
Kejadian itu membuat Farhan seakan-akan lebih merasa bersalah kepada Devan, melihat kondisinya yang miris membuat dia tak tahu lagi harus berbuat apa! Yang ia bisa hanyalah memastikan pemuda yang sudah terkulai lemas itu mendapatkan pertolongan secepatnya.
"Tolong lebih cepat lagi nyetirnya!!!! " Teriak Farhan panik.
"Far... H... Annnn"Rintih Devan.
" Devan!! Lo dengar gue? Dari pada lo koit disini, mending lo atur napas lo dengan benar!! Jangan banyak bacod! "Teriak Farhan emosi.
" Ugh... Farhan! "Rintih Devan, dengan badan yang terus bergerak , membuat Farhan kalang kabut sendiri menahan badan sahabatnya itu.
" Diam!!! Gue Farhan! Gue disini! Gue di samping lo! "
Devan menatap Farhan dengan tatapan dalam, pemuda itu berniat ingin mengatakan sesuatu kepada Farhan, namun tak bisa. Mulutnya hanya bisa merintih merasakan sesak yang menyiksanya itu.
Farhan tahu, ia tak seharusnya mengatakan perkataan tadi. Ia tak bisa terus menyebutkan nama Farhan, apalagi di dekat para pengawal itu. Namun, disisi lain ia juga merasa sedikit lega. Karena melihat Devan pada akhirnya bisa mengatur napasnya dengan baik dari pada yang tadi.
Beberapa saat kemudian, setelah perjalanan panjang itu, mobil mereka sudah berhenti tepat di sebuah bangunan yang megah, layaknya istana namun terlihat seperti rumah sakit. Farhan sendiri hanya bisa terdiam memasang raut muka kagumnya akan bangunan megah itu.
"Buset!!! Rumah sakit atau istana ini! " Gumam Farhan lirih.
Sementara itu, Devan. Laki-laki yang sudah terkulai lemas itu, Lagi-lagi membuat Farhan harus berteriak disana.
"Devan!!!! "
,...............
"Tuan muda anda mau kemana? " Tanya Satria, salah satu pengawal yang bertugas untuk selalu berada di samping Farhan.
"Gue mau ke atas! Kalian tetap disini! Jangan ngikut! Jaga anak tadi dengan baik! "
__ADS_1
"Ta-tapi tuan? "
"Kalian tenang saja! Gue gak akan kabur! Lagian di depan juga banyak penjaga, dari celah mana saya bisa kabur? "Farhan memotong ucapan Satria, membuat pria berbadan tegap itu hanya bisa diam di tempatnya.
"Kalau anak itu sudah sadar! Tolong panggil gue! Gue mau nenangin diri dulu! "Setelahnya Farhan pergi meninggalkan para pengawal yang berdiri di depan pintu UGD tersebut.
Farhan berjalan menyusuri lorong demi lorong, ia sesekali ternganga, karena melihat kemewahan dan kemegahan rumah sakit keluarga besar milik Arsyan itu, rumah sakit yang tak terlalu ramai dan tak terlalu sepi itu, membuat Farhan sesekali hanya bergumam takjub.
"Sahabat mu itu adalah anak yang kuat, dia akan baik-baik saja! Percayalah!"
Farhan terdiam dari langkah kecilnya, sesaat setelah mendengar perkataan itu. Ia berhenti di ujung lorong sana, lalu duduk dengan tatapan kosong mengarah kedepan.
"Jangan khawatir" Ucap sosok itu.
"Farhan"
"Arsyan? Kamu disini? " Tanya Farhan dengan tatapan sendu.
"Hmm"
"Tentang Devan-"
"Arsyan, bisa diam dulu tidak? "Tanya Farhan dengan suara lelahnya.
Farhan terdiam, ia binggung harus berbuat apa? Dirinya sangat kacau, melihat sahabatnya saat ini dalam kondisi yang tak baik-baik saja, membuat salah satu sudut di hatinya terasa sakit. Sahabat yang sedari dulu selalu bersamanya, selalu setia bahkan selalu ada untuk nya, kini menjadi sekacau seperti sekarang. Dan itu disebabkan olehnya. Sahabat macam apa Farhan ini!!! Farhan terus merutuki dirinya sendiri, tentunya dengan sedikit yang ia rasakan dari hatinya yang paling dalam.
