Love Me Boy!

Love Me Boy!
Rindu


__ADS_3

Dari milyaran kata di dunia ini Dewa paling membenci kata rindu. Sudah hari hari berlalu sejak Dewa pergi meninggalkan istrinya, semakin hari semakin besar rindu yang ia rasakan, ditambah lagi dengan jarangnya Dewa berkomunikasi dengannya karena kendala sulitnya mendapat jaringan di daerah pertambangan membuat rasa yang disebut rindu itu semakin menyiksanya. Tak ada perpisahan yang indah dengan orang terkasih, semua perpisahan selalu menyisakan rasa yang menyesakan dada. Walaupun hanya berpisah jarak, tapi ini begitu menyiksa.


Seperti biasa, sesampainya di hotel Dewa langsung menghubungi istrinya. 


Tak berselang lama nampak wajah dengan senyum merekah menyambutnya. Ya dialah istrinya, perempuan dengan perbedaan jarak umur 13 tahun itu selalu menjadi pengobat lelahnya. 


"Kangeeeeeeenn!" Ruby berteriak sekencangnya. 


Sama, bahkan rinduku melebihi rindumu, kuyakin itu. "Aku tau." Hanya itu yang keluar dari mulutnya. 


"Kamu gak kangen aku?" Wajah cemberut itu menghakiminya. 


"Lumayan." Si Gengsi masih saja mendominasi.


"Sudah 4 hari lewat 6 jam kamu gak telpon aku, tapi kamu cuma bilang lumayan? Jahatnya." Wajah cantik itu kini memicingkan matanya. 


Lebih tepatnya 4 hari, 6 jam, 24 menit aku begitu merindukanmu. "Ya seperti itu. Aku terlalu sibuk disini. Beruntungnya tak ada korban jiwa dalam kecelakaan ini." Dewa terlihat meregangkan otot-otot lehernya. 


"Jadi kamu udah bisa pulang?" Kali ini wajah cantik itu terlihat sumringah. 


Itu yang aku inginkan. "Sayangnya belum bisa. Masih banyak yang harus aku urus disini. Ada salah seorang penggali tambang yang mengalami cedera cukup parah, ditambah lagi aku harus bertemu dengan beberapa petinggi daerah. — Fiuuuuhh, sangat melelahkan."


Ruby terlihat menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan air mata agar tidak tumpah, dadanya seperti terhimpit benda keras saat Dewa mengatakan kalimat terakhirnya. 


Dewa tahu apa yang sedang dirasakan istrinya, karena setelah mendengar ucapannya wajah ceria itu terlihat sendu, genangan air mata terlihat di kedua matanya. 


"Kamu pasti senang jauh dariku, karena tidak ada yang merobek celana dalamu. Ya kan?" Dewa terkekeh saat mengucapkan gurauannya. 


Tapi tak terpancing gurauannya, Ruby hanya terdiam, menahan sakit yang tiba-tiba menghantam dadanya. 


"Oh iya, aku ingat. Aku masih punya hutang janji mengajakmu berkeliling dengan helikopter. Bagaimana kalau sepulang aku nanti, kita ke pergi ke kampungmu dengan helikopter? Aku yakin kamu akan dikenal oleh satu kota bukan lagi satu kampung." Dewa masih berusaha memancing senyum wanita yang ada di layar ponselnya. 

__ADS_1


"Mau kamu daratkan di sawah helikopternya?" Akhirnya Ruby mengeluarkan kata-katanya dengan air mata yang akhirnya menetes di kedua pipinya. 


Dewa pun tertawa "aku lupa kalau di tempatmu tak ada lapangan besar yang ada hanya sawah-sawah besar." 


Dan seperti itulah Dewa dan Ruby menghabiskan waktu mereka dalam percakapan yang tak penting hanya untuk melepas rindu, tapi entah mengapa rindu itu semakin membesar setiap kali mereka saling menatap lewat layar ponsel dari keduanya. 




Ini minggu kedua bagi perpisahan jarak mereka, setiap harinya Ruby memilih menyibukkan diri untuk mengunjungi butik mertuanya, sekedar membantu Sandra dan menemani mertuanya mengobrol. Hal itu berhasil mengurangi kegiatannya untuk memikirkan guling penuh kehangatan itu. 


"Belum ada tanda-tanda Dewa Junior?" tanya Sandra saat mereka makan siang bersama. 


Ruby hanya menggeleng dengan tak bersemangat. "Aku baru beres datang bulan 2 hari lalu."


"Masih terlalu dini untuk kalian memang. Mengingat Si Bule Sableng itu baru menjajahmu satu bulan terakhir kan?" Sandra menyuapkan potongan steak ke mulutnya. 


"Maaf, maaf. Mommy selalu bersemangat jika membahas episode penjajahan." Sandra menahan tawanya. 


