
Siang telah tiba, waktu sarapan pun telah Farhan lewatkan. Namun, dirinya masih di situ berdiri tepat di hadapan seorang pemuda yang tingginya hampir menyamai tinggi badanya. Mereka masing saling menatap, dengan tangan Farhan yang masih berada di cengkraman Devan.
"Lo lagi kabur kan.? "
Sontak pertanyaan yang keluar dari mulut Devan membuat Farhan menatap horor pemuda yang ada di depannya itu. Farhan masih berusaha melepaskan diri.Namun, cengkraman Devan semakin kuat.
"Lepas Devan...! Atau mau lo gue tonjok.!"Teriak Farhan dengan wajah yang sudah memerah.
Devan menatap Farhan dengan datar. Ia semakin mengeratkan cengkramannya pada tangan Farhan.tak hanya itu, Devan menyeret Farhan meninggalkan tempat dimana mereka berada Laki-laki itu mengabaikan tatapan orang-orang yang tertuju ke arah mereka berdua. Bahkan rontaan yang keluar dari mulut Farhan tak ia tanggapi. Sebenarnya seorang Farhan bisa saja menonjok Devan saat itu juga. Namun, ia mengingat rasa bersalahnya yang ada di masalalu. Bagi seorang Farhan masalalu memang tak semudah itu ia lupakan.
"Ngapain lo bawa gue ke minimarket.? "Tanya Farhan saat Devan baru saja keluar dari minimarket dengan membawa dua botol minuman di kedua tangannya.
"Gue masih ada urusan, ngapain sih lo.!"Sentak Farhan. Sesekali ia melihat sekeliling dengan rasa waspada ia takut sangat takut jika ia tertangkap.Bakal sia-sia bagi dirinya untuk melarikan diri.
"Udah jangan khawatir.! Disini aman kok. Lagian mereka juga gak bakal nemuin lo disini.! "Ujar Devan dengan tenang, sembari menyodorkan susu strawberry pada Farhan.
Melihat Farhan yang hanya diam saja,membuat Devan mendengus.Ia menarik tangan Farhan dan memberikan paksa susu strawberry tersebut.
"Nih, gue tahu lo butuh asupan untuk naikin mood. "Ujar Devan.
__ADS_1
Farhan masih terdiam, ia hanya menatap susu strawberry yang saat ini ada di genggamannya. Apa ia harus minum? Nanti kalau susu ini di racuni bagaimana.? Pikir Farhan.
"Udah gak usah banyak mikir.! Gue jamin ini aman.! "
Farhan mendongakkan kepalanya,menaikan sebelah alisnya. Ia mentap Devan dengan bingung!.
"Apa.? " Tanya Devan.
"Udah gue bilangin, lo gak bakal ketahuan disini. Jadi gak usah di pikirin.! "
Farhan mendengus kesal, siapa juga yang memikirkan apa yang Devan katakan. Ia sedari tadi hanya memikirkan nasib susu yang ia genggam! Haruskah dia minum atau tidak.
Pertanyaan Devan membuat Farhan menatapnya, ia tak tahu apa yang di maksud Devan dengan kali ini.? Namun itu hanya pikiran yang tiba-tiba lewat begitu saja di benak Farhan, setelahnya ia bersikap acuh kembali.
"Gue ada urusan sama temen gue di sini.! " Ketua Farhan mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia tak ingin menatap pemuda yang ada di depannya itu.
Devan menghela nafas, ia ikut mengalihkan pandangan ke arah jalan yang lengang, ia tahu betul dengan sosok di depannya itu tak nyaman dengan dirinya.
"Gue kira.... Gara-gara kejadian itu mereka akan berubah ke lo.! "Ujar Devan lirih, namun terdengar oleh Farhan dan berhasil membuat pria itu kembali menatap dirinya dengan penuh penasaran.
__ADS_1
"Mereka siapa yang ko maksud.? "
"Ya keluarga lo. Siapa lagi.? " Jawab Devan membuat Farhan semakin penasaran.
"Ohhh.! "
Devan terkekeh kecil mendengar jawaban singkat dari pria yang ada di depanya itu. Devan kembali menatp Farhan, kali ini tatapan Devan tak di abaikan.
"Hmm..! Sebenarnya gue bingung. Harus sedih atau senang lihat keadaan lo seperti ini.! "Jawab Devan.
Farhan semakin bingung dengan semua ucapan yang keluar dari Devan mantan sahabatnya. Ia merasa ada yang janggal dari semua perkataan yang Devan lontarkan pada dirinya.
"Maksud lo apa.? "Tanya Farhan.
"Gak..! Lebih baik lo kali ini gak boleh tahu dulu.! Belum waktunya juga.! "
Farhan mendengus kesal.Namun, ia tak mau ambil pusing tentang apa yang Devan katakan, bisa saja mantan sahabatnya ini sedang ngelantur.
"Ngomong-ngomong, lo kenal gue sejak kapan.? "Tanya Farhan setelah hening beberapa saat, dengan sedikit ragu. Tapi dia tentang satu hal, sedekat apa sang pemilik tubuh ini dengan Devan? Mantan sahabatnya itu.
__ADS_1