Love velisa

Love velisa
Lembar 66.Usai


__ADS_3

#Flashback


Devan diam, ia menatap Farhan tajam. Egois sangat egois, Devan tak ingin berempati kepada orang di depannya untuk saat ini. Devan harus bersikap egois saat ini, semua demi kebahagiannya. Ia terpakasa melakukan semua ini karena keharusan.


"Pergi Farhan!! Gue udah muak lihat wajah lo!! Pergi!!! "Teriak Devan menatap tajam pada Farhan yang berdiri tak jauh di depannya.


" Lo udah merebutnya!! Lo merebut kebahagiaan gue! Dan juga kebahagiaan orang lain! Gue berhak bahagia Farhan! Bisakan gue bahagia sendirian tanpa harus berbagai sama lo! Farhan? "Wajah Devan sudah memerah sepenuhnya, amarahnya kini sudah tak bisa ia tahan lagi, ia hanya ingin orang di depannya itu mengerti keadaannya