Love Me Boy!

Love Me Boy!
Gara-gara Irfan


__ADS_3

Sudah hampir satu jam suara decitan sofa di ruang tengah diiringi dengan suara desahan dari kenikmatan yang menggema mengisi ruang apartemen karena ulah dari sepasang suami-istri. 


Andai Dewa bisa mengulang waktu, ingin rasanya ia kembali ke hari pernikahan mereka, hari dimana pertama kali meminta itu kepadanya. Tapi ah, semua sia-sia, penyesalan memang selalu datang terlambat.


Dewa masih terus mendorong tubuhnya, diikuti Ruby yang ikut mengiringi setiap geraknya hingga menciptakan suatu kenikmatan yang tak bisa diungkapkan dalam bentuk apapun. 


Setiap peluh yang menetes dari keduanya menjadi bukti perjuangan mereka selama hampir satu jam ini untuk mencapai satu kenikmatan yang hakiki. 


"Dewa, aku mau keluar lagi." Ini pelepasan ketiga bagi Ruby. 


"Aku— juga— Aaaaaah!" Sambil mendorong miliknya agar masuk sempurna.


Dan sebuah erangan dari Ruby menjadi saksi sebuah pencapaian yang begitu nikmat, diiringi erangan Dewa yang juga berhasil menggapai pencapaiannya setelah Ruby. Hingga akhirnya dia pun tumbang di atas tubuh istrinya. 


Deru nafas mereka masih terengah-engah, peluh pun masih terus keluar dari tubuh keduanya. Kegiatan panas yang selalu menguras tenaga tapi tak pernah membuat kapok untuk dilakukan. Dewa masih belum beranjak dari tubuh Sang Istri.


"Dewa, aku lapar," bisik Ruby. 


"Siang ini kita pesan makan saja. Salah kamu membuat aku marah, hingga aku harus menghukum kamu begini." Dewa seolah kesal karena kelakuan istrinya yang membuatnya jadi lemah tak berdaya seperti ini. 


Ruby hanya mencibir pria yang masih betah menemplok di atas tubuhnya itu. 


...🍃Flashback On🍃...


Ruby dan Dewa tengah mempersiapkan makan siang mereka saat sebuah panggilan telepon masuk ke ponsel Ruby. 


"Bisa tolong angkat telponnya?" Ruby meminta tolong kepada suaminya karena tangannya sibuk menyiangi kepala udang untuk menu makan siang mereka. 


Dewa yang memang sedang mengiris bawang langsung melakukan apa yang diminta istrinya. Sebuah panggilan telepon dari Amel. Dewa langsung menggeser tombol hijau dan menekan tombol pengeras suara. 


"Halo Mel?" 


"Lama amat." Suara Amel terdengar kesal. 


"Lagi nyiapin makan siang. Ada apa?"


Terdengar suara Amel tertawa dan sepertinya sedang menertawakan ucapan Ruby. 


"Sejak kapan kamu bisa masak? Kamu mau ngeracunin suami kamu?" Amel masih tertawa, kali ini ditemani Dewa yang juga menertawakannya. 


"Dewa yang masak, aku cuma bantuin." Jawab Ruby malas. "Ada apa sih? buru!"


"Cih Nyonya Sadewa ngambek nih?" Ledek Amel. "Itu, tadi Kak Irfan telpon aku katanya ada sesuatu yang mau dia kasih ke kamu—"


Mendengar Amel menyebutkan nama mantan terindah istrinya, tiba-tiba saja darah Dewa mendidih. Buru-buru dia mematikan panggilan telepon dari Amel, tanpa mau mendengar kelanjutannya. 


"Kamu kenapa? Kok dimatiin? Aku lagi dengerin Amel ngomong." Ruby terlihat marah. 

__ADS_1


"Sepenting itu kah A'Irfanmu, sampai kamu bisa semarah ini? Apa kamu berniat akan jalan lagi dengan A'Irfanmu itu sekarang?"


