
"Arsyan"
"Panggil Gue Farhan!! Karena itu nama gue! Dan lo kan sudah kalau gue ini Farhan bukan Arsyan!! "
Berlin menggaruk lehernya canggung, lalu terkekeh pelan.
"Iya Farhan, maaf kalau selama ini gue pura-pura percaya kalau kamu adalah Arsyan! " Ujar Pria pendek itu.
"Iya, gue cuma penasaran alasan lo selalu menghindar ketika gue sama Claudia sedang bersama! Dan lo kenapa selalu nurut permintaan Claudia? Sepertinya wanita itu punya rencana untuk memisahkan kita? " Ujar Farhan dengan sorot mata penasaran.
"Jadi mau lo apa Han? " Tanya Berlin dengan polosnya.
"Gue? Sebenarnya punya rencana untuk mengusut tuntas semua ini, kenapa gue bisa berpindah jiwa, dan kenapa si Arsyan kita selalu muncul di mimpi gue? " Ujar pria malang itu dengan nada sedikit menahan kesedihannya.
"Kalau itu gue gak tahu pasti Han, hanya kelaurga Arsyan yang tahu! Yang gue tahu gue di suruh Arsyan untuk menjaga rahasia ini dari siapapun! Termasuk asisten pribadimu! " Ujar Berlin sembari menepuk pundak Farhan.
"Maksud lo si? "
"Hmm"
Berlin menganggukkan kepala, memotong pembicaraan yang belum usai terucap oleh Farhan. Berlin hanya tak ingin ada orang lain yang mendengar apa yang mereka bicarakan apalagi jika terdengar oleh anak buah Nanda bisa habis semua janji yang Berlin pegang demi almarhum sahabatnya itu.
Mereka berjalan di trotar, suara bising kendaraan saling bersahutan. Hening terjadi setelahnya, sesekali dua pria itu menengok kebelakang, memastikan tak ada yang membuntuti apalagi mendengar apa yang mereka berdua bicarakan. Tak ada pembicaraan yang Farhan ucap, begitupun Berlin, mereka benar-benar bak kulkas berjalan. Rasa hangat tak lagi Farhan rasakan dari diri Berlin setelah orang itu bertemu dengan Arsyan. Padahal beberapa waktu yang lalu sebelum Berlin bertemu Arsyan, percakapan mereka sudah sangat begitu akrab. Bahkan Farhan sempat berpikir untuk mengajak Berlin mengupas tuntas keluarga drama milik Arsyan. Namun, sepertinya niat itu ia urungkan untuk sementara waktu.
"Nama lo yang benar Berlin kan? "
"Iya, pasti lo bingung kenapa Arsyan manggil gue Erlin, sama kayak gue manggil dia---? "
"Lo manggil dia apa? " Sahut Farhan ketika ucapan Berlin tiba-tiba terhenti begitu saja.
"Eh enggak! Gue manggil dia cebol hahah! , karena dia pendek! "Jawab Berlin dengan ragu.
" Ohh! "
Farhan yang mendengar jawaban dari Berlin tentu saja tidak puas, ia merasa ada yang di sembunyikan oleh bocah pendek itu. Namun, dirinya tak ingin ambil pusing. Ia hanya harus fokus untuk mencari tahu ada apa dengan mimpi-mimpinya itu.
"Lo beda Lin? "Cetus Farhan sembari menatap ke arah Berlin.
"Beda gimana? "
"Ya lo beda aja, waktu lo belum ketemu arwah Arsyan lo gak se canggung ini, bahkan lo diam-diam nemuin gue di ruangan itu pas gue sakit! Lo gak berwajah dua kan Lin? Hahahah" Tanya Farhan di akhiri tawa yang sangat kencang.
Berlin yang berada di sampingnya diam beberapa saat, setelahny pemuda itu ikut tertawa namun dengan suara yang lebih pelan dari suara Farhan.
"Gue gak berwajah dua kok! Tapi gue masih gak nyangka aja, masak sih ada teleportasi roh? Biasanya teleportasi itu adanya perpindahannya antara masa depan dan masalalu? Nah ini jiwa? Kayak gak masuk akal aja,andaikan gue gak tahu ada orang yang mengalamai nya langsung, mungkin gue anggap semua itu adalah khayalan semata kayak di novel dan drama, Fiksi!!! Eh tapi ternyata ada! "Ujar Berlin dengan cengiran di sudut bibirnya.
