Love velisa

Love velisa
Lembar 58.Pelukan Menenangkan


__ADS_3

Suga masih terdiam disana? Menatap adik laki-lakinya itu dengan tatapan sendu. Tangan kekar itu mulai berusaha untuk memeluk laki-laki malang itu. Namun, lagi-lagi laki-laki itu menepis tangannya menolak niat baik Suga.


"Pergi!!! Gue gak mau begini terus! Gue mau pulang!!!! " Teriak Farhan , ia terlihat kacau disana.


"Kamu tenang dulu! Kamu kenapa Arsyan!!! " Sentak Suga.


"Kak Suga? Hahahaha? Kak Suga? "Farhan tertawa pelan.


" Lo tahu apa yang gue rasakan? "Farhan mendongakkan, menatap Suga yang diam di sebelahnya.


" Gue capek kak Gue lelah!! "


"Arsyan! " Gumam Suga, dengan lirih. Namun masih terdengar oleh Farhan


"Kak cukup! Gue bukan Arsyan! Gue capek kak! "Jawab Farhan lirih nyaris tak terdengar. Ie menundukkan kepalanya , hingga tetesan air mata jatuh mengenai telapak tangannya yang ada di paha. Bulir keringat pun masih menetes dari kening pemuda itu.


" Cukup Sayang! "Ujar Suga, menjulurkan tangannya ke arah wajah Farhan.Berusaha menyeka sisa-sisa peluh disana.


" Jangan sentuh! "Teriak Farhan saat Suga ingin menyeka semua peluh yang membasahi pipi adiknya itu.


Beberapa menit berlalu, hanya suara isak lirih dan jam dinding yang terdengar disana, tak lama dekapan yang hangat Farhan rasakan.


"Jangan menangis lagi!! Mulai sekarang kakak yang akan selalu ada di sisimu Arsyan! Dan juga maafin kakak karena kesibukan kakak, kakak tidak becus jagain kamu! "Ujar Suga.


Tak ada jawaban yang Suga dengar selain isak tangis orang di dekapannya itu.


"Cup tidak apa! " Suga mengusap lembut rambut Farhan yang sudah lepek oleh keringat.


Hangat, kehangatan yang selama ini Farhan inginkan bahkan Farhan impikan, akhirnya bisa dia dapatkan dan rasakan. Senyamannya ini kah rasanya? Kenyamanan yang selalu membuat tenang. Hingga mata itu kembali terpejam di dekapan Suga.


Suga yang merasakan tidak ada pergerakan dari orang di dekapannya,bahkan suara isak tangis yang sedari tadi mengisi ruangan itu kini sudah tidak ada. Kini ia bisa bernapas lega.


"Jauh-jauh dari mimpi buruk lagi ya! Disini ada kakak yang akan selalu jagain kamu, datanglah wahai mimpi indah , buat Arsyan kecil ku ini bahagia! "Ujar Suga lirih, sebuah kata-kata menenangkan yang sudah lama tak ia ucapkan.


...****************...


...****************...


...****************...


" Bagaimana kondisinya? "


Suga menghentikan langkahnya, ia menatap Arthan yang sudah terduduk di depan ruangan itu di dampingi Erika yang berdiri tak jauh darinya.sebelum Suga pun akhirnya ikut duduk di sebelah kakaknya itu.


"Sudah membaik! "Jawab Suga.

__ADS_1


" Kenapa bisa maagnya bisa kambuh? "


"Tadi pagi sepertinya dia belum sarapan, seperti apa yang dikatakan oleh Claudia! "


"Hmm! Bandel! " Geram Arthan.


"Kayaknya memang akhir-akhir Tuan Muda sering sakit-sakitan Tuan! " Ujar Erika.


"Iya bener apa yang Erika bilang kak, kemarin saja saat kakak Arthan pergi ke luar negeri dia demam, walau besoknya langsung menggila lagi! " Timpal Suga.


"Mungkin saja efek koma! " Jawab Arthan singkat.


"Ntahlah kak!Nanti kalau semua sudah membaik kita tanyakan sama dokter yang menangani Arsyan sewaktu koma! "Jawab Suga.


"Yasudah Kakak nitip adikmu,jangan sampai ada masalah lagi. Kakak sama Erika ada urusan di luar negeri nyusul mama sama Alena! " Ujar Arthan lalu beranjak pergi di ikuti oleh Erika dan para pengawal yang lain.


...****************...


...****************...


...****************...


Farhan berjalan menuju arah balkon, angin yang berhembus adalah hal pertama yang menyapa pemuda yang dulu kerap di sapa Bible itu. Dingin? Namun dia suka saat angin menerpa wajah imutnya, seperti angin itu sedang menyapa dirinya.