"Maksud kamu apa sih?" Ruby masih tak paham jika suaminya sedang dilanda cemburu.


"Aku tanya, apa dia begitu penting buat kamu?" ucap Dewa ketus.


Walaupun tak satupun kompor yang menyala tapi kondisi dapur semakin memanas. 


Ruby malas berdebat, dia langsung membuka sarung tangannya, sudah tak berminat lagi untuk meneruskan pekerjaannya mengupas kepala udang. 


"Terserah. Aku lagi males debat sama kamu." Ruby kesal. 


"Kenapa? Karena kamu memang masih ada perasaan sama A'Irfanmu itu kan?"


Bukankah Dewa tahu jika Irfan hanya sekedar masa lalunya? Bukankah Dewa pun sadar jika Ruby sekarang ini adalah miliknya. Bahkan kini Dewa telah memiliki seluruh jiwa raga Ruby. Ruby masih tak habis pikir dengan cara kerja otak cerdas suaminya. 


Ruby meninggalkan Dewa di dapur, di memilih duduk menonton televisi di ruang tengah. Hari libur yang begitu membosankan. Niat hati setelah makan siang ini Ruby akan berkeliling mall bersama Dewa dan juga mertuanya, tapi Dewa mengacaukan semua imajinasinya. 


Sedang Dewa kembali teringat foto Ruby yang tersenyum lebar bersama Irfan dan teman-temannya. Otaknya seperti tidak berfungsi seperti biasanya, karena jika saja dia berfikir jernih saat itu, dia tidak akan mempunyai anggapan bahwa istrinya selingkuh, sebab jika memang selingkuh untuk apa Ruby memajang foto itu sebagai status whatsapp-nya. 


"Baru aku tinggal sebentar saja kamu sudah jalan dengan pria lain. Ucapan dan hatimu ternyata tidak sejalan lurus." Dewa seperti sedang memandang rendah istrinya. 


"Apa kamu nganggap aku selingkuh sama A'Irfan?" Ruby langsung tahu kemana arah pembicaraan suaminya. 


"Apalagi?" Cibir Dewa yang berdiri di seberang Ruby dengan tatapan merendahkan. 


"Kok bisa-bisanya sih kamu punya pikiran kayak gitu sama aku?"


"Kamu jahat." Air mata Ruby mulai menetes. Dia tak terima jika dirinya dianggap selingkuh. "Kamu tau. Sejak mommy minta aku untuk jadi menantunya enam bulan lalu, aku langsung minta putus dari orang yang selama ini sangat aku cintai, dan memilih menikah dengan pria biadab kayak kamu. Aku kira kamu mulai membuka hati kamu buat aku, aku kira kita akan hidup layaknya suami-istri pada umumnya. Tapi nyatanya aku salah, aku tetap aja seonggok sampah di mata kamu. Teganya kamu berpikiran bahwa aku berbuat hina dengan selingkuh sama A'Irfan. Apa aku serendah itu di mata kamu?" Ruby benar-benar murka. 


Tak ada jawaban dari Dewa. Hatinya seperti teriris-iris melihat air mata yang menetes di mata istrinya. Dia tidak menyangka Ruby akan berbicara seperti itu. 


"Bukan begitu—" Dewa gugup.


"Terus apa? Sudah sejauh ini hubungan kita tapi kamu masih memikirkan hal konyol itu! Apa aku terlihat seperti wanita gampangan di mata kamu? Apa kamu terlalu menganggap rendah aku?"


"Ruby, maaf!" Dewa mulai mendekat. "Aku tidak bermaksud menganggap kamu seperti—"


Tapi Ruby langsung mau beranjak dari tempat duduknya saat Dewa menghampirinya. 


"Maafkan aku!"  Dewa langsung memeluk tubuh istrinya saat Ruby yang belum sepenuhnya berdiri.


" Aku kecewa sama kamu!" Ruby tak merespon pelukan suaminya.