__ADS_1
"Hahahah.... Gue pun juga awalnya gak percaya! Bahkan sampai saat ini gue barharap apa yang terjadi semua hanya mimpi. Mimpi buruk dimana gue saat ini masih tertidur dan nantinya akan terbangun dengan kembali. " Ujar Farhan menatap kosong ke arah jalanan yang padat kendaraan itu.
"Semua ini hanya mimpi, semua ini hanya mimpi! " Gumam Farhan dengan suara sangat lirih, tak terdengar oleh Berlin yang sudah berjalan di depanya itu.
Tiba-tiba langkah Pemuda itu berhenti dan menengok kebelakang, melihat Farhan yang masih terdiam disana.
"Farhan lo percaya sama gue kan? " Ucap Berlin darisana.
"Hmm, gue percaya karena sang pemilik tubuh ini juga mempercayai lo, gue harap semua janji-janji lo kepada Arsyan lo tepati! Kalau sampai lo ingkar janji atau bahkan berkhianat, awas aja lo, gue kirim lo ke tempat abadi! "Ujar Farhan menatap Berlin dengan tatapan tajamnya, membuat Berlin yang berdiri di depanya itu bergedik ngeri melihat tatapan Farhan.
" hiii, lo lebih nyeremin dari pada Arsyan! Bahkan lebih nyeremin di banding hantu-hantu yang gue lihat! "Cetus Berlin sebelum pemuda pendek itu berlari meninggalkan Farhan dibelakangnya.
" Anjir!! Awas lo Lin!! "Umpat Farhan.
" Sudah saya duga! Kebiasaan itu akan terus ada di dirimu! "
Farhan terhenti seketika, ia tersentak ketika mendengar seseorang berbicara tepat di telinganya, ia tahu suara itu bukan suara manusia melainkan suara makhluk astral yang sering menganggu nya, siapa lagi kalau bukan Estes? Entah kapan makhluk itu muncul, kenapa juga suara makhluk itu bisa tepat di telinganya. Namun, sosok itu duduk di bangku yang ada di depanya.
"Umur mu akan berkurang beberapa tahun"
"Hah? Apa-apan? Kok bisa? Gue salah apa sama lo? " Teriak Farhan , langkah kaki itu dengan cepat berjalan ke arah Estes yang duduk disana.
"Kamu ingat sanksi yang saya katakan?"Ujar Estes.
" Lalu? Apa hubungannya dengan umur saya? "Tanya Farhan dengan ucapan sopan, berharap makhluk itu tak jadi menghukumnya.
" Tapi dia indigo, tanpa saya ngasih tahu dia, anak itu sudah tahu sebelumnya. Dan lo, gak pernah ngasih tahu saya kalau sanksi yang saya dapat adalah pengurangan umur, bisa abis umur gue kalau gini caranya! "Ketus Farhan kesal, ia kembali ke mode awal dengan gaya bicaranya yang bar-bar.
" Inilah yang saya tidak suka dari kamu, kamu selalu berbicara seenaknya jidad! Kadang sopan kadang arogan! Kamu harus ingat siapa saya! Bahkan saya bisa saja mengajukan sebuah permintaan untuk kamu agar kamu tidak hidup lagi di sini! "Ujar Estes dengan nada kesalnya.
"Iya udah maaf, gue eh saya gak akan berbicara bar-bar kayak gitu lagi, saya tobat! "
Estes hanya menatap pemuda di depanya itu dengan jengah.
"Emm, Ngomong-ngomong? Saya bisa gak sih ngajuin permintaan agar si Suga jatuh cinta ke saya! Hahahah! " Ujar Farhan dengan polosnya.
"Bisa saja, tapi apa kamu sanggup hidup dengan Suga di tengah-tengah norma yang ada di negara ini? Apa kamu sanggup jika suatu saat kamu dan Suga di kucilkan? Karena hubungan kalian? Dan apa kamu sanggup menjalani cinta yang di dasari birahi saja? "
Farhan terdiam, pemuda itu bergidik ngeri mendengar apa yang sosok itu katakan, ia membayangkan betapa sengsaranya jika ia jatuh cinta kepada Suga? Bahkan laki-laki bar-bar itu, memikirkan bagaimana nasib cintanya jika tak di setujui dan tak di terima oleh para netizen Indonesia ? Hih ngeri? Pikir Farhan.
