Love Me Boy!

Love Me Boy!
Calon Presiden


__ADS_3

Kehamilan Ruby langsung dirayakan oleh hampir seluruh warga di kotanya, ingat, bukan hanya warga kampung tapi warga kota, karena setelah kepulangan Ruby dari rumah sakit, Dewa langsung mengutus Nathan dan dua orang bawahannya yang lain agar berbicara pada kepala pemerintahan setempat untuk menyewa alun-alun kota untuk dijadikan tempat diadakannya pesta rakyat yang rencananya akan diadakan selama 7 hari. Tapi tak lupa sebelumnya dia mengunjungi kediaman Ibu Fatma yang beberapa hari lalu menjadi tersangka hingga harus ditahan oleh kepolisian. 


Awalnya Ibu Penjual Rujak itu tak mau menemui Sadewa yang datang ke rumahnya untuk meminta maaf, tapi saat melihat uang kompensasi yang Dewa tawarkan untuknya, senyum pun langsung terbit dari wajah Ibu Fatma. Tak apalah harus merasakan malu dan merasakan dinginnya tinggal beberapa jam di balik jeruji besi jika kompetensi yang ia terima bisa mencukupi biaya hidupnya hingga lebih dari satu tahun ke depan. 


Sandra dan Akbar datang dengan helikopter yang tadinya akan menjemput Ruby dan Dewa beberapa malam lalu. Saking senangnya Sandra bahkan membagikan bonus kepada seluruh karyawannya sebagai rasa syukurnya. 


"Kamu mau apa Sayang?" tanya Sandra yang sekarang sangat overprotective melebihi Dewa, karena sejak kemarin dia terus saja berada di dekat menantunya. 


"Aku cuma mau minum Mom, aku baik-baik aja," jawab Ruby, karena sepertinya rasa mual jarang menghampirinya, tak seperti Ibu hamil lainnya. "Dewa kemana?"


"Dia sedang rapat online dengan beberapa rekan bisnisnya di teras depan."


"Yang lain?" Ruby menanyakan keberadaan Akbar, Nathan dan juga dua orang lainnya yang Nathan bawa. 


"Mereka sedang ke kantor Bupati, karena sepertinya mereka tak mengizinkan kita mengadakan pesta rakyat di Alun-alun kota." Ada nada kesal dari cara bicara Sandra. 


"Uang akan mempermudah apapun Mom." Dengan penuh percaya diri Ruby mengucapkannya. 


"Aku berharap cucuku akan memiliki sifat penyayang dan lemah lembut sepertimu, tapi sepertinya Si Bule Sableng itu telah lebih dulu menurunkan sifatnya kepada cucuku," cicit Sandra.


...****************...


Kesenangan dan kesusahan datang silih berganti di kehidupan kita sebagai manusia, tak selama orang mengalami kesenangan dalam hidupnya begitupun sebaliknya. Biasanya jika kita sedang dalam fase berbahagia kita akan mengucap syukur  dan berbagi kebahagiaan dengan orang-orang sekitar agar mereka ikut bergembira dengan kebahagiaan yang sedang kita rasakan. Seperti halnya Dewa yang akan merayakan rasa syukurnya atas hadiah yang Tuhan berikan dengan  membagi-bagikan uang dan sembako untuk seluruh warga desa. 


"Punten, Neng Ruby Ibu mau tanya," ucap seorang wanita paruh baya saat dirinya mendapatkan bingkisan dari Ruby dan Dewa. 


"Apa Bu?"


"Itu Si Aa Bule Kasepnya, kandidat Bupati nomor urut berapa?"


"Iya Neng!" seru ibu-ibu yang berdiri di sebelahnya.


"Ibu juga penasaran," ujar ibu lainnya.


Sepertinya warga kampung salah mengartikan niat baik Dewa yang tiba-tiba saja membagikan sembako kepada seluruh warga kampung.


Dewa tertawa garing mendengar ucapan para geng daster yang masih betah berada di kediaman istrinya itu. 


"Oh, Si Aa gak nyalon Bupati Bu, tapi—"

__ADS_1


"Oh jadi Si Bapak Bule nyalon Gubernur?" ucap lainnya yang langsung memotong ucapan Ruby. 


"Bukan, bukan!" Seraya mengibas-ngibaskan tangannya. "Bukan jadi Gubernur juga, tapi—"


"Ya Allah Gustiiiii! Di kampung kita mau ada calon Presiden?" Mereka salah tangkap. 


"Alhamdulillah!" seru yang lainnya. 


"Moga-moga Bapak Bule kepilih jadi Pemimpin Negara ini," imbuh yang lain. 


"Ikut bangga punya calon pemimpin negara dari kampung kita. Gak kebayang kampung kita jadi sorotan media, terus terkenal ke seluruh negeri."


