Love Me Boy!

Love Me Boy!
Doktrin sang Oma


__ADS_3

Ini adalah tidur ternyenyak setelah lebih 20 tahun terakhir. Dewa membuka mata saat Ruby masih terlelap, di dalam pelukannya. Ya, malam itu bukan Ruby yang menjadikannya guling, tapi dia yang menjadikan istrinya guling. 


Hawa dingin dari pegunungan begitu menyegarkan otak Dewa yang memang jarang mendapatkan hawa sejuk dan segar pegunungan. 


"Dia benar-benar seorang terapis insomnia." Dewa berbicara pada dirinya sendiri sambil tertawa saat menatap wajah Ruby. 


Dewa menatap wajah damai Ruby, memperhatikan setiap inci perempuan yang tengah terlelap itu. 


"Hati dan ragaku menyukaimu, tapi mengapa pikiranku tetap tidak memilihmu?" Dewa berbicara pada dirinya sendiri.


Lagi. Ucapan neneknya kembali terngiang-ngiang di pikirannya, ucapan yang seperti sudah menjadi doktrin setiap Dewa melihat wanita. 


"Pilihlah istri yang sesuai dengan dirimu, dari mulai wajahnya, penampilannya, juga hatinya. Oma tidak mau cucu-cucu oma memiliki istri yang tidak berkualitas. Apalagi kamu yang adalah cucu kesayangan Oma, kamu adalah pria dengan ketampanan yang jarang dimiliki oleh orang kebanyakan, kamu itu perpaduan sempurna dari bibit yang disemai orang tuamu.Oma sangat tidak sudi kamu dimiliki oleh sembarang perempuan, apalagi perempuan yang tidak berkualitas. Ingatlah kualitasnya saat kamu akan mencari seorang istri."


Kata-kata itu terus menjadi nasihat wanita tua itu hingga akhir hayatnya. 


Dewa yang sejak kecil hingga dewasa lebih banyak menghabiskan waktu bersama neneknya, karena kedua orang tuanya sibuk bekerja menjadikan kata-kata neneknya itu adalah patokannya untuk setiap dia dekat dengan seorang perempuan.


Sebenarnya bukan hanya kepada Dewa nasihat itu diberikan tapi kepada semua cucu-cucunya, tapi karena Dewa adalah cucu yang sehari-harinya hidup dan dididik oleh neneknya, maka kata-kata lebih sering Dewa dapatkan dibandingkan cucu-cucunya yang lain, Dewa seperti dicekoki kata-kata itu hingga menjadi doktrin hidupnya.


Bahkan sampai saat kemarin dia akan melakukan kewajibannya pada Ruby, kata-kata perempuan tua itu kembali terngiang-ngiang. 


"Pagi gulingku!" 


Sapaan Ruby membuat Dewa terhenyak dari lamunannya. 


"Apa kamu diam-diam sedang memperhatikan perempuan cantik ini?" Goda Ruby yang masih betah merebahkan tubuhnya di ranjang sambil menatap wajah suaminya. 


"Aku hanya membersihkan liurmu." Jawab Dewa dengan ekspresi jijik. 


Mendengar ucapan suaminya, Ruby langsung menyeka bibirnya.


"Aku gak pernah ngeces!" Teriak Ruby. 


"Hei berisik, ini masih pagi, bahkan matahari pun masih malu untuk menampakkan wajah cerianya." Dewa mengingatkan istrinya. 


"Biar. Ini rumahku, apa salahnya? Aku biasa teriak-teriak di rumahku sendiri." Ruby tak mengindahkan ucapan suaminya. 


"Kamu benar-benar berisik." Dewa menghentikan ocehan istrinya. "Kita jalan pagi? Aku ingin berkeliling kampung di pagi hari. Udaranya sangat sejuk." Ajak Dewa. 


"Aku mandi dulu." Jawab Ruby.


Setengah jam kemudian sepasang suami-istri itu keluar dari kamar mereka, ternyata para keluarga sudah bangun sambil menonton acara televisi pagi. 


"Penganten baru, langsung basah aja." Goda Melda dan langsung mendapatkan teguran dari ibunya. 


Ruby yang tak menyadari jika menyampo di pagi hari akan memancing gunjingan menjadi salah tingkah. 


"Karena dia terus saja meminta itu." Jawab Dewa seolah jengah melakukan itu dengan istrinya.


"Apa sih? Orang ga ada apa-apa." Ruby salah tingkah. 


"Mau sarapan apa? Atau mau dibuatin minuman apa buat si Aa?" Bibi yang bertanya. 

__ADS_1


"Kita mau jalan-jalan pagi dulu bi, Dewa kurang asupan oksigen yang baik untuk otaknya soalnya selama ini." Ejek Ruby, membalas suaminya. 


"Ayo sayang, mari kita hirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk otakmu, agar dia bisa berpikir jernih." Ruby menggandeng lengan kekar suaminya dan menggiringnya ke luar. Disambut senyum oleh anggota keluarganya yang lain. 


"Kenapa pakai sepatu? Memang kita mau kemana?" Tegur Ruby melihat suaminya memakai sepatu. 


"Jalan-jalan berkeliling kampung." Jawab Dewa, karena memang itu niatnya. 