"Udah dua hari Dewa belum memberi kabar lagi. Sepertinya dia masih berada di pertambahan. Padahal acara pernikahan Yuki tinggal sebentar lagi." Ruby menatap sendu daging bersaus barbeque yang ada di hadapannya. 


Yuki adalah sepupu Dewa dari pihak ayahnya, umurnya hanya berbeda 3 tahun dengan Ruby. Dia akan melangsungkan pernikahannya pada akhir pekan ini dengan seorang pengusaha muda yang cukup terkenal, karena dia adalah putra dari pemilik dari salah satu stasiun televisi swasta. 


"Apa suamimu akan pulang di acara pernikahan Yuki?" 


Ruby mengangkat kedua bahunya "entahlah. Kayaknya sih gak bisa deh mom. Sekarang aja urusan dia masih belum selesai."


Sandra manggut-manggut. "Sabarlah mommy yakin keturunan penjajah itu juga merindukanmu." 


"Sepertinya tidak, dia terlihat tidak terlalu bersemangat setiap kita mengobrol. Dia juga tak pernah bilang kalau dia kangen aku. Padahal kalau di rumah dia selalu bersemangat dan seperti tidak pernah lelah untuk melakukan itu. Saking bersemangatnya hampir setiap hari celana dalamku diso—" Kali ini Sandra yang menepuk tangan Ruby agar berhenti mengumbar aib suaminya. 

__ADS_1


"Haissst. Maaf mom!" Dia benar-benar malu. Dia bahkan menepuk-nepuk bibirnya.


"Bagaimana kalau mulai hari ini kamu tidur di rumah mommy, karena tiga hari lagi saudara-saudara Dewa yang berada di Jepang akan datang dan berkumpul di rumah." Ide Sandra itu disambut riang oleh Ruby. 





Acara yang dinanti pun tiba, bukan hanya kedua calon pengantin yang begitu bersemangat menyambut hari ini, tapi juga semua anggota keluarga begitu bersemangat menyambut pernikahan yang diadakan di salah satu hotel yang berada dekat dengan pantai, karena acara pernikahan ini bertemakan pesta tepi pantai. 


Dari ratusan tamu yang ada sepertinya hanya Ruby satu-satunya manusia yang tidak bersemangat dalam pesta itu, bukan karena para kerabat Dewa bersikap cuek kepadanya, mereka sangat baik pada gadis cantik itu, tapi karena Ruby sedang memikirkan suaminya, sudah hampir tiga hari tak ada kabar dari Dewa, semua chat yang Ruby kirimpun terlihat hanya bercentang satu. Di keramaian pesta pernikahan mewah ini sepertinya hanya Ruby satu-satunya orang yang merasa kesepian. Hingga dia memilih untuk meninggalkan tempat acara dan menyusuri pantai. Merasakan hembusan angin laut yang seperti sedang memainkan setiap helai rambutnya, Ruby duduk di sebuah bangku yang ada di bawah pohon rindang yang ada disana menatap sendu deburan ombak yang tak ada lelahnya berkejar-kejaran.


Sore itu air mata kerinduan Ruby kembali menetes, tiga minggu bukan waktu yang singkat untuk sebuah perpisahan bagi sepasang makhluk yang saling mencinta, ditambah dengan tak ada kabar dari Dewa selama tiga hari ini membuat dada Ruby kembali terasa sesak. 


"Bahkan sekarang setiap pria yang aku lihat seperti mirip dengan wajahnya," cicit Ruby saat melihat pria yang sedang berjalan di atas pasir. 


"Berengsek!" Ruby merutuki dirinya sendiri. "Bahkan senyumannya pun sama."


"Ruby!" teriaknya. 


Dada Ruby berdentum kencang saat mendengar suara pria yang terus tersenyum ke arahnya. Bahkan kali ini dia terlihat berlari mendekatinya. 


"Dewa?" Ruby pun ikut berlari menghampiri pria yang begitu ia rindukan. 


Dewa langsung meraih tubuh Ruby kedalam pelukannya, mengangkat tubuh ramping itu dengan menahan kedua paha Ruby agar tak jatuh. Tak ada protes apapun dari tubuh kecil yang ada di pelukannya itu, dia malah mengalungkan tangannya di leher kokoh Dewa, mencium seluruh wajahnya seperti yang biasa Dewa lakukan kepadanya.


"Aku kangen," Ucap Ruby sebelum menyesap bergantian bibir bawah dan atas suaminya. 


Begitupun aku. Mereka pun berciuman dengan segenap emosi yang keduanya rasakan, ciuman panas yang disaksikan deburan ombak yang masih betah berkejar-kejaran.

__ADS_1


Seperti itulah cara kedua pasang suami-istri itu melepas rindu saat mereka kembali bertemu. 


__ADS_2