Love Me Boy!

Love Me Boy!
Hati-hati di sana...


__ADS_3

Sandra tidak bisa tidur dengan damai malam itu, segala doa ia panjatkan agar acara penyemaian benih berlangsung baik dan sempurna. Hingga akhirnya panggilan telepon dari Ruby datang keesokan paginya. 


"Bagaimana acara semalam Sayang? Apakah Si Bule itu berhasil menjajah mu?" Sandra bersemangat. 


"Gagal" jawab Ruby lesu sambil menyendok bubur ayam ke dalam mulutnya. 


"APAAAAA???? Bagaimana bisa gagal lagi? Kamu bilang dia sudah masuk perangkap? Apa dia meninggalkanmu lagi di tengah-tengah permainannya?" cecar Sandra. 


Ruby yang pagi itu sedang menikmati sarapan seorang diri di kedai tukang bubur di dekat apartemennya di buat lesu mendengar pertanyaan Sandra yang bertubi-tubi. 


"Iya dia meninggalkanku lagi." Ruby mengangguk walaupun tau Sandra tak melihatnya.


"Sepertinya Bule itu memiliki kelainan seksual. Aku akan mencari tau kenapa dia begitu." Sandra langsung membuat praduga yang aneh-aneh kepada putranya. 


"Bukan begitu mom!—" Ruby menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya. "Aku datang bulan disaat tak tepat."


"APAAAA?" Sandra kembali terkejut. "Bagaimana bisa bulan itu datang disaat tak tepat? Lalu bagaimana nasib Dewaku? Kamu benar-benar jahat Ruby. Oh Dewaku yang malang!" Kali ini Ruby yang menjadi objek kesalahan penyemaian. 


Sudah terbayang oleh Ruby wajah kesal dan kecewa Sandra. 


"Aku juga gak tau kalo malam itu aku datang bulan mom. Aku juga kecewa." Ruby tak ingin disalahkan. 






Malu rasanya Ruby menatap wajah Dewa, ingin rasanya dia pergi ke tempat yang jauh agar tak bertemu suaminya hari itu. 


"Apa kamu mau berendam air hangat?" Ruby terdengar sangat basa-basi saat mengucapkannya. 


"Tak perlu, " jawab Dewa sambil menaburkan sereal ke mangkuknya. 


"Maaf!" ucap Ruby sambil menundukkan kepalanya di samping suaminya yang sedang sarapan di depan TV. 


"Jangan dibahas lagi. Itu membuat aku kesal. Kamu benar-benar balas dendam dengan cara yang sangat kejam!" ketus Dewa. 


"Jangan marah. Kan aku juga gak tau kalau aku lagi datang bulan." Ruby mengiba. 


Wajar Dewa marah acara  bercocok tanam yang sudah ia harapkan gagal gara-gara sebuah noda darah di celana dalam istrinya. Dewa seperti dihempaskan secara paksa dari awang-awang saat dia sedang melayang. 


Untung lah hari itu ada banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan untuk ia pelajari sebagai materi di Filipina nanti.


Nathan datang ke apartemennya pada saat Dewa dan Ruby menyelesaikan makan siang mereka. 

__ADS_1


"Pak sepertinya jadwal penerbangan kita dipercepat, karena menurut ramalan cuaca akan terjadi hujan badai nanti malam. Jadi saya sudah menyiapkan pesawat agar kita berangkat sore ini. Tiga jam lagi kita harus ada di Bandara!" ucap Nathan saat Ruby menyuguhkan jus mangga kepadanya


"Kamu menyiapkan pesawat? Itu artinya kalian pergi dengan pesawat pribadi?" Ruby tercengang. 


"Hemmm!" Dewa yang menjawab. 


"Kamu sekaya itu?" Ruby masih tak percaya. 


"Jadi selama ini kamu menyangsikan kekayaan suamimu ini? Hah?" bentak Dewa, membuat Nathan terhenyak. 


Nathan jadi tak enak hati kepada Ruby, karena Dewa membentak istrinya di hadapannya. 


"Mungkin Nona—" 


Belum beres Nathan berbicara Dewa terlihat menarik tangan istrinya hingga jatuh ke pangkuannya dan— apa yang Nathan lihat semakin membuat dia salah tingkah. Sebelah tangan kekar Dewa menekan erat tengkuk istrinya, sedangkan tangan yang satunya merapatkan pinggang Ruby agar menempel sempurna dengan istri, dengan wajah kesalnya Dewa mencium bibir istrinya yang tak memperdulikan pukulan yang ia terima dari tangan kecil Ruby yang malu karena kelakuannya. 


"Hukuman!" ucap Dewa saat melepaskan tautannya, dengan kening yang masih saling menempel. 


"Emang aku salah apa?" Ruby bingung. Apa ini hukuman untuk kejadian semalam? Pikir Ruby 


Nathan hanya mencibir kelakuan Dewa yang tak beradab itu. Ini bukan pertama kali Nathan melihat orang lain berciuman, tapi biasanya dia hanya melihat dari layar televisi atau layar bioskop. Untuk melihat adegannya secara langsung ini kali pertama bagi ayah satu orang anak itu. 


