
Sudah lebih dari sebulan Ruby mencari tahu bagaimana tahapan-tahapan yang harus dilewati untuk melakukan program bayi tabung, tepatnya setelah Ruby menengok Yuki setelah dia melahirkan bayinya yang sebelumnya memang telah melakukan program kehamilan tersebut sebagai salah satu cara untuk mendapatkan bayi.
Banyak yang ia cari tahu, karena jika mendengar ucapan Yuki, program bayi tersebut tidak sesakit apa yang ia bayangkan dan ia dengar dari orang-orang yang telah melakukannya. Ruby makin penasaran dan terus mengulik tahapan-tahapan program bayi yang bisa menghabiskan biaya yang sangat banyak itu.
Kali ini Ruby bercerita kepada Sandra tentang niatnya, tapi sebelumnya mereka mencari tahu lebih jauh lagi agar bisa meyakinkan Dewa, dan keduanya memilih untuk merahasiakan rencana tersebut.
•
•
•
•
•
Berita tentang niat Dewa dan Ruby untuk melakukan program bayi tabung atau secara medisnya disebut dengan in vitro fertilization sudah terdengar ke telinga kedua orang tua Dewa, mereka begitu antusias dan ikut memberi dukungan penuh kepada anak dan menantunya hingga Sandra memaksa untuk kedua orang yang baru pulang dari liburannya itu untuk pindah ke kediaman mereka.
Sandra tak menyangka jika putranya sendiri yang menawarkan program untuk mendapatkan bayi tersebut sebelum Ruby meminta. Tapi Sandra yakin jika semua itu Dewa lakukan bukan karena dia begitu merindukan tangis suara bayi, tapi karena hanya ingin membahagiakan istrinya agar bisa menjadikannya seorang wanita seutuhnya.
Kebahagiaan yang Dewa inginkan hanya bisa membahagiakan istri dan orang tuanya, terutama Mommynya Sandra, hingga dia memilih untuk memberi izin istrinya untuk mengikuti program kehamilan melalui proses bayi tabung yang pastinya akan cukup sulit dengan prosedur yang sangat rumit.
Sekali lagi, Dewa harus berjuang menguatkan istrinya saat dia harus melewati berbagai macam pemeriksaan yang rumit dan juga menyakitkan. Tapi anehnya untuk saat ini tak pernah sedikitpun terdengar keluhan yang keluar dari mulut istrinya, dan Dewa yakin Ruby sengaja menahan keluhannya untuk menjaga perasaannya.
"Apa sakit?" tanya Dewa setelah melihat Ruby berusaha tegar setelah melakukan pemeriksaan genital yang biasanya membuat Ruby meneteskan airmata. Tapi tadi, tak ada keluhan juga rengekan yang biasa keluar dari bibir istrinya.
"Tak sesakit dulu, mungkin karena aku udah biasa," jawab Ruby, dia berdusta.
"Karena biasa digarap gajah?" goda Dewa, sengaja menghilangkan ketegangan istrinya.
"Dasar Mesum!"
"Kita mau makan di luar atau di rumah?" Kembali Dewa mencari tahu apa yang diucapkan istrinya benar adanya atau hanya ingin menyembunyikan rasa sakitnya.
__ADS_1
"Pulang aja," jawab Ruby sambil mengatur posisi kursinya.
Dan Dewa langsung bisa menyimpulkan bahwa istrinya memang menyembunyikan rasa sakitnya.
Memang tak semua wanita merasa sakit saat melakukan proses pemeriksaan genital tersebut, tapi bukankah kadar rasa sakit yang bisa ditahan oleh setiap orang itu berbeda-beda? Begitu juga Ruby, saat orang-orang bilang pemeriksaan itu tak sesakit yang dibayangkan, tapi bagi Ruby sakitnya lebih dari yang dia bayangkan dulu.
Dewa lebih memilih untuk tidak mempermasalahkan hal itu. Dia membantu istrinya mengatur posisi duduknya dengan lebih merendahkan posisi sandaran kursi. Dan sepanjang perjalanan, Dewa memilih diam karena sepertinya Ruby sedang tak ingin diajak bicara.
...****************...
Proses selanjutnya adalah prosedur stimulasi ovarium yang bertujuan untuk meningkatkan jumlah sel telur yang akan diproduksi oleh ovarium. Karena semakin banyak jumlah sel telur yang bisa diambil selama proses bayi tabung maka akan semakin besar juga persentase kehamilan si Ibu.