Berpegangan pada pagar balkon, menikmati hiruk-pikuk para siswa dari atas sana.Sembari Menatap langit yang sedikit mendung di sertai rintikan hujan yang masih sangat tipis.


"Hai apa kabar sekolah ku! Gue rindu kalian! Gue rindu cerita di sini! Tapi maaf, gue gak bisa mengulang cerita itu lagi! "Sapa Farhan pada angin yang sesekali bertiup kencang. Seolah angin itu tahu apa yang ada di hatinya.


"Gue kangen rasa damai yang sekarang! Hening dan menyejukan! "


Setiap kali ia selesai berucap, angin selalu berhembus kembali menerpa helaian rambutnya.


Farhan yang merasakan hembusan angin itu setiap dia selesai berbicara hanya bisa tersenyum kecil seakan ia mengajak angin itu berbicara pada dirinya.


"Boleh ya angin! Gue curhat sama kamu? Boleh lah! Lo tahu sendiri kan akhir-akhir ini gue banyak mengalami banyak hal yang membuat gue capek untuk berada di situasi ini? "


"Jangan seperti itu! Tidak baik! "Farhan tersentak kaget, ketika ada yang menyahuti ucapannya. Ia melihat ke sebalah kanan dan melotot tajam.


" Astaga Lo lagi?Haduh sudah lama kita tak berjumpa akhirnya lo datang juga! Si pembawa pesan! "Ujar Farhan yang kali ini terlihat sudah mulai terbiasa dengan Estes yang selalu hadir dalam hidup barunya.


" Saya adalah Estes pengantar pesan! "


Farhan memutar bola matanya.


"Hmm, ulang aja terus perkenalannya, sampai kapan? Tiap ketemu pasti kenalan! "

__ADS_1


"Saya datang untuk anda karena saya ingin mengingatkan sesuatu! "Ujar Estes.


" Pesan apa lagi? Dan tumben banget lo nongol? Gue kira udah lupa sama gue? "


"Saya datang cuma ingin memastikan apakah kamu masih di dunia ini atau sudah berpindah! "


"Anjir!! Gue tersiksa di sini! Lo masih bisa-bisanya ngelawak! "


Farhan hanya menghela napasnya, ia duduk di kursi yang ada disana. Sunyi, tak ada ucapan setelahnya. Hanya ada suara rintikan hujan yang semakin deras.


Farhan hanya bisa melamun,disana menatao Estes yang juga terdiam. Apakah dia juga melamun? Pikir Farhan sebelum sepatah kata ke luar dari mulutnya.


"Estes! "


"Ya"


Farhan sebenarnya menyimpan keraguan dalam hatinya, namun di dalam benaknya ia harus mengutarakan apa yang sejauh ini ia alami.


"Kamu bilang? Kalau kamu biasanya mengabulkan sebuah permintaan kan ? "Tanya Farhan dengan nada sedikit melembut.


"Saya hanya pembawa pesan! Bukan pengabul permintaan! "


"Haduh! Jadi lo cuma bisa muncul dan ngilang? Gak ada kelebihan lain gitu? Astaga gak guna amat lo jadi hantu! "Cibir Farhan.


"Saya bukan hantu saya--"


"Pembawa pesan! " Cibir Farhan memotong ucapan Estes yang belum usai.


Estes hanya diam, enggan menjawab perkataan manusia di depanya yang mulai aneh itu.


"Gue gak minta banyak! Gue hanya ingin bertemu dengan sang pemilik tubuh yang gue pinjam ini! "Gumam Farhan tertunduk. Namun, sepertinya apa yang Farhan ucapankan itu masih bisa terdengar jelas oleh Estes.


"Kalau itu yang kamu inginkan, saya masih bisa membantu walau tidak banyak! "Timpal Estes.


"Beneran? Lo gak ngibulin gue kan? "Teriak Farhan penuh harap.


"Bisa tidak jangan ngegas? "Tanya Estes menatap Farhan sengit.


"Ohhh tentu tidak bisa say! Ngegas is my life and tanpa ngegas hidup hambar! "


"-"


"Jadi gimana? Malah diam lo! "Tabya Farhan.


"Saya akan usahakan! Tapi ingat semua yang saya lakukan jika berhasil itu tidak gratis! Dan ada yang harus di korbankan! "

__ADS_1


"Jadi apa yang harus gue korbankan? Nyawa gue lagi? Kalau itu ogah? Mati lagi dong gue, ntar yang ada gue di tubuh orang lain lagi! Capek ah! "Tanya Farhan asal bicara.


Estes hanya terdiam menatap Farhan dengan semua ocehan yang keluar dari mulut manusia itu. Farhan ikut terdiam melihat makhluk itu yang tidak menanggapi apa yang ka katakan. Farhan menelan salivanya kasar.


__ADS_2