Love velisa

Love velisa
Lembar 45.Mimpi Devan dan Kembali ke Sekolah


__ADS_3

Seorang wanita memeluk Devan dengan erat, iya tahu bahwa pemuda itu sedang mengalami mimpi buruk lagi, tak hanya sekali, namun ini sudah berkali-kali pemuda itu alami.


"Devan sayang...! "


"Devan" Panggil wanita itu untuk kedua kalinya.


Devan hanya diam, pemuda itu menatap ke depan dengan tatapan kosong nya. Jiwanya seolah tidak ada di dalam tubuh pemuda itu.


"Ini Bunda"


"Sayang" Wanita itu melepas pelukannya, ia menatap wajah putra semata wayangnya itu bercampur dengan perasaan khawatir, wanita itu tak tega melihat putranya selalu mengalami mimpi buruk seperti ini.


"Sayang dengerin Bunda, ingat semua yang Devan alami hanyalah mimpi."


"Ta-tapi Devan---"


"Hust."


Ucapan Devan terhenti saat telunjuk jari bunda nya mendarat di bibir kecilnya, seaakan bunda nya sudah tahu apa yang akan Devan katakan padanya.


"Devan membunuh Farhan Bunda...! " Teriak Devan sejadi-jadinya.


"Devan jahat Bunda, Devan bukan sahabat yang baik" Lanjut Devan sembari menumpahkan semua air mata yang tertahan di matanya.


Wanita itu kembali memeluk tubuh Devan yang terus memberontak dengan brutal, membiarkan Devan menangis di pelukannya adalah tujuan wanita itu. Belum lama Devan mengalami hal seperti itu. Semua bermula ketika kepergian Farhan untuk selama-lamanya, tak hanya Devan yang terpukul, Bunda dari Devan pun ikut terpukul mendengar kabar tentang Farhan saat itu.


Lesna, mengelus punggung putranya, ia berharap putranya itu bisa tenang kembali,wanita itu tak tega jika harus melihat putra yang ia sayang i selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Farhan.


"Devan, Devan itu anak baik, Devan bukan pembunuh. Semua sudah takdir sayang. "


"Tidak Bunda, Devan pembunuh , seharusnya Devan yang mati bukan sahabat baik Devan, hanya Farhan Bunda yang Devan miliki. Hanya Farhan.! " Teriak Devan di sembari mengeratkan pelukannya,tangisan semakin menjadi-jadi disana.


"Devan! " Teriak Lesna tanpa sadar mendorong putranya itu dari pelukannya. Ia menatap sang putra yang ada di depannya dengan tatapan tajam.


"Dengerin Bunda! Berapa kali Bunda harus ngomong?Devan bukan pembunuh, Devan harus tahu itu! Putra Bunda bukan seorang pembunuh!"


Devan masih terisak, ia mengalihkan pandangannya dengan menatap sebuah foto yang terpampang di sudut sana, enggan memandang Lesna yang masih manatap nya dengan tajam.


Lesna menghela nafasnya, ia berusaha tenang. Walau sebenarnya ia sedikit frustasi. Sangat sulit memang, menenangkan putranya jika sudah kacau begini. Sejak kejadian itu psikolog Devan terganggu, ia memang terlihat baik-baik saja jika di luar. Namun saat kesunyian menghampirinya, Sifat kacau seperti ini akan Devan alami. Lesna bahkan sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membuat putranya itu kembali normal. Bahkan, ia sampai membuang semua hal yang berbau tentang Farhan. Namun, semua hasilnya nihil. Devan tetap menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian yang menimpa Farhan. Bahkan mimpi-mimpi buruk terus membuat sang putra menjadi kacau.Seperti yang sedang putranya alami saat ini.


Untuk ke psikiater , Lesna sudah membujuknya berkali-kali. Namun, putranya itu bersikeras kalau dirinya baik-baik saja.


"Sayang, minum dulu ya , pasti tenggorakan mu sakit nangis sedari tadi! " Ujar Lesna menyodorkan segelas air ke arah Devan yang masih dengan isak tangisnya.


Devan menatap minuman itu dengan ragu, ia melihat bunda nya yang mengangguk. Ia tersenyum kemudian mulai mengambil gelas itu dan meminumnya.

__ADS_1


"Terimakasih Bunda" Ucap Devan. Sebelum mata itu terpejam dan terlelap.


Lesna menangis tersedu, ia merasa gagal menjadi seorang ibu.Ia sangat kecewa pada dirinya sendiri ketika melihat putranya dalam keadaan seperti ini. Dengan perlahan Lesna membenarkan posisi tidur Devan, putranya itu terlelap dalam dekapanya. Hati orang tua mana yang tak teriris melihat keadaan putranya yang sedang seperti ini. Lesna dengan lembut menyelimuti Devan lalu mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang.


"Devan putra Bunda yang sangat baik, kepergian Farhan adalah takdir. Bukan salah Devan. "Bisik Lesna membelai lembut rambut Devan.


