
"Ini adalah kesempatan terakhir kamu untuk bisa datang ke dalam mimpi Farhan! Gunakan kesempatan ini sebaik yang kamu bisa! Karena setelah ini saya tidak bisa membantu kamu untuk bertemu dengan dia kembali, waktu 99 hari kamu sudah habis di sini Arsyan!! " Ujar Estes.
"Baiklah! Saya akan pergi ke mimpi dia untuk terakhir kalinya, terimakasih kamu telah mewujudkan semua yang saya inginkan, bisa bertemu dia dan juga sahabat-sahabat saya adalah hal terindah yang saya harapkan! " Balas Arsyan dengan sedikit senyuman tulusnya.
....................................................
Hari berjalan begitu cepat, Farhan tak lagi menerima kabar tentang sahabatnya Devan, semenjak kejadian ia bertemu dengan Lesna saat itu, semua seperti berubah begitu saja. Farhan tak lagi memikirkan Devan, justru dia berbalik memikirkan semua ucapan Berlin beberapa waktu lalu, setelah cerita itu,kini Berlin seperti hilang di telan bumi, bahkan ia tak masuk sekolah, ketika Farhan ingin bermain ke rumah Berlin, justru ia mendapatkan kabar jika Berlin dan keluarganya pindah ke Australia. Farhan merasa kacau saat itu, ia tak tahu harus berbuat apa? Di tambah kehidupannya saat ini menjadi lebih ketat dari yang sebelumnya, ia hanya pasrah karena ini jalan satu-satunya ia bisa menebus apa yang Arsyan rasakan terdahulu, ingin mendapatkan sebuah perhatian dari keluarganya.
Sedangkan sosok Arsyan, menepati janjinya untuk datang ke mimpi Farhan, bahkan hampir setiap ia tidur sosok itu mendatanginya, raut muka yang berubah-ubah membuat Farhan semakin iba kepada sosok itu hingga puncaknya ia kembali bermimpi dengan sosok Han dan Syan, beberapa hari setelah ucapan janji yang sosok itu ucapkan kepada dirinya.
Flashback dream...
Farhan berdiri di sebuah bangunan megah, dan ia mengenali bangunan itu. Ya bangunan itu adalah rumah yang Arsyan yang saat ini ia tempati.
Farhan bisa melihat dua anak laki-laki bermain disana,tawa riang dan wajah bahagia terpancar jelas dari raut wajah dua anak itu.
"Han!!! Syan gak mau robot , Syan mau main mobil-mobilan!"
"Syan! Han juga gak suka main robot,robotnya buat Syan aja gimana? "
"Syan gak suka robot!! Syan suka mobil yang Han pegang!! " Teriak Syan.
Syan cemberut mendengarkan ucapan Han, namun tak lama raut wajah Syan berubah sumringah ketika Han dengan sukarela memberikan mobil-mobilan yang ia pegang kepada Syan.
"Mereka? Dua bocah itu? Adalah Syan dan Han?"Ujar Arsyan.
" Gue inget, mereka selalu ada di mimpi gue! "Sahut Farhan.
" Apa yang lo inget lagi? "
"Selain mereka berdua ada satu lagi yang akhir-akhir ini datang ke mimpi gue! " Ujar Farhan melirik Arsyan di sebelahnya.
"Siapa? " Tanya Arsyan memancing.
__ADS_1
"Suga! "
"Kamu tahu siapa Suga? "
"Dia kakak lo yang suka resek selama ini sama gue! " Ujar Farhan.
"Dia juga kakakmu! "Sanggah Arsyan membuat Farhan menatapnya dengan bingung.
"Sekarang lihatlah ke depan, lihatlah dengan jelas kamu akan tahu sebentar lagi! "
Farhan kembali menatap ke arah dua bocah itu, namun semua seperti berubah begitu saja, Farhan tak lagi melihat dua bocah itu bersama. Yang ia lihat didepannya itu justru....
Deg...
Deg...
Deg....
Dan mimpi itu berakhir hanya sampai dimana ia melihat Han dengan api yang menyala-nyala, ia terbangun dari tidurnya dengan keringat yang membasahi tubuhnya.
.....................................................
Farhan beranjak dari tidurnya, ia berjalan berkeliling di dalam kamar yang sangat besar itu, melihat-lihat semua yang ada disana. Namun, seperti biasa tak ada yang aneh bahkan tak ada yang mencurigakan di dalam kamar itu.
Farhan berjalan keluar dari kamarnya, berniat ingin mengambil segelas air minum yang ada di dapur. Langkah kaki itu berjalan dengan lamban, menikmati area demi area arah menuju dapur yang saat ini terlihat sangat sepi.
Langkah kaki itu terhenti tepat di depan sebuah pintu sebuah ruangan, ia ingat betul, ruangan itu adalah kamar Arthan. Pintu kamar itu sedikit terbuka seolah mengundang Farhan untuk masuk kedalam, dan ketika tangan itu membuka pintu itu dengan lebar....
Deg.
"Apa semua ini? "Sentak Farhan terkejut saat langkah kaki itu sudah terhenti di dalam kamar Suga yang kosong tak ada orang disana.