"Jangan pergi! Maafkan aku." Dewa semakin erat memeluk tubuh wanita yang tanpa ia sadari telah berhasil mengisi setiap sudut ruang di hatinya. "Kumohon, jangan pergi lagi!"


Ruby kembali menangis di pelukan suaminya. Permohonan maaf yang begitu tulus dari Dewa berhasil meluluhkan hatinya yang memang lembut. Bisa Ruby lihat dan rasakan betapa Dewa begitu menginginkannya untuk tetap berada di sampingnya. 

__ADS_1


Kali ini bukan lagi air mata sedih dan marah yang keluar dari matanya, tapi tangis kebahagiaan saat tahu dirinya begitu berarti untuk suaminya. 


Kecupan bertubi-tubi seketika datang dari bibir Dewa saat ia melihat raut wajah istrinya yang tak lagi emosi, membuat Ruby sedikit kewalahan menerima hujan ciuman darinya.


"Terimakasih."


Dewa mencium bibir Ruby yang beberapa saat lalu telah ia sakiti hatinya.  "Maafkan aku!" ucap Dewa dengan kening menempel satu sama lain sebelum ia kembali meraup bibir Ruby. 


"Kamu mau ngapain?" Protes Ruby saat tangan Dewa masuk ke dalam kausnya dan berusaha membuka pengait bra yang ia kenakan. 


"Menghukum kamu," jawab Dewa dengan tatapan mesum. 


"Hukuman buat apa?" Ruby bingung, bukankah dia sudah menjelaskan jika dirinya dan Irfan sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. 


"Karena kamu foto bareng sama pria kampung itu," jawab Dewa sambil menarik kaus miliknya yang Ruby kenakan. 


Selanjutnya hukuman penuh kenikmatan pun Ruby terima siang itu. 


...🍃Flashback off🍃...


Bel pintu berbunyi saat Dewa masih berada di atas tubuh istrinya. 


"Wah, baru saja memikirkan pesan makan siang. Kurir dari restoran itu sudah datang," pikir Ruby yang otaknya masih belum terkoneksi dengan baik. 


"Itu bukan kurir. Tanganku saja masih lemas untuk mengangkat handphone." Dewa langsung menyadari ada tamu yang tak diundang datang mengganggu acara mereka. 


Dewa segera mengeluarkan miliknya saat bel pintu kembali berbunyi, kemudian menyuruh Ruby segera masuk ke kamar, sedang dirinya kembali mengenakan pakaiannya lagi. 


Hembusan nafas lega langsung keluar saat melihat Ruby telah menghilang di ruangan itu saat Dewa membuka pintu. Ternyata Sandra yang datang. 


"Tumben Mommy kesini tidak memberi kabar dulu?" tanya Dewa, basa-basi. 


"Berkali-kali Mommy telpon kalian tapi tak ada yang angkat."


Ternyata panggilan telepon tadi itu dari Sandra. Tapi saat itu keduanya tengah sibuk menggapai kenikmatan mereka, hingga panggilan telepon dari Sandra pun terabaikan. 


"Ruby mana?" Sandra langsung masuk tanpa dipersilahkan, seperti biasa. 


"Sedang mandi, tadi dia kurang enak badan." Jawab Dewa sambil mengekori Mommynya. 


Tapi Sandra langsung mengetahui kebohongan dari jawaban putranya. Sebuah bra berwarna putih tergeletak di kolong meja, dia pun segera menyadari bahwa mereka sengaja mengabaikan panggilan telpon darinya karena pertempuran panas yang mereka lakukan.


Sandra memandang sinis pria yang sedang berjalan ke arah dapur untuk mengambilkan minum untuknya. 


"Dasar penjajah tengik."


...Happy weekend readers ku tercinta.....

__ADS_1


...Makasih masih setia baca cerita aku sampe episode ini.🤗🤗🤗🤗...


...Semoga weekend kalian juga sama menggairahkannya seperti Ruby dan Dewa.....


__ADS_2