
"Anak saya Farhan! " Gumam lirih Lesna,ketika langkah kaki Farhan berjalan melewatinya.
"Bunda Lesna! " Balas Farhan lirih, sembari menatap sendu wanita yang barusan ia lewati itu, dirinya tak tahu harus berbuat apa! Bahkan kebingungan ada di dalam benak pemuda itu saat ini, entah kenapa dia tak bisa berbuat apa-apa ketika Lesna mengucap namanya dengan benar, apa bundanya itu tahu? Kalau dirinya masih hidup? Ataukah ada sesuatu yang bundanya itu sembunyikan? Pertanyaan itu masih menghantui pikiran Farhan, walau kini dirinya sudah berjalan cukup jauh meninggalkan posisi Lesna yang masih terdiam disana.
"Kalau jalan cepetan dikit!! " Sentak Suga, membuat Farhan mempercepat langkahnya, walau sebenarnya pikiran anak itu masih ada disana bersama Lesna.
..........................
Beberapa hari begitu cepat berlalu, setelah insiden Devan. Sejak saat itu pula Farhan tidak bisa keluar bebas dari mansion, tempatnya tinggal saat ini. Memang kedua orang tua nya dan saudara-saudaranya sedang berada di Jepang. Namun, di mansion itu dirinya tak sendiri ada di cowok resek dan beberapa penjaga yang tentunya selalu mengawasinya setiap saat. Bahkan, dirinya hanya bisa keluar saat bersekolah, itupun dengan Claudia, yang menemani bahkan Sesekali, Suga dan para pengawal ikut mengantarkan hingga ke pintu kelas. Menyebalkan bukan? Lebih parahnya, dirinya tak di izinkan oleh Suga untuk mendekati Berlin ataupun Gery.
Aneh, itulah yang ada di dalam benak Farhan, entah kenapa Suga melarang dirinya untuk tidak mendekati semua orang yang dahulu pernah dekat dengan Arsyan! Apakah ada sesuatu yang Suga sembunyikan?Ataukah Suga tak mau Arsyan yang saat ini tubuhnya Farhan gunakan, mengetahui masa lalunya? Kenapa? Ada apa? Apakah masalalu sang adik tidak harus terungkap? Jika memang Arsyan lupa ingatkan seharusnya keluarganya ini membantu, bukan malah menjauhkan Arsyan dari semua hal yang bisa mengembalikan ingatannya. Farhan mendengus memikirkan hal itu.
Berbicara tentang Arsyan, saat ini pun arwah itu masih menganggu nya, bahkan dalam tidurnya pun arwah itu selalu datang entah apa maunya, ingin rasanya Farhan mengabaikannya. Namun, ia terkadang kasihan ketika melihat arwah itu seperti meminta bantuan kepadanya.
Farhan terdiam sejenak, ia masih melamun. Kali ini ia memikirkan perkataan Berlin tentang Arsyan saat itu, ketika dirinya saat itu bolos jam pelajaran dan tak sengaja bertemu dengan Berlin disana. Tentunya ia tak sendiri, masih dengan Claudia yang selalu mengikutinya, risih tapi mau bagaimana lagi biarkan saja jika Claudia tahu siapa dirinya yang sebenarnya, setidaknya ia bisa sedikit lepas dari cewek resek itu.
Flashback........
"Berlin!!! " Teriak Farhan ketika melihat Berlin tak jauh darinya.
Farhan berlari menghampiri Berlin yang berhenti disana.
"Ada apa Ar-Farhan? " Tanya Berlin ketika laki-laki itu sudah ada di depannya tentunya dengan napas yang memburu.
"Gue mau lo nyeritain semua tentang Arsyan! "Tuntut Farhan, dengan sisa napas yang ada.
"Jangan menolak permintaan gue, gue udah bosan dengan semua ini!!! Jika lo menolak jangan salahkan gue, kalau lo gak bakal bertemu dengan tubuh sahabat lo ini lagi! "Ancam Farhan dengan tatapan tajam.
Sesekali Farhan menoleh kebelakang, memastikan tak ada pengawal maupun Claudia yang membuntutinya, napas lega terdengar jelas dari mulut Farhan, baru kali ini dirinya bisa lolos dari cewek resek itu.