Farhan menatap dinding yang ada disana dengan tatapan tidak percaya.
__ADS_1
"I-itu gue? "Tanya Farhan dengan suara yang sedikit gemetar.
Farhan berjalan mendekati sebuah figura yang ada di dinding itu, ia ingin melihat dengan jelas poto yang terpajang disana, sebuah poto yang memperlihatkan lima anak, empat di antaranya anak laki-laki yang saling berpegangan tangan dan satunya adalah anak perempuan yang lebih kecil dari mereka sedang duduk di depan ke empat anak laki-laki itu. Mereka semua tersenyum lebar ke arah kamera.
"Han, Syan, Suga, Arthan, Alena? "Lirih Farhan ketika membaca tulisan yang ada di bawah bingkai poto itu.
" Jadi semua mimpi itu? Jadi gue.. Jadi Han itu? Gue? "Gumam Farhan masih tidak percaya dengan apa yang barusan ia lihat.
Farhan memandang dengan seksama, dan benar ia tahu betul salah satu di antara ke lima anak itu adalah dirinya, ia tentu saja ingat bagaimana wajah dirinya saat masih kecil. Karena hampir setiap moment ibu panti dulu sering menunjukkan poto masa kecilnya dan itu poto sendiri tak ada mereka di dalam poto miliknya. Saat itu juga, Farhan terduduk lemas tepat di bawah bingkai poto itu, ia tak habis pikir ternyata selama ini sosok Han yang datang di mimpinya adalah dirinya sendiri. Bagaimana mungkin? Ia memang tak bisa melihat dengan jelas wajah Han di mimpi itu. Namun, melihat Nama yang ada di bingkai poto itu, tak salah Han yang ada di mimpi itu adalah dirinya sewaktu kecil, pantas ia tak bisa melihat Han saat sosok itu datang ke mimpinya, bahkan sekali melihat dengan jelas, saat bangun dari mimpinya Farhan sudah lupa lagi wajah sosok Han itu.
Ini terlalu mengejutkan untuk Farhan, ia terus bergumam tak percaya, sesekali ia menundukkan kepalanya menolak untuk melihat poto yang ada di atas kepalanya saat ini. Ia berjalan mundur menjauh dari poto yang terpanjang sangat besar itu. Namun, saat berbalik badan, ia semakin terkejut ketika melihat banyak sekali poto masa kecilnya yang terpajang dengan rapi di kamar Arthan, kamar yang selalu terkunci rapat. Bahkan tak ada yang bisa masuk ke dalam kamar itu, Namun, entah takdir apa yang membawa Farhan tiba tiba-tiba bisa masuk kesana dan melihat semua yang ada disana dengan jelas.
"Apa gue bagian dari keluarga ini? Apa mereka orang tua gue? Tapi bagaiamana bisa? " Gumam Farhan ketika melihat salah satu poto masa kecilnya yang sedang di gendong oleh Nanda, ayah Arsyan. Dan di samping Nanda tentu ada Alasan yang memegang pundak Nanda.
Farhan menggelengkan kepalanya, ia tak percaya akan semua yang ia lihat saat ini.
"Takdir? Bagaiamana mungkin takdir bisa sekejam ini sama gue? "
"Sebenarnya gue punya salah apa selama ini? Kenapa gue harus mengalami ini semua? "
Prank...
Prank...
Farhan menggerang frustasi disana, ia menjatuhkan semua poto yang terpajang di tembok itu, satu persatu poto itu berjatuhan dan tentunya pecahan kaca berserakan dimana-mana. Farhan brutal malam itu, ingin rasanya ia melampiaskan semuanya kepada orang-orang yang ada di dalam poto tersebut.
"Jadi ini alasan gue bisa pindah ke tubuh bocah sialan ini? Akhh... Hati gue? "Farhan memegang dadanya yang berdenyut kesakitan, hingga tak lama kedua mata Farhan terpejam.Farhan jatuh tersungkur disana dengan pecahan kaca yang ada di samping kanan kirinya.
" Tugas kamu sudah sampai disini Arsyan, kamu sudah melihat saudara mu itu menderita, kamu tak akan ada kesempatan lagi untuk bertemu dengannya, untuk semua cerita indah tentang saudara mu itu, biarlah tetap menjadi sebuah misteri takdir, karena takdir manusia tidak boleh ada yang tahu akhirnya akan bagaimana! Kita juga tidak boleh mengubah takdir yang sudah tertulis untuk kita dari alam! "Gumam Estes yang melihat Farhan berbaring lemah disana.
" Terimakasih untuk semuanya Farhan, pernah menjaga dan merawat gue sampai saat ini. Maaf kan gue jika lo harus terlibat takdir menyedihkan ini, percayalah kita pasti akan bertemu kembali dan pasti suatu saat kamu disana akan tahu kenapa kamu harus mengalami ini semua!! "Gumam Arsyan, yang berdiri di samping Estes, melihat Farhan terkulai lemah disana. Arsyan meneteskan bulir-bulir air mata ketika melihat tubuh Farhan tiba-tiba menghilang begitu saja, dan tak lama setelah tubuh Farhan menghilang mereka berdua ikut menghilang begitu saja bersamaan.
----- END-------
__ADS_1