
Ruby sedang menangisi benda berharga miliknya yang sudah rusak karena kecerobohannya. Ponsel yang baru beberapa bulan lalu dia beli harus pecah di depan mata kepalanya sendiri.
"Dasar baju-baju sial*n!" Ruby merutuki tumpukan baju suaminya yang sedang ia tata di dalam walk in closet.
Awalnya Ruby hanya ingin menyimpan baju Dewa yang baru dikirim dari binatu, tapi setelah dia melihat kondisi ruang penuh pakaian dan aksesoris mahal itu begitu berantakan tak beda jauh dengan kondisi kamar Dewa yang beberapa lalu, Ruby pun berniat merapikan pakaian-pakaian suaminya yang berserakan.
Dan tragedi pun dimulai saat panggilan telepon berbunyi yang ternyata dari Sandra. Entah mengapa ponselnya tertinggal di rak baju bagian atas. Dia lupa memasukkannya lagi ke dalam sakunya kembali setelah melihat jam di ponselnya.
Ruby melompat untuk menggapainya bukan lagi menaiki bangku kecil yang tadi ia gunakan.
Braaaakkk!
Ponsel baru miliknya terjatuh dengan kondisi tertelungkup hingga mengakibatkan layarnya pecah. Sontak hal itu membuat Ruby histeris hingga menangis tersedu-sedu.
Ponsel Ruby kembali berbunyi, tapi bukan dari Sandra melainkan dari suaminya yang beberapa hari lalu sudah kembali bekerja. Dengan malas dan sedikit kesulitan dia mengangkat panggilan itu, karena sepertinya touchscreen ponselnya jadi bermasalah.
"Halo!"
Dewa mendengar ada yang tidak beres dengan suara istrinya. "Kamu kenapa?" Tanyanya sedikit khawatir.
Bukannya menjawab Ruby malah kembali menangis dengan kencang membuat Dewa semakin khawatir.
Apa dia sudah tak betah di rumahku? Pikir Dewa.
"Ada apa?"
"Ponsel aku rusak."
Fiuuuhhh..
Dewa kembali bisa bernafas lega, sebelumnya dia takut jika Ruby ingin meminta cerai saat usia pernikahan mereka belum genap 2 minggu.
"Kamu seperti seorang istri rakyat jelata. Kamu lupa siapa suamimu?" Keangkuhan Dewa kembali terdengar oleh Ruby, dan itu semakin membuatnya kesal
"Si Pemilik kandang b*bi." Jawab Ruby ketus. Kalau saja Dewa menempatkan pakaiannya pada tempatnya tak akan mungkin tragedi itu terjadi. Pikir Ruby.
"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu!" Bentak Dewa hingga Ruby harus menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Datang ke kantorku, aku akan mengganti ponsel murahanmu dengan ponsel yang layak untuk seorang istri Dewa miliki."
Ruby tak menjawab dia masih kesal karena kelakuan suaminya.
"Oh iya, bawakan map berwarna biru yang ada di meja depan. Cepat! Sebentar lagi aku ada rapat."
"Baiklah." Ruby akhirnya pasrah.
•
•
•
Ruby telah tiba di perusahaan besar suaminya, ada rasa minder dalam dirinya kala memasuki lobi perusahaan milik Dewa.
__ADS_1
"Ada yang bisa kami bantu?" Tanya seorang resepsionis dengan ramah yang dulu pernah juga menyapanya seperti itu.
Ruby semakin minder, berarti tidak ada yang tau jika dirinya adalah istri pemimpin perusahaan yang memperkerjakan mereka.
"Aku hanya ingin mengantarkan dokumen kepada Bapak Sadewa."
Seorang dari mereka menelpon sekretaris Dewa.
"Beliau sedang di ruang rapat. Nanti petugas kami akan mengantarkan dokumen ini kepada beliau."
Ingin rasanya Ruby memberitahukan jika dirinya adalah istri dari seorang Sadewa, tapi dia takut mereka tak ada yang mempercayai dan malah mencemoohnya.
"Terima kasih. Boleh aku menunggu disini?" Tanya Ruby lagi.
"Silahkan. Jika kami boleh tau Mbak mau menunggu siapa ya?" Tanyanya dengan ramah.
"Suami saya." Jawab Ruby dengan seutas senyum yang dipaksakan.
🍃Satu jam kemudian 🍃
"Kemana Ruby?" Tanya Dewa pada asistennya Nathan.
"Tidak ada Nona disini. Memang dia kesini?" Nathan bingung.
"Memang siapa yang mengantarkan dokumen tadi? Aku yang menyuruhnya mengantarkannya kesini." Jawab Dewa sambil mengendurkan simpul dasinya di atas singgasananya.
"Tadi Si Gugun yang antar map itu kesini. Saya tidak tahu jika Nona yang mengantarkannya kesini."
Nathan segera menghubungi bagian resepsionis dan bertanya siapa yang mengantarkan dokumen tadi.
"Apa? Baiklah. Suruh dia untuk menunggu sebentar lagi. Saya akan menjemputnya." Ucap Nathan pada resepsionis.
"Ada apa?" Tanya Dewa saat melihat wajah gelisah Nathan.
"Nona menunggu di bawah." Nathan nampak hati-hati saat menjawabnya.
"Si Bodoh itu. Apa yang sedang dia lakukan disana? Dia seperti sedang menjatuhkan harga diriku sebagai seorang suami." Bentak Dewa sambil bergegas keluar ruangan kebesarannya.
Benar saja, Ruby terlihat sedang termenung seorang diri di sofa yang ada di lobby perusahaan.
"Apa yang sedang kamu lakukan disana Nyonya Sadewa?" Ucap Dewa dengan nada tinggi seolah sedang memberitahu pada orang-orang yang ada disana jika Ruby adalah istrinya.
Ruby terhenyak dari lamunannya mendengar suara suaminya yang memang sedang ia tunggu.
"Menunggumu." Jawabnya lugu.
Jawaban Ruby membuat kedua resepsionis langsung pucat pasi.
"Kenapa tidak naik dan menunggu di ruanganku?" Sambil duduk di samping Ruby.
"Aku takut mereka tidak percaya jika aku istrimu." Ucap Ruby dengan suara rendah.
Dewa bangkit, wajahnya langsung terlihat kesal mendengar jawaban istrinya. Ditariknya pergelangan tangan Ruby agar ikut berdiri.
__ADS_1
"Siapa yang tidak mempercayai jika kamu istriku? Apa aku harus memajang foto pernikahan kita dengan ukuran besar di halaman kantor agar para pegawaiku bisa menghormatimu?" Dewa berkata dengan suara lantang.
Kedua resepsionis langsung menghampiri Dewa dan Ruby. Mereka terlihat menundukkan kepalanya seolah malu menatap wajah Ruby.
"Maafkan kami Bu. Kami telah bersalah tidak mengenali ibu. Sekali lagi maafkan kami." Ucap salah seorang dari mereka.
Ini kali pertama dalam hidupnya ada orang yang meminta maaf dengan penuh penyesalan kepadanya hingga membuat seorang Ruby risih.
"Sudah tak usah minta maaf. Aku yang seharusnya minta maaf. Kalian juga telah memperlakukan aku dengan sangat baik. Terima kasih." Ucap Ruby yang ikut menundukkan kepalanya.
"Sudah sewajarnya mereka memperlakukanmu dengan baik. Kamu istriku, jika mereka merendahkanmu, itu sama saja mereka merendahkanku. Aku yang memperkerjakan mereka, menggaji mereka. Jadi hanya sekedar menghormatimu bukanlah pekerjaan yang sulit." Jawab Dewa sambil menarik tubuh istrinya menuju lift, tak memperdulikan permintaan maaf para pegawainya yang terlihat pucat pasi.
Nathan begitu terkejut melihat betapa marahnya Dewa pada karyawannya hanya karena masalah yang menurutnya sangat sepele.
"Itu bukan salah mereka, aku yang salah. Aku tidak memberitahu mereka jika aku istrimu." Ucap Ruby saat mereka berada di lift.
"Ingat, selama kamu jadi istriku kamu tidak berkewajiban meminta maaf ataupun berterimakasih kepada para pegawaiku. Kamu istriku. Istri seorang pria dengan sejuta pesona, dan dengan kekayaan yang tak terhitung jumlahnya. Sudah sewajarnya mereka memperlakukanmu dengan baik." Dewa memamerkan kekuasaannya.
"Tapi sejak kecil aku selalu diajarkan untuk selalu berterimakasih dan meminta maaf." Ruby menjawab ucapan suaminya.
"Ingat poin pertama dalam perjanjian kita?"
"Selama pernikahan suami atau pihak pertama adalah hukum yang harus dipatuhi." Jawab Ruby dengan malasnya.
"Pintar. Jadi jika kataku kamu jangan berterimakasih atau mengucapkan maaf kepada para pegawaiku kamu harus menurut."
"Baiklah."
"Satu lagi aku sangat tidak suka caramu berjalan, aku jadi seperti berjalan dengan seorang pembantu. Tegakkan dadamu, mantapkan langkahmu, jalan tanpa melihat kiri kanan, bahkan saat presiden ada di sampingmu kamu harus tetap fokus pada langkahmu."
"Haaaaah? Aku harus seperti itu? Jika presiden ada di sampingku pasti aku akan mengajaknya berfoto bareng." Ruby cekikikan dengan imajinasinya sendiri.
"Dasar kampungan. Biar dia sendiri yang menyapamu. Ingat kamu adalah istriku, istri seorang pria yang kekayaannya jauh melebihi seorang Presiden. Jadi kamu cukup diam saja dengan wajah angkuhmu. Belajarlah dengan mertuamu bagaimana cara menjadi seorang wanita berkelas."
"Wah, keren. Aku tak tahu jika kamu sangat dekat dengan Presiden."
"Aku tidak dekat. Bertemu pun belum pernah."
"Lalu bagaimana bisa seorang presiden akan menyapaku terlebih dahulu?" Bentak Ruby. "Dasar bodoh!"
"Kadang-kadang dia memang terlihat sangat bodoh Nona." Bisik Nathan, walaupun Dewa masih bisa mendengar ucapannya. Hingga sebuah tinju mendarat di perutnya.
Pasti pada komen kapan adegan bercocok tanamnya Tor?
Ingat ya readersku yang budiman, sucikanlah pikiran kalian dari adegan hareudang yang mambuat jiwa soleha klean meronta-ronta.
Contoh Otor soleha yang berotak suci ini. Oke?
Jangan lupa ritualnya!
Like, vote n komen..
Vote yang banyaaaaakkk!!!
__ADS_1