"Gak jadi dah, gak jadi, gue ngeri ngelihat the power of netizen julid! "Lirih Farhan.
"Kamu dan Suga hanyalah kakak adik untuk saat ini, dan tentang apa yang dia lakukan kepadamu saat itu, itu adalah perintah dari saya lewat bisikan-bisikan halus, agar kamu tahu,watak dari semua saudara yang Arsyan miliki! " Jawab Estes, sembari tersenyum kecil.
"Hmm, gue faham lagian gue juga normal kok, semua itu dulu hanyalah salah faham dan gue udah lupain! " Gumam Farhan menundukkan pandangannya.
__ADS_1
"Gue? "Sentak Estes tiba-tiba
"Maaf Saya maksudnya! "
"Saya gak mau ada cinta! Itu menyakitkan! Mungkin itu harapan ke dua saya! " Lirih Farhan, namun tentunya apa yang ia ucapkan masih bisa terdengar oleh sosok itu.
"Ucapan adalah sebuah doa, jadi kalau berkata harus baik, agar terkabul baik juga! Kamu harus bersyukur tentang apa yang kamu dapat! Dan masalah cinta? Tak ada kata sakit menyakiti,semua itu ada karena ketidak cocokan antara satu sama lain, percayalah jika kita berada bersama orang yang tepat kata sakit akan berubah menjadi kata 'Sosweet' " Ujar Estes memberi sebuah wejangan untuk pemuda itu.
"Asiap...Hahahah"
Farhan terkekeh, mendengar wejangan dari sosok itu, baru kali ini ia mendengar Estes dengan kata-kata milenial nya, anda saja sosok itu adalah manusia mungkin Farhan sudah mengajaknya untuk berteman. Pikir Farhan.
"Jangan tertawa berlebihan itu tidak baik!"
"Iya saya tahu! "
"Dan satu lagi, biarlah rahasia tetap menjadi rahasia, jangan membuka sebuah takdir, karena takdir itu juga rahasia dari alam semesta, dan alam semesta tak akan tinggal diam, jika ada seseorang yang membuka rahasia itu! Kamu faham Farhan? "
Farhan hanya menganggukkan kepala, ia mulai Faham dengan semua ucapan Estes. Bahkan dalam tunduk nya, air mata itu tiba-tiba saja jatuh dari pelupuk matanya, ia merasa apa yang dikatakan Estes itu benar, ia kurang bersyukur atas apa yang semesta berikan kepadanya.
Sosok itu masih berdiam disana.
KLIK......
Semua terhenti, ketika sosok itu menjentikkan jarinya.
"Lihat lah Farhan? " Ujar sosok itu, mencoba membuat keadaan Farhan menjadi lebih baik dari sebelumnya.
"Hah!!! Kok bisa? " Farhan tersentak, ketika melihat semua yang ada disana berhenti seketika, semua kendaraan ikut berhenti , pepohonan yang di terpa angin juga berhenti. Bahkan, Berlin yang sudah berjalan jauh di sana juga ikut berhenti.
"Saya bisa menghentikan waktu, tapi saya tidak bisa memutar masa lalu, semua orang tidak bisa kembali ke masa lalu, begitupun kamu. Saya harap kamu lebih bisa menerima takdir ini dengan sebaik-baiknya, dan jangan sampai kamu berpikiran sempit, lalu berbuat di luar nalar! " Ujar Estes setelahnya pergi begitu saja, meninggal Farhan yang masih tekejut melihat apa yang ia alami sekarang.
"Ih baru kali ini dia bijak! " Ujar Farhan, setelah beberapa saat sempat terdiam , karena melihat apa yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
KLIKKKKK.....
Suara jentikan tangan itu kembali ia dengar, namun tak ada sosok Estes disana.Pemuda melihat sekitar dengan senyuman takjubnya,dan benar semua telah kembali seperti semula.
"Itu hadiah untukmu, karena kamu sudah bisa sopan terhadap saya! "
Suara itu terdengar jelas di telinga Farhan. Kali ini ia benar-benar tahu, bahwa sebenarnya sosok Estes tak se resek yang pernah ia pikirkan.
"Terimakasih sosok unik. " Gumam lirih Farhan, setelahnya pemuda itu berlari mengejar Berlin yang sudah sangat jauh disana.
...****************...
__ADS_1
...****************...
...****************...