"Gue gak mau seperti ini, Arsyan, sepertinya gue harus berterus terang kepada Devan! Gue gak mau di nyalahin dirinya sendiri atas kematian yang gue alami! "Lirih Farhan, namun masih terdengar jelas oleh Arsyan yang duduk tepat di sebelahnya.
"Far, please jangan gila! Jangan sesekali kamu melakukan perbuatan yang jelas-jelas itu merugikan dirimu sendiri! Kamu tahu kan apa yang akan kamu dapat jika banyak orang yang tahu tentang kita? "
__ADS_1
"Gue tahu! Tapi disisi lain, kalau gue hanya diam melihat sahabat gue seperti ini, sama saja gue egois Ar! "
"Saya tidak setuju! Tentang jalan pikiran mu! "Sentak Arsyan, membuat Farhan menatap tajam arwah itu.
"Kenapa? Apa alasanya? "Tanya Farhan, berdiri dari tempat duduknya.
" Karena dia, belum bisa di percaya! Bagaimana kalau rahasia ini sampai banyak orang yang tahu? Bagaimana kalau papa sama mama tahu? Dan yang lebih menakutkan, bagaimana jika Estes tahu? "
"Gue yang lebih tahu siapa Devan, gue kenal dia dari kecil! Bahkan seblum gue kenal lo! Jadi gue tahu baik buruknya dia! Dan dia gak bakalan membocorkan rahasia ini!! "
"Apa jaminan, untuk saya bisa percaya pada dia? "Tantang Arsyan, yang entah kenapa membuat Farhan mendadak menjadi emosi.
"Lo percaya Berlin? Bahkan lo ngasih tahu semuanya kepada Berlin! Sama halnya lo percaya sama sahabat lo itu, gue juga percaya kalau Devan sahabat gue gak bakal membocorkan rahasia ini kepada siapapun!! "
"Jangan kamu sama-sama kan antara Berlin dengan Devan, itu jelas beda Farhan!!"
"Hah berbeda lo bilang? Cuma gara-gara dia indogo lo bilang Berlin sahabat lo dengan Devan sahabat gue beda? Anjir!!!!"
"Gue tahu Berlin seorang indigo, tapi gak semua indigo bisa melihat lo dengan jelas Arsyan! Dan gak sembarangan orang juga bisa lihat lo! Contoh gue juga bukan indigo tapi gue bisa melihat lo! "Desis Farhan, menatap tajam Arsyan yang menegang di tempatnya.
" Maksud mu apa? "
"Estes mengatakan,kalau Berlin bisa melihat lo, karena lo yang menginginkannya!! Lo rindu kan sama Berlin? Sama halnya dengan gue yang ingin melihat lo! Dan Estes mengabulkan! Jadi gak sembarangan orang bisa lihat lo! Berlin bisa melihat lo, karena lo sendiri yang memohon sama Estes agar lo bisa melihat sahabat lo itu lagi! Gue gak bodoh!!! Lo egois!! "
"Far-farhan"
"Lo egois, lo hanya ingin melihat Berlin, dan ya di kabulkan! Sama halnya dengan sahabat gue Devan, mungkin dia juga berdoa siang malam agar bisa melihat gue! Dan saat dia benar-benar bisa lihat gue lagi, walau dengan muka yang berbeda, lo malah menghalangi itu semua, lo egois!!!Jika lo saja gak tega lihat Berlin kehilangan lo, gue juga sama Arsyan!!! Gue gak mau Devan sedih dan menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi sama gue!! Bahkan dia berpikir kalau dialah yang membuat gue meninggal!! "
Arsyan terdiam, ia menatao Farhan dengan tatapan yang sulit di artikan. Sedangkan Farhan menatap Arsyan dengan tatapan Tajam di sertai napas yang memburu, puncak emosi sudah meledak dari diri seorang Farhan saat itu.
__ADS_1