa baru aja akan—" Kemudian dia langsung menahan tubuh mertuanya agar tidak duduk di sofa saat dia melihat bra yang dilempar Dewa tadi masih tergeletak di bawah meja.
"Mom, kita ke dapur aja yuk. Kita temani Dewa masak."
Ruby langsung menyenggol tubuh suaminya dan memberi kode agar Dewa melirik ke bawah meja.
Dewa langsung membelalakan mata saat melihat bra putih milik istrinya yang ia lempar tadi.
"Apa yang sedang kalian sembunyikan pada wanita tua ini?" Tanya Sandra yang sadar jika Ruby sedang salah tingkah.
"Tidak ada. Ayo mom kita—"
"Apa kalian sedang menyembunyikan bra di kolong meja itu?" Sandra langsung menusuk jantung anak dan menantunya dengan ucapannya. "Teganya kalian mengabaikan telpon dari wanita tua ini karena sibuk bersenang-senang. Aku jadi merasa sudah tak berharga lagi di dunia ini." Sandra seolah tersakiti atas perilaku mereka.
"Itu semua gara-gara Dewa mom. Dia pelakunya." Ruby langsung menuduh suaminya, bagaimanapun Ruby tak ingin disalahkan.
__ADS_1
"Hei. Kalau bukan kamu yang membuat aku kesal tak mungkin aku menghukummu!" Dewa tak mau begitu saja disalahkan.
"Hukum apa? Memang kamu suka itu. Setiap aku berbuat sedikit salah kamu selalu menghukum aku dengan itu. Kemarin aja cuma gara-gara aku kelamaan di kamar mandi, kamu tiba-tiba menghukum aku di kamar mandi. Terus waktu—" Dewa langsung menutup mulut istrinya agar tak mengumbar aibnya dirinya.
Sedangkan Sandra hanya bisa menahan tawanya mendengar ucapan menantunya yang begitu polos.
"Bohong mom. Itu tidak seperti yang kamu bayangkan." Dewa mengelak semua ucapan istrinya, bahkan dia tidak memperdulikan Ruby yang meronta-ronta dalam dekapannya.
"Ya mommy percaya." Jawab Sandra malas.
Dewa langsung tersenyum puas mendengar jawaban ibunya. Kemudian melepaskan Ruby dalam dekapannya.
"Percaya pada Ruby maksudnya. Hahaha." Sandra tertawa langtang, jarang-jarang dia bisa menjatuhkan harga diri putranya. "Aku bangga padamu Son, kamu memang mewarisi darah seorang penjajah."
•
•
•
Ruby dan Dewa melanjutkan rencana mereka berjalan-jalan berkeliling mall, walaupun malas, tapi demi kesejahteraan diri dan pusakanya, Dewa terpaksa menuruti keinginan istrinya yang menurutnya sangat aneh.
"Sebenarnya apa yang mau kamu beli?" Dewa sedikit kesal, sudah hampir satu jam Dewa hanya diajak memutar-mutar dan melihat-lihat barang-barang yang menurut Ruby lucu tapi anehnya tak satupun ia beli.
"Tidak ada. Aku cuma ingin cuci mata." Jawab Ruby tanpa rasa berdosa.
"Hei, jangan mempermalukan aku. Kalau pun kamu meminta suamimu ini untuk membelikan semua barang yang ada di mall ini, aku sanggup membelikannya untukmu. Kamu lupa jika suami kamu itu ad—"
Dewa tertawa melihat istrinya merengek sambil menggandeng tangannya. "Dasar aneh. Jadi rakyat jelata saja kamu rindukan."
"Boleh ya. Hari ini kita pacaran seperti rakyat jelata. Aku jamin seru." Ruby tersenyum riang.
"Oke. Hari ini aku akan rakyat jelata seperti istriku. Sehari menjadi seorang rakyat jelata sepertinya bukan ide buruk." Dewa kini merangkul bahu kecil istrinya. "Ayo rakyat jelata, kita ngedate hari ini."
Sepasang suami-istri dari spesies langka itu terus berjalan-jalan mengitari mall, membeli jajanan di foodcourt yang belum pernah Dewa coba rasakan sebelumnya. Ini pengalaman pertama bagi Dewa yang memang sebelumnya belum pernah berpacaran seumur hidupnya.
"Apa semua rakyat jelata gaya berpacarannya seperti ini?" Tanya Dewa saat mereka beristirahat di salah satu kedai icecream.
"Satu porsi ice cream jumbo." Ucap Ruby pada si pelayan. "Iya, bahkan dulu waktu aku masih SMA aku sering bolos cuma untuk menonton."
"Saat SMA kamu sudah pacaran?" Dewa sedikit terkejut mendengar pengakuan istrinya.
Lagi-lagi dengan polosnya Ruby mengangguk tanpa rasa bersalah sedikitpun. "Aku kan cantik, jadi banyak pria yang mengantri untuk jadi pacar aku." Jawab Ruby dengan bangga.
"Cih. Tetap saja semua pacarmu itu tak ada yang sebanding dengan aku." Si sombong kembali memuji dirinya.
"Iya lah, cuma kamu laki-laki yang sulit aku taklukkan, biasanya nih aku cukup memberi mereka senyum termanisku untuk mendapatkan mereka."
Lagi-lagi Dewa mencibir ucapan istrinya.
__ADS_1
Akhirnya dia memilih untuk tidak mencari tahu kisah kasih Ruby saat masih berstatus pelajar, mendengarnya berpacaran saja sudah membuat dadanya panas, apalagi tahu dengan gaya pacaran istrinya.
"Kita mau kemana lagi?" Tanya Dewa saat mereka selesai menghabiskan satu mangkuk ice cream dengan aneka rasa dan aneka topping itu.
"Membeli pakaian dalam." Bisik Ruby sambil berjinjit menyamarkan tinggi dengan suaminya.
Dewa melirik penuh tanya mendengar permintaan istrinya. "Pakai dalam?"
"Stok celana dalamku hampir habis karena sering kamu sobek." Ruby memasang wajah kesalnya saat harus menjelaskan mengapa dia membutuhkan pakaian dalam.
Dewa hanya tertawa, saat menyadari kelakuannya yang sering membuat celana dalam istrinya jadi korban kebrutalannya di ranjang. "Bukankah fungsi celana dalam memang seperti itu?" Jawab Dewa
Mereka memasuki toko pakaian dalam dengan merek terkenal yang hanya bisa dibeli kalangan tertentu saja.
"Aku tunggu di depan saja." Dewa tiba-tiba saja salah tingkah saat melihat berbagai macam jenis pakaian dalam dan lingerie yang dipajang di display toko.
"Anda mencari pakaian dalam atau kostum tidur?" Tanya seorang pramuniaga cantik yang sepertinya seumuran dengan Ruby.
"Sepertinya mulai saat ini aku sudah tak membutuhkan lagi kostum untuk tidur." Cicit Ruby.
"Maaf, tadi Anda bicara apa?" Tanya pegawai toko.
Ruby tak melepaskan tangannya dari Dewa, salahkan selalu merusak celana dalamnya, jadi Ruby sengaja mengerjai suaminya itu.
"Kamu suka yang mana sayang?" Ruby sengaja meminta rekomendasi dari Dewa yang saat itu terlihat sudah sangat tidak nyaman berada dalam toko tersebut.
"Terserah." Dewa sudah tidak memperhatikan berbagai jenis pakaian dalam yang ada di hadapannya.
"Aku butuh celana dalam yang tak mudah disobek." Kata Ruby pada pegawai toko yang sejak tadi terus memperhatikan suaminya.
"Maaf?" Pegawai toko itu memastikan ucapan Ruby.
"Saya cuma butuh celana dalam yang tak mudah disobek." Jawab Ruby sekali lagi.
Pegawai toko itu sontak melirik Dewa yang sedang memperhatikan ke arah lain.
"Kualitas barang kami itu yang terbaik. Kami memilih bahan dengan kualitas terbaik dan dijahit dengan sangat rapi dan—"
"Aku tau. Semua pakaian dalamku dengan merek yang sama seperti di toko ini, tapi semuanya mudah sekali disobek. Jadi aku mau yang jahitannya sangat kuat." Ruby memotong ucapan pramuniaga toko yang hendak menjelaskan kualitas barang dagangannya.
Pegawai toko itu pun pergi untuk mencari celana dalam seperti apa yang Ruby inginkan.
"Akan aku balas kamu." Bisik Dewa.
Ruby hanya mencibir ucapan suaminya seolah menantang suaminya.
"Aku lebih suka kamu menghukum aku." Balas Ruby.
Sedikit pengumuman penting, kalau seminggu ini kayaknya aku gak bisa up dulu, soalnya banyak kerjaan di dunia nyata yang bener-bener gak bisa aku tinggal.
__ADS_1
Do'ain ya, moga keriweuhan aku segera berakhir, supaya bisa up normal setiap hari lagi...
Makasih atas dukungan klean.. 🤗🤗🤗