"Sandal kamu dimana? Kamu akan ditertawakan oleh orang-orang jika memakai sepatu hanya untuk berkeliling kampung."


"Mengapa mereka sama seperti istriku ya?" Dewa melepaskan kembali sepatunya. 


"Apa?" Tanya Ruby tak mengerti maksud ucapan suaminya. 


"Kampungan!" Jawab Dewa sambil menyerahkan kunci mobil kepada istrinya. "Ambilkan sandalku di bagasi!"


"Hissst!" Ruby mengepalkan tangannya seolah ingin meninju suaminya. 


Udara sejuk, segar plus dingin langsung menerjang tubuh keduanya yang memang jarang mendapatkan udara pagi pedesaan terutama Dewa yang sepertinya sudah sangat lama tidak memanjakan paru-parunya dengan udah yang bersih dan segar. 


"Merapatlah. Aku dingin!" Dewa menarik tubuh istrinya agar berjalan berdampingan dengannya. 


Mereka pun berjalan berdampingan seperti sepasang suami-istri baru pada umumnya, mengobrol, bercanda, saling ejek namun masih tetap beriringan. Membuat siapapun yang melihat terutama perempuan akan dibuat iri agar bisa di posisi Ruby. 


Salam, tegur dan sapa dari para tetangga dan orang-orang kampung membuat Dewa terkagum-kagum atas cara bersosialisasi mereka. Karena bagi Dewa yang hidup di kota hal itu sudah sangat jarang ia dapatkan. 


"Kita ke warung uduk teh Susi yuk! Aku laper."


"Dimana?"


"Kita makan di pinggir jalan?" 


"Ini bukan pinggir jalan, ini tengah kampung. Emang kamu liat ada mobil lalu lalang?" Ruby ketus. 


Seperti biasa, Dewa selalu jadi pusat perhatian warga kampung. Karena jarangnya mereka melihat orang asing masuk ke kampung mereka, apalagi menikahi salah satu warga kampung. Ruby yang pertama. 


"Good morning Mister!" Tegur salah seorang ibu-ibu yang memang paling genit di kampung itu. 


"Morning." Dewa menjawab sapaan wanita itu. 


"Nyarios basa Indonesia bae teh. Anjeuna Tiasaeun." Ucap Ruby. 


"Ngomong pake bahasa Indonesia aja teh. Dia bisa kok."


"Aih, si Aa udah mah kasep, pinter deui. Jadi bogoh." Wanita bernama Ririn itu cekikikan dalam imajinasinya. 


Dewa ketar-ketir, dia yang saat itu duduk di kursi panjang depan warung, tiba-tiba saja dikerumuni warga, sedangkan Ruby sedang memesan sarapan mereka. 


"Kamu mau sarapan apa sayang?" Tanya Ruby, sengaja memanggil Dewa dengan sebutan sayang. 


"Sebentar ibu-ibu." Dewa langsung menghampiri istrinya. 


"Memang ada pilihan apa saja?"

__ADS_1


"Ada uduk, ketupat sayur, bubur ayam sama bubur kacang ijo."


"Whatever you eat, I will eat too." Jawab Dewa. 


"Uduk dua teh."


"Pake gorengan teu Neng?" Tanya si penjual uduk yang bernama Susi itu.


"Kamu mau tambah gorengan?"


Dewa mengerutkan keningnya tak mengerti maksud istrinya. 


"Pisang goreng?" Tanya Dewa. 


"Hiist, bukan. Kamu mau ini? Ini itu salad goreng." Ruby memilih bakwan untuk teman sarapan mereka. 


"Aku tau kamu sedang membodohiku Honey. Itu makanan kegemaran Nathan. Tapi aku lupa namanya."


Kemudian mereka pun makan tanpa memperdulikan orang-orang yang seperti tak bosan menatap mereka. 


"Ruby?" Tegur salah seorang pria yang cukup tampan dengan penampilan rapi. 


"Eh, A Irfan." Jawab Ruby dengan sedikit terkejut melihat pria yang menegurnya. 


"Lagi pulang kampung?" Tanya pria itu lagi seperti tak memperdulikan Dewa. 


"Iya, hari sabtu kan Melda nikah. A Irfan juga lagi mudik?" 


"Kan aku juga diundang sama Melda." Jawab pria bernama Irfan itu.


Mereka pun sibuk bercakap-cakap tak memperdulikan Dewa, bahkan makanan Ruby pun terlihat tak tersentuh lagi, karena sibuk mengobrol dengan pria yang ia sebut A Irfan itu. 


"Aku selesai." Suara Dewa mengejutkan keduanya. 


Ruby gelagapan, dia lupa jika Dewa sedang bersamanya. 


"Berapa semuanya?" Tanya Dewa pada si pemilik warung. 


"20 ribu Mister."


Selembar uang pecahan lima puluh ribu pun ia berikan kepada si pemilik warung. 


"Aku pulang!" Dewa ketus.


Jeng!!


Jeng!!!


Apakah Dewa pulang karena kesal melihat Ruby mengobrol dengan A Irfan?


Ataukah Dewa sedang kebelet pipis?


Kalo pengen tau jawabannya, jangan lupa ritualnya readers ku sekalian alam..

__ADS_1


Like, komen and Vote!!!


__ADS_2