Love Me Boy!

Love Me Boy!
Kencan Ala Sultan


__ADS_3

Tak ada kata yang Ruby ucapkan setelah dokter memberitahukan bahwa ada penyumbatan di saluran tuba falopinya. 


Tuba falopi adalah dua saluran yang memungkinkan sel telur mengalir dari indung telur menuju rahim. Dan bila saluran ini tersumbat, maka sel telur tidak akan bisa sampai ke rahim untuk dibuahi oleh sel sperm*.


Walaupun dokter mengatakan bahwa itu masih bisa diobati melalui terapi obat. Tapi tetap saja hal itu membuat Ruby berkecil hati, dia terus terlihat murung dan tidak bergairah. 


Sesampainya di apartemen pun Ruby langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa sepatah kata, bahkan saat Dewa sengaja tak menyimpan sepatunya di dalam rak sepatu Ruby tidak menggubrisnya seperti yang ia lakukan sebelum ini. 


Dewa ikut masuk ke dalam kamar mereka, walaupun ia tak tahu apa yang harus ia lakukan, tapi mungkin kehadirannya bisa membuat Ruby sedikit tenang. 


"Sini aku peluk!" Dewa membawa tubuh ramping yang selalu menghangatkannya setiap malam itu ke dalam pelukannya. 


Sesaat kemudian Dewa merasakan bahu istrinya turun naik dengan suara isak tangis yang tertahankan. 


"Menangislah, jika itu bisa membuat kamu merasa lebih baik!" Belaian lembut penuh kasih Dewa berikan untuk istrinya. 


Ucapan Dewa membuat tangis Ruby pecah. Dia menumpahkan kekecewaannya dengan tangisan di pelukan Dewa yang seperti sedang melindungi dirinya. 


Merasa mulai lebih baik, Ruby melepaskan diri dari pelukan suaminya. "Aku memang Ladang Gersang!" Ruby kembali merutuki nasibnya, membuat Dewa menjadi kembali merasa bersalah. 


"Bukan Ladang Gersang, tapi Ladangmu spesial. Bibit premium memang harus berjuang lebih keras untuk mencapai Ladangnya." 


Ucapan Dewa berhasil menarik senyum Ruby. "Alasan!"


"Jangan berkecil hati, bukannya dokter tadi bilang kalau itu masih bisa diobati, jadi selama itu kita nikmati saja masa-masa pacaran kita!" Dewa menghapus jejak tangis di wajah istrinya. "Kalau kamu pernah mengajakku pacaran ala rakyat jelata, bagaimana kalau akhir minggu ini kita pacaran ala Sultan?" Dewa menaik-turunkan alisnya. 


"Kamu aja belum pernah pacaran, jadi mana bisa kamu tau gaya pacaran ala Sultan!" Ruby mengejek pria yang terus berusaha mencetak senyum di wajah cantiknya. 


"Wah beraninya kamu menjatuhkan harga diriku. Lihat saja akan aku buat kamu terus bersyukur mempersuami aku!"


"Aku memang sudah sangat bersyukur."


"Kali ini aku akan buat kamu menjadi sangat, sangat dan sangat bersyukur memilikiku." Pria narsis itu terus menyanjung dirinya sendiri sebagai upaya memancing senyum wanitanya. 


"Aku jadi gak sabar nunggu hari itu tiba," tantang Ruby. 


"Bagaimana sambil nunggu hari itu tiba—"


"Aku lapar!" Ruby langsung memotong ucapan suaminya, karena dia tahu akan menjurus kemana lanjutan kalimatnya itu. Kemana lagi kalau bukan ke olahraga ranjang. 


Di sudut kamar lain

__ADS_1


"Tadi Frans bilang ke Papi kalau Ruby dan Dewa sedang melakukan program kehamilan," ucap Akbar pada istrinya yang seperti biasa, sedang berkutat dengan skala-skala pembuatan pola baju. 


Hitungan perbandingan yang sedang Sandra hafalkan pun langsung buyar seketika mendengar ucapan suaminya. 


"Benarkah?" Sandra berubah sumringah. 


"Tapi sebenarnya ini berita yang kurang baik." Akbar menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya. 


"Maksud Papi?" Wajah sumringah itu berubah khawatir. 


"Kata Frans, ada penyumbatan di saluran tuba falopinya, jadi sekarang dia sedang melakukan terapi penyembuhan dengan obat-obatan. Dokter kandungannya sendiri yang bilang pada Frans." Akbar duduk di sofa ruang kerja istrinya sambil menyeruput teh lemon yang selalu menjadi minuman teman makan cemilan sorenya. 


Sandra langsung lesu mendengar ucapan suaminya, terbayang olehnya wajah sedih menantu kesayangannya saat mendengar hal itu. 


"Kasiannya menantuku, aku tau apa yang dia rasakan. Ayo Pih kita ke apartemen mereka, Ruby pasti sedang sedih sekarang ini. Si Bule Sableng itu mana tau cara menenangkan hati menantuku!" Sandra bersungut-sungut. 