"Saya akan jadi Pencoblos pertama!" Salah seorang dari mereka begitu bersemangat.


"Pokoknya mah kita semua janji akan jadi Pencoblos Bapak Bule."


"Tapi kalau Bapak berkenan, dicoblos balik pun saya rela," ucap salah seorang ibu bernama Zeni yang memang terkenal mesum di kampungnya.


"HUUUU!!" Semua menyoraki kemesuman Bu Zeni, atau mungkin mereka juga ingin seperti Bu Zeni. Entahlah.


"Kalau sampe Bapak Bule kepilih jadi Presiden, saya bakal majang foto Bapak di rumah saya."


"Yakin deh negara kita pasti bakal terkenal ke seluruh penjuru dunia karena punya Presiden yang kasep."


"Iya, saya juga pasti akan pasang foto Bapak Bule kalau ke pilih di pemilu nanti."


"Dan pastinya kita dengan suka rela majang poto Bapak Bule di rumah kita masing-masing."


Ruby semakin jengah dengan persepsi para ibu-ibu yang kini sedang berkolaborasi akan membentuk tim sukses Calon Presiden di Kampungnya.


"Bagaimana ini?" bisik Dewa. 


"Biarlah. Mungkin ada baiknya kamu nyalon Presiden untuk periode yang akan datang." Ruby malah ikut mendukung ide bodoh tersebut. "Sepertinya aku akan mulai perawatan kulit mulai saat ini, karena pastinya aku juga akan jadi sorotan media," lanjut Ruby kemudian masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan orang-orang yang sedang sibuk menyusun strategi kemenangan untuk calon Presidennya nanti. 


Sandra dan Akbar hanya bisa geleng-geleng kepala melihat putranya sedang dikerumuni para ibu-ibu yang sekarang malah antri meminta foto. 


...****************...


Akhirnya Dewa berhasil lolos dari kerumunan ibu-ibu yang kini menamakan dirinya adalah Ibu-ibu Pencoblos Sadewa, sebuah nama yang unik untuk sebuah tim sukses Calon Presiden. 

__ADS_1


"Kamu tega ninggalin aku di depan sendirian," gerutu Dewa saat melihat istrinya malah sedang sibuk menyantap rujak buah mangga buatan Bibinya di dapur. 


"Aku pusing liat mereka," jawab Ruby tanpa melepaskan pandangan matanya pada sepiring irisan mangga muda yang membuat siapa saja akan mengeluarkan liur saat melihatnya. 


"Kamu baik-baik aja kan?" Dewa khawatir. 


"He'em." Ruby mengangguk. 


"Ini rujak dari Bu Fatma?" tanya Dewa melihat rujak kali ini tidak diaduk dengan kuah sambal gula merah melainkan dicolek. 


"Bu Fatma Pensiun, kamu gak liat sekarang dia lagi rehab rumahnya." Ruby mulai merasakan pedas. "Minum!"


Dewa langsung memberikan gelas jus jambu yang ada di meja. 


"Emang kamu kasih dia berapa sebagai tanda permintaan maaf?"


"Cuma beberapa rupiah," jawab Dewa tak menjelaskan berapa nominal angka yang ia berikan. "Sudahlah! Nanti kamu sakit perut!" Dewa khawatir melihat wajah dan bibir istrinya yang sudah memerah. 


"Tinggal berobat, suami aku kaya, kamu lupa itu?"


Dewa tercengang mendengar jawaban istrinya, bahkan sekarang sudut bibirnya menarik ke atas. "Bukan begitu—"


"Berisik! Nanti aku mual lagi nih." Ancam Ruby. 


Oh God, mengapa Rubyku yang polos dan pemalu menjadi seperti ini? 


"Mommy sama Papi kemana?" Dewa menengok kanan-kiri mencari keberadaan kedua orang tuanya. 


"Entah, mungkin lagi pesen baliho sama poster buat kamu," jawabnya asal. 


"Ruby, please! Jangan bicara seolah aku memang sedang mencalonkan diri menjadi Presiden!" Dewa gelisah. 


"Biar aja. Aku suka mereka menggunjingkan berapa beruntungnya Ruby si Yatim-piatu yang cantik jelita ini, menjadi Calon Ibu Negara mereka." Ruby bangkit setelah melahap habis sepiring rujak mangga muda yang menggiurkan itu. "COBLOS SADEWA!" serunya membuat Sadewa makin morang-maring karena ulahnya. 


...Hayo siapa diantara klean yang mau ikutan nyoblos Bapak Bule Sipit itu? ...


...Pendukung Dewa, mana suaranya??? ...


...😂😂...

__ADS_1


__ADS_2