🐻


🐻


🐻


🐻


"Aghhhhh.... "Farhan mengerang dalam tidurnya, ia merasa terganggu ketika ada tangan yang membelai rambutnya.


"Hihhh. " Tanganya menepis sembarangan, membuat si pengganggu itu terkekeh gemas.


"Astaga, gue lagi tidur. Masih aja di ganggu. "Teriak Farhan dengan tubuh yang secara reflek terduduk.


Mata yang tadinya melotot tambah melotot, ketika dirinya melihat si pengganggu. Ia meringis ketika melihat orang di depanya terperangah mendengar teriakan bak toa miliknya.


"Emmm, pusing. "Farhan memijat pelipisnya, dan kembali merebahkan tubuhnya. Alasan, ya itu memang alasan yang Farhan buat, agar ia tak melihat orang yang menatapnya dengan sorot mata tajam yang jelas-jelas itu menganggu untuk dirinya.


"Anak nakal! Ternyata memang benar apa yang Suga katakan tentang dirimu yang bar-bar" Ucap Arthan dengan datar.


"Jadi kamu gak mau lihat wajah kakakmu ini? Kita jarang ketemu loh"Ucap Arthan berusaha bercengkrama dengan adiknya itu


"-"


"Sebenarnya kakak berencana untuk mengusur hal-hal supaya kamu bisa sekolah lagi, tapi ya sudahlah. Toh kamu juga gak mau bicara sama kakak. "Ujar Arthan,Sedikit memancing agar Farhan mau berbicara dengan dirinya.


" Apa kakak bilang? Sekolah? "Farhan terperanjat, ia kembali duduk,menatap Arthan tidak percaya.


"Arsyan! Ini bukan di hutan sayang! Kakak juga dengar! "


"Reflek kak, habisnya kakak ngomong setengah-setengah! "


"Astaga Arsyan ! " Arthan tak habis pikir, kenapa suara adiknya itu sekarang menjadi lebih menggelegar daripada biasanya.


"Kapan aku sekolah?" Tanya Farhan dengan nada seperti orang penasaran.


"Gak jadi, kamu di rumah saja homeschooling" Ujar Arthan dengan sedikit senyum sinis.


"Loh gak bisa gitu dong! "

__ADS_1


"Kenapa gak bisa? " Ujar Arthan


"Yaudah deh terserah! " Balas Farhan dengan sedikit kesal.


Arthan menatap Farhan dengan wajah datar, lalu berjalan kearah pintu.


"Kak...! Mau sekolah"


"Berisik Arsyan" Sentak Arthan yang berhenti tepat di depan pintu sebelum ia membalikan badanya.


Arthan berbalik menatap Farhan yang masih terduduk dia itu, ia menaikan sebelah alisnya, bingung. Namun, tak lama wajah datar itu mulai menampakan senyuman ringannya.


"Baiklah, besok semua sudah beres dan lusa kamu sudah bisa sekolah kembali"


Farhan mendongak, ia menatao binar laki-laki yang ada di depanya itu.


"Tapi dengan satu syarat! Dan itu harus kamu jalankan"


Binar itu meredup seketika, Farhan mendengus kesal kesal, mendengar kata persyaratan.


"Jangan memasang muka seperti itu, ini permintaan papa , yang harus kamu turuti"


"Bodo amat, males juga kalau sekolah ada syarat-syaratnya. Kayak gak ikhlas gitu nyekolahin anaknya, katanya kaya. Huh! " Dengus Farhan kesal.


"Mau sekolah engak? " Tanya Arthan memancing Farhan.


"Ya maulah! " Teriak Farhan, membuat Arthan dengan Reflek menggosok telinganya yang berdering.


Bagaimanapun, mau tidak mau ia harus kembali kesekolah. Toh sekolah Arsyan dengan dirinya sama, jadi Farhan tak perlu bersusah payah untuk beradaptasi, selain itu dirinya harus menemukan semua jawaban tentang kehidupan Arsyan. Termasuk kehidupan di sekolahnya yang Farhan sendiri tak mengetahuinya.


Arthan tersenyum miring


"Oke lah, besok papa akan ngasih tahu semua syaratnya, lebih baik kamu istirahat dulu! Jangan coba-coba untuk kabur! Kamu masih bisa lihat itu kan? " Ujar Arthan sembari menunjuk ke salah satu CCTV, sebelum dirinya beranjak pergi.


"Hmm ya saya tahu" Ujar Farhan singkat dengan mata yang bergulir ke arah lain.


❤❤❤❤❤❤


...****************...


❤salam cinta dari saya❤ terimakasih bagi yang sudah


1.membaca kisah ini dari awal hingga saat ini


2.Yang memberi Vote/like/gift

__ADS_1


3.Serta yang memberi masukan dan arahan.


semoga kalian semua sukses... ❤❤


__ADS_2