" Farhan!! "
"Kalau lo gak terima, cepat cerita ke gue semua tentang Arsyan, keburu cewek gila beserta pengawal bodoh itu nemuin kita! " Ujar Farhan, matanya berkelana mencari-cari orang-orang itu.
"Ok Gue akan cerita, tapi ikut Gue dulu! Kita cari tempat yang aman!" Ujar Berlin, menarik tangan Farhan dan mengajaknya pergi dari tempat itu.
"Disini aman! " Ujar Berlin ketika mereka sudah sampai di sebuah gudang sekolah yang terbengkalai di belakang sana, jauh dari akses jalan utama.
"Lo yakin mau mendengar semua tentang sahabat saya? " Tanya Berlin dan Farhan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Duduk! "Titah Berlin, dan Farhan dengan spontan duduk dengan tenang, siap mendengarkan apa yang akan Berlin ceritakan kepada dirinya.
" Gue mengenal Farhan saat Gue berada di smp yang sama dengannya saat itu! "
"SMP jaya indah"
Deg.
Farhan menatap Berlin dengan tatapan yang serius.
"Kenapa? Lo gak tahu kalau kita semua satu sekolahan? Lo juga gak tahu kalau Arsyan itu satu angkatan sama lo? Haduh lo tuh di sekolah ngapain saja sih Farhan?" Tanya Berlin heran.
"Gue emang gak tahu, gue sekolah ya sekolah saja, bahkan gue terlalu sibuk dengan study gue, semua itu demi biaya siswa agar gue bisa ke bangku sekolah yang lebih tinggi dan yang gue impikan! "Ujar Farhan.
" Lo gak ada bedanya sama Arsyan, Arsyan juga sama! Dia punya ambisi untuk menjadi siswa terbaik semenjak berada di bangku sekolah, semua hanya untuk keluarganya,bahkan ia rela berkorban hanya untuk mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya! "
Ucapan Berlin membuat Farhan tak percaya sepenuhnya. Perhatian katanya? Sekarang saja apa yang ia rasakan ketika tinggal dengan orang tua Arsyan bukan sebuah perhatian yang mereka beri, namun sebuah kekangan dan aturan yang selalu mereka utamakan.
"Lo jangan bercanda!! "
"Saya? Bercanda? Tidak mungkin!! Saya sudah mengenal Arsyan lama! Jadi semua yang saya katakan adalah Realita kehidupan dia! Oh ya, kamu harus tahu walau saya dekat dengan Arsyan, namun untuk berbicara dengan keluarga Arsyan saja itu susah! Kamu tahu poto ketika Arsyan menjuarai Olimpiade di tokyo?"
"Hanya saat itulah, Arsyan merasakan keluarga yang lengkap, bahkan pedihnya, sehabis sesi poto itu, keluarganya pergi begitu saja, katanya selalu ada urusan! "
Farhan mengerjapkan matanya, ia baru sadar semua perlombaan yang Arsyan menangkan hanya untuk mendapat perhatian dari kedua orang tuanya.
"Jadi Arsyan....? "
"Ya dia mengidap sebuah penyakit mental, karena selalu di abaikan oleh keluarganya sendiri, bahkan demi mendapatkan perhatian, ia harus rela tubuh dan pikirannya hanya ia gunakan untuk belajar, jika ada sebuah perlombaan dia bisa ikut dan jika itu menang pasti kedua orang tuanya itu akan ada disisinya saat itu, walau hanya sesaat! " Ujar Berlin dengan serius.
"Selama ini gue pikir hidup Arsyan itu sempurna, ternyata tidak! Bahkan dia pernah bilang lebih baik di pukuli, di sakiti, di hina di caci maki, dari pada harus di abaikan oleh orang-orang yang ia sayangi! "Berlin menatap jauh pada jendela gudang yang terbuka lebar disana.
"Gue juga berpikiran kalau hidup Arsyan itu sempurna, apa yang ia miliki itu tak pernah gue miliki dan selalu gue harapkan" Balas Farhan dengan sendu.