Setiap harinya Ruby akan mendapatkan suntikan stimulasi yang akan dilakukan oleh Dewa, karena dia harus mendapatkan suntikan dengan jarak dua jari di bawah perutnya. Jadi mau tidak mau Dewa lah yang harus melakukannya, mau tak mau, berani tak berani, tega tak tega Dewa harus melakukannya.
"Pelan-pelan!" ucap Ruby dengan wajah panik saat melihat jarum suntik sudah berada di tangan suaminya. Ruby gugup, karena ini kali pertama dia akan disuntik oleh orang yang tidak berprofesi di bidang kesehatan.
"Aku akan menyuntikmu selembut menyuntikmu saat malam pertama kita." Dewa menaik-naikkan kedua alisnya dengan cepat.
"Jangan becanda terus! Kamu bisa mastiin gak akan salah suntik kan?" Ruby masih menahan tangan suaminya yang sedang memegang jarum suntik.
"Jangan becanda terus, ini bukan waktu yang tepat untuk becanda. Ayolah Dewa!" Rengek Ruby.
"Iya, iya, berdoa saja yang banyak, semoga aku tak ikut merobek celana dalam merahmu yang kamu pakai sekarang setelah menyuntikan ini." Dewa menatap kain segitiga berwarna merah yang Ruby kenakan.
"Udah ah, aku mau minta tolong Mommy aja." Ruby menutup gaun yang ia singkap tadi.
"Mommy takut jarum suntik. Apa kamu tak tahu? Kamu mau menjadi korban malpraktik mertuamu?" Dewa menahan istrinya, dengan menduduki kaki Ruby dan kembali menyingkap gaunnya.
"Apa ini celana dalam kamu yang baru? Aku baru melihatnya. Kenapa kamu harus memakai celana dalam yang menggoda ini disaat aku sedang berpuasa?" Kali ini sebelah tangan si Mesum yang bebas meraba-raba perut hingga pada mulus istrinya.
Dewa seolah tidak memperdulikan istrinya yang meronta-ronta akibat kelakuan nakal tangannya. Walaupun sebenarnya ia juga sedang berusaha mengurangi rasa gugupnya saat akan hendak menyuntikkan cairan itu ke perut sang istri, dia yang biasa ikut merasa tak nyaman saat melihat istrinya disuntik menjadi semakin gugup karena kali ini dia sendiri yang harus menyakiti istrinya.
Dan setelah merasa keterangannya perlahan memudar, Dewa pun menyuntikkan jarum suntik itu ke tempat yang semestinya tanpa memberi aba-aba terlebih dahulu kepada istrinya.
__ADS_1
Jerit Ruby lepas tak tertahankan, saat merasakan jarum suntik menancap di perutnya, tadinya ia akan berusaha sekuat mungkin untuk menahan rasa takut dan sakitnya, tapi ternyata Dewa menyuntiknya tanpa memberikan aba-aba.
"Kamu kenapa Honey? Apa itu sangat sakit?" Karena wajah istrinya terlihat sangat pucat dalam hitungan detik setelah mendapatkan suntikan darinya.
Memang, ada rasa tak nyaman yang langsung Ruby rasakan setelah cairan itu bersatu dengan darahnya, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, juga dadanya terasa sedikit sesak.
Apa ini hanya efek samping dari obat ini?
Apa semua wanita mengalaminya? Ruby hanya bisa menggumam.
"Honey?" Ruby mendengar suara suaminya tiba-tiba menjauh.
"Honey?" Kemudian dia merasakan cahaya mulai meredup.
"Ruby, come on, tetaplah terjaga Honey!" Ruby merasakan tubuhnya yang tiba-tiba lemah diangkat oleh suaminya.
Dan setelah itu dia sudah tak mengingat lagi kejadian selanjutnya.
Dewa membawa tubuh istrinya yang tak sadarkan diri keluar dari kamarnya, dia berlari seolah tak merasakan berat beban tubuh yang ia bawa.
"Ada apa ini?" Sandra yang sedang berada di teras rumah sambil menunggu kedatangan suaminya ikut panik melihat tubuh menantunya yang tak sadarkan diri.
"Aku juga tak tau kenapa." Air mata Dewa menetes tanpa bisa dia tahan saat harus menjawab pertanyaan Sandra.
"Biar Sopir yang bawa mobil, kamu jaga Ruby di kursi belakang!"
Dan dalam hitungan menit Dewa, Ruby dan Sandra sudah berada di tengah jalan raya kota malam.
...Aduh ini Ruby kenapa lagi sih? ...
...Drama banget deh idupnya...
...🤦♀️🤦♀️...
__ADS_1
...Jangan lupa, like, komen and Vote Manteman!!!!...
...🤗🤗🤗🤗...