Love velisa

Love velisa
Lembar 30.Gedung Tua


__ADS_3

Farhan merapatkan tubuhnya ke tembok, ia tak tahu siapa yang berteriak ke arahnya. Namun, bisa ia pastikan suara teriakan tersebut adalah suara seorang pria. Apakah itu salah satu pengawal milik Nanda? Ia memejamkan matanya rapat-rapat. Berharap orang itu tak lagi mendekat ke arahnya.


"Kamu ngapain malam-malam di sini..! "


Seketika Farhan membuka perlahan kedua matanya, ia sedikit mengintip keluar dan setelahnya ia bisa bernafas lega! Ternyata orang yang meneriakinya itu hanyalah seorang satpam rumah sakit! Bukan pengawal atau anggota dari keluarga utama.! Dan juga satpam itu tak meneriaki dirinya! Ia melihat dari kejauhan satpam itu berteriak kepada salah satu orang di lorong rumah sakit tersebut.!


"Astaga! Hampir saja jantung gue copot.! "


Setelah suara itu tak terdengar lagi olehnya,Hal yang pertana Farhan lakukan ialah mengintip ke bawah dari atas tangga tersebut! Memastikan apakah satpam tadi sudah pergi atau masih di sana bersama orang yang entah Farhan sendiri tak kenal. Melihat situasi sudah cukup di rasa aman, dan satpam itu ternyata sudah tidak ada di sana! Farhan berjalan pelan menuruni tangga terakhir seblum ia berlari menuju pintu keluar yang sebenarnya tak jauh dari tempat ia bersembunyi saat ini.

__ADS_1


Farhan, pria yang memiliki ambisi menemukan tubuhnya berlari sekencang mungkin agar bisa keluar dari rumah sakit tersebut! ia berlari begitu kencang disertai nafas yang membara hingga pada akhirnya ia berhasil keluar dan sampai di seberang jalan. Sesekali ia menengok ke belakang, memastikan tak ada yang mengejarnya.


"Akhirnya bebas juga.! " Ucap Farhan dengan sisa nafas yang ia punya.


Farhan berjalan menyusuri jalanan, mancari tahu dimana pastinya dia mengalami kecelakaan tersebut. Hingga sampailah dia di depan zebracross! Yang dapat ia pastikan inilah tempat dimana ia mengalami kecelakaan! Pria itu memandang sekitar berharap menemukan tubuhnya. Namun, apa yang di katakan Estes itu benar. Ia sama sekali tak menemukan apapun di sana, jejak darah saja tak bisa ia temukan.


pria kecil itu menendang setiap krikil yang ia temui di jalanan, rasa frustasi yang membakar benaknya tak ia bisa tahan! Ia marah pada dirinya sendiri! Tak bisa menemukan apa yang ia cari.


"Jam segini mah makhluk hidup masih pada tidur.! " Gumam Farhan melanjutkan perjalanannya. Dirinya memutuskan untuk pulang ke rumah! Rumah yang tentunya bukan rumah Arsyan! Melainkan rumah miliknya sendiri.

__ADS_1


Angin malam menembus kulitnya! Walau dia sudah terlindung oleh hodie mahal milik seorang pemuda kaya. Namun, suasana dingin malam itu masih bisa ia rasakan.


perjalanan begitu panjang, jalanan demi jalanan ia susuri, hingga langkahnya terhenti di salah satu yang seberang sana! Gang yang terlihat sangat kecil dan hanya di sinari lampu penerangan seadanya.


Farhan berjalan menyeberang ke arah gang yang tak jauh dari hadapannya itu, langkah kakinya mulai menyusuri gang yang terlihat sangat sempit itu. Jangankan sepeda motor untuk orang lalu lalang saja terlihat sangat susah. Sesekali ia menyingkirkan sampah yang menghalangi jalanya. Hingga sampailah dia di salah satu bangunan tua yang terlihat sangat kumuh dan tak terawat di ujung yang tersebut.


Ia mengambil sebuah kunci yang sepertinya sengaja ia tinggal sewaktu dirinya pergi bersekolah. Setelahnya ia dengan sigap membuka pintu bangunan tua itu disertai senyuman kecil di wajahnya.


"Akhirnya gue bisa pulang.! "Ujar Farhan dengan senyuman di bibir kecilnya. Ia terlihat sangat merindukan tempat tinggalnya ini! Ya. Walaupun tempat ini tak seberapa besar dengan tempat Tuan Muda itu! Namun, bagi dirinya tempat inilah yang menjadi saksi bagaimna history seorang Farhan di buat.

__ADS_1


Farhan menyalakan lampu yang berada di balik pintu, hingga dirinya bisa melihat semua yang ada di situ masih tersusun dengan rapi! Seperti terakhir sebelum dirinya pergi.


Farhan berjalan menuju sebuah ruangan, yang ternyata itulah kamar kesayangan seorang Farhan. Laki-laki kecil itu merebahkan tubuhnya dengan tangan yang ia jadikan bantal tepar di bawah kepalanya. Ia menatap langit-langit dengan mata berkaca-kaca.


__ADS_2