"Kekayaan maksud mu? " Tanya Berlin, ia menaikkan sebalah aslinya.
"Ya semacam itulah! "
"Ya, pastinya semua orang menginginkan kekayaan seperti Arsyan, yang bisa memiliki semuanya kecuali keluarganya sendiri. Bahkan rasa sakit yang Arsyan rasakan semua ia pendam dengan sendirinya, gue sempat berpikir Arsyan itu kuat bahkan lebih kuat dari gue, sampai-sampai gue lupa kalau semua manusia itu punya titik lemahnya sendiri"
__ADS_1
"Mental Arsyan terguncang saat itu, di usianya yang masih muda, usia dimana seharusnya dia mendapatkan perhatian, justru dia malah di abaikan oleh kedua orang tuanya, bahkan sampai saat ini pun orang tuanya masih sibuk dengan semua pekerjaannya di luar negeri sana! "
"Gue sudah berusaha mengisi kekosongan yang ada di diri Arsyan, bahkan gue selalu bersamanya, namun, dia sudah pergi jauh dan sulit di gapai, kekosongan yang ada di dirinya sudah terlalu dalam, tak mungkin bisa terisi kembali! "
"Arsyan seperti sudah memiliki dunianya sendiri, bahkan tak ada satupun orang yang di izinkan masuk ke dalam hatinya untuk mengisi kekosongan itu, termasuk Claudia yang menyukai dirinya sejak Arsyan masih remaja! "
"Claudia? Jadi dia mengikuti gue terus itu...? "
"Ya, dia pernah suka sama Arsyan, tapi Arsyan menolak dengan alasan dia suka sama orang lain! Akan tetapi, Claudia di percaya oleh keluarga Arsyan untuk menjadi asisten pribadi Arsyan ketika Arsyan berada di rusia, makanya dia selalu ada disisi lo, karena dia sendiri tau apa yang Arsyan alami saat ini! "
Farhan terkejut sejadi-jadinya, ia tak menyangka jika Claudia itu pernah menyukai Arsyan, bahkan disisi lain, hati Farhan terasa teriris ketika mendengar semua cerita tentang kehidupan pahit yang di alami Arsyan selama ini. Dan entah kenapa, rasa bersalah itu tiba-tiba hinggap di dalam dirinya. Dirinya merasa bersalah? Untuk apa? Batin Farhan.
"Dan yang buat gue kecewa, kenapa dia harus mengorbankan nyawanya hanya untuk seseorang yang sudah melupakan dirinya!! "Ujar Berlin sembari menatap Farhan dengan tatapan sangat dalam, membuat Farhan tersentak saat itu juga.
" A-apa? "Tanya Farhan.
" Cukup Berlin!!!"Teriakan itu menghentikan pembicaraan mereka berdua. Disana, di depan jendela sudah berdiri sosok Arsyan yang menatap Berlin dengan tatapan tajam.
Berlin dan Farhan berdiri di tempatnya, Farhan menatap Arsyan meminta penjelasan.
"Gue mau lo cerita semuanya! "Titah Farhan.
Arsyan mendengus.
" Untuk apa? Gue harus cerita?"
"Jika lo cerita ke gue, apa yang terjadi sama lo, gue akan ngebantu lo seperti ke inginkan lo saat itu! "
Arsyan menatap Farhan memastikan apakah yang Farhan katakan itu benar.
"Lo harus percaya, gue akan bantu lo! "
Arsyan menyeringai, inilah yang dia harapkan, seorang Farhan yang keras kepala dan bar-bar kini tunduk kepada dirinya.
"Baiklah gue akan bercerita dalam mimpimu nanti! " Ujar Arsyan setelahnya pergi begitu saja.
"Berlin? " Tanya Farhan berharap, laki-laki itu mau bercerita lagi.
"Maaf hanya itu yang bisa gue kasih tahu, selebihnya kamu mendengarkan sendiri kan? Apa yang di katakan Arsyan? Dia akan bercerita semuanya sendiri kepadamu! "Ujar Berlin, kemudian pergi meninggalkan Farhan disana.
__ADS_1