"Justru sebaiknya kita pura-pura tak tau saja. Biar mereka sendiri yang menyampaikan berita itu sama kita," ucap Akbar. "Dewa suaminya, sekarang dia yang lebih tau bagaimana menenangkan istrinya, biarkan saja. Tak semua urusan rumah tangga mereka kita campuri."


Sandra pasrah mendengar ucapan suaminya, betul apa yang dikatakan Akbar saat ini obat penenang Ruby adalah kasih sayang dan perhatian Dewa, tapi masalah apa bisa makhluk bernama Dewa itu melakukan semua hal yang bisa membuat Rubynya tenang? Pikiran Sandra semakin kalut. 


Ini akhir pekan yang begitu ditunggu-tunggu oleh Ruby, karena seperti ucapan Dewa beberapa hari lalu bahwa dia akan mengajaknya berpacaran ala Sultan. 


Cih, ala Sultan. Pacaran seperti orang pada umumnya saja kamu belum pernah. Pikir Ruby saat Dewa menyampaikan niatnya. 


Dengan celana pendek berwarna putih dan kemeja panjangnya yang juga dengan warna yang sama, Dewa keluar dari kamar gantinya membuat Ruby yang baru selesai mandi bingung. 


"Kok kamu pake baju itu? Katanya kita mau pacaran ala Sultan!" Walaupun Dewa terlihat tetap mempesona tapi itu di luar ekspektasi Ruby. 


"Kamu mau aku tak pakai baju?"


"Ck. Kenapa sih kamu selalu belok ke situ?" cibir Ruby. "Katanya kita mau pacaran ala Sultan! Aku kira kamu akan pakai tuxedo kayak di film-film."


"Memang film apa yang kamu tonton Nyonya Dewa?" Dewa mendorong bahu kecil perempuan yang masih dibalut handuk dengan telunjuknya. "Cepat ganti baju. Ini sudah siang!"


Ruby pun langsung bergegas ke kamar ganti. Walaupun pertanyaan dalam hatinya masih belum bisa dijawab Dewa. 


"Dewa! Aku harus pakai baju apa ini?" teriaknya. 


"Gaun santai saja!" balas Dewa yang kini tengah duduk di ranjang sambil berteriak juga. 


"Seperti apa?"

__ADS_1


"Apa saja!"


"Kalau aku pakai kostum kelinci apa boleh?" goda Ruby saat melihat kostum kelinci yang Dewa belikan beberapa bulan lalu. 


"Kamu mau pacaran ala Sultan, apa itu ala Sultan?" Dewa membalas godaan istrinya. 


Itu ala Sultan? Emang Sultan kalau itu seperti apa?


Ingin sekali dia bertanya hal konyol itu, tapi buru-buru ia urungkan niatnya, bisa-bisa suaminya akan membatalkan kencan mereka demi memberitahukan itu ala Sultan yang ia maksud tadi.


Satu jam berlalu, mereka sudah berada di tengah teriknya jalanan ibu kota. 


"Sebenernya kita mau kemana sih?" Ruby semakin penasaran, karena setiap kali ditanya mereka akan kemana, Dewa hanya tersenyum tanpa bisa diartikan maksud dari senyumannya itu. 


Kali ini pun sama Dewa hanya menjawab pertanyaan istrinya dengan senyum. 


"Kita ke pantai?" Seru Ruby saat melihat hamparan luas air laut dari jalan raya. 


"Bukan!"


"Terus?" 


Mobil Dewa berhenti. "Dermaga."


"Ngapain?" Ruby menaikan sebelah sudut bibirnya saat mendengar jawaban suaminya. Karena yang terbayang olehnya adalah tempat kegiatan bongkar muat barang dan naik turunnya orang-orang dari atas kapal.  


Tapi raut wajah Ruby tiba-tiba berubah saat melihat kapal pesiar dengan ukuran yang cukup besar ada di hadapannya dengan Nathan dan keluarga kecilnya berdiri menyambut mereka dari atas sana. 


"Kita jalan-jalan naik kapal laut?" bola mata itu masih memandang takjub apa yang di hadapannya. 


"Ini kapal pesiar. Kenapa kamu seenaknya saja menjatuhkan kualitas kapal pesiar mewah milik keluargaku ini?" Dewa sewot. 


"Bagiku sama aja." Ruby tak peduli. 


"Hei, beda lah. Kapal laut itu digunakan—"


Ruby yang berjalan beberapa langkah di depan Dewa langsung balik arah. "Kamu cerewet! Tapi aku sangat, sangat, sangat beruntung memilikimu. Kamu seperti suami peri buat aku." Ruby memeluk erat tubuh berdada bidang suaminya sebelum akhirnya dia menangkup wajah Dewa dengan memberikan ciuman yang bertubi-tubi ke semua sudut wajah pria bule bermata kecil itu. 


...Masih penasaran sama kisah mereka? ...


...Otor soleha tunggu like, komen n votenya ya gengs... 🤗🤗🤗...

__ADS_1


__ADS_2