Dasar Bule Sableng! Bisa-bisanya dia berciuman di depan mataku?


Satu jam berlalu, Nathan sudah pergi dari kediamannya, menyisakan sepasang suami-istri yang sedang merasa tak enak hati satu dengan lainnya. Terutama Rubby.


"RUBIIIIII!" Teriak Dewa dari dalam kamar ganti. 


"Pakaikan dasi!" titahnya. 


"Haaaah?" Ruby terkejut. "Bukannya kamu bisa pakai sendiri?"


"Tanganku lemas gara-gara lelah menggerayangi kamu semalam," jawab Dewa tak peduli melihat wajah protes istrinya. 


Ruby malas berdebat, dia langsung berjalan menghadap suaminya. "Bisa tundukan kepala kamu? Aku susah pasanginnya!" keluh Ruby. 


"Dasar pendek!" gerutunya. "Ayo duduk!" Dewa yang terlebih dulu duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Pendek? Kamu aja yang ketinggian. Tinggiku 165 cm, jadi aku bukan orang bertubuh pendek!" protes Ruby saat dia kembali berkutat pada dasi suaminya. 


Sebuah kecupan mendarat saat Ruby sedang menggerutu. "Berisik!"


Ruby langsung memasang wajah protes, tak terima dengan kelakuan suaminya. 


"Cepat! Suamimu ini tidak punya banyak waktu Honey!"  ucap Dewa seraya meletakkan kedua tangannya di pinggang Ruby. 


Kali ini Ruby malas protes, dia seolah tak peduli. Bahkan Dewa meremas bokongnya sambil tersenyum mesum, Ruby seolah tak merasakannya. 

__ADS_1


"Kamu sengaja ya?" pancing Dewa. 


"Sengaja apa?" Lagi-lagi simpul yang ia buat salah. Panjang dasi suaminya tak seimbang jadi lebih panjang dasi bagian belakang. 


"Sengaja mau berlama-lama dekat dengan pria sejuta pesona ini." Dewa tersenyum saat mengucapkannya, saat dia lihat istrinya sedang fokus pada pekerjaan barunya. 


"Iya, iya, aku memang terpesona sama kamu." Ruby malas berdebat. 


Sudah lebih lima kali Ruby gagal memasangkan dasi, fokusnya yang hanya pada dasinya membuatnya tak sadar jika dirinya sudah berada di pangkuan Dewa. 


"Aku nyerah!" Akhirnya setelah percobaan yang entah ke berapa kali, Ruby menyerah.


"Istriku benar-benar kampungan," cibir Dewa sambil tersenyum miring ke arah istrinya yang hanya berjarak beberapa senti dengannya. 


"Aku bisa memakai dasi, tapi aku belum pernah memasang dasi buat orang lain." 


"Dasar bodoh!" Dewa memancing emosi Ruby. 


"Udah tau aku kampungan dan bo—"


Dewa kembali mencium rakus istrinya, posisi Ruby yang ada di atas pangkuannya, membuat Dewa dengan mudahnya memeluk tubuh ramping Rubby. 


"Jangan protes! Ingat pasal pertama!" ucap Dewa seraya berjalan ke kamar sambil memasang dasinya. Kurang dari satu menit dasi itu sudah terpasang sempurna di kerah bajunya. 


Bel pintu apartemen Dewa berbunyi saat Ruby masih bersungut-sungut di ruang ganti. Nathan pelakunya, dia sudah siap menjemput suaminya. 


Dua buah koper sudah berada di ruang tengah, Dewa pun sudah siap untuk keberangkatan mereka.


"Berangkat sekarang?" Pertanyaan bodoh itu keluar dari mulut Ruby.


"Hemmm!" jawab Dewa. 


"Hati-hati disana!" ucap Ruby yang masih tak percaya jika dirinya ditinggal begitu saja di apartemen mereka, seorang diri.


"Kesini aku peluk! Aku tau kamu cuma ingin dipeluk kan?" Gengsinya masih melebihi tinggi bangunan apartemen. 


Tanpa protes yang keluar dari mulutnya Ruby mendekati suaminya dan memeluk erat guling biadabnya itu. 


"Hati-hati di rumah. Pergi ke rumah mommy kalau kamu kesepian. Jalan-jalan dan hambur-hamburkan uang suami kaya mu ini." Dewa mengecup kening istrinya sebelum pergi.


"Bonus!" lanjutnya seraya meremas dada istrinya yang terlihat menggoda. "Aku pergi! Jangan rindu!"


...Mohon maaf ya, mungkin kedepannya Otor soleha gak bisa up 2x sehari, karena dunia nyata mulai rindu keriweuhan diriku.. 🤗🤗...


...Tapi aku usahain tiap hari up kok....


...Semoga klean bisa maklum.....

__ADS_1


...Gak usah bilang makasih!!!...


...Otor ikhlas.. 🤗🤗🤗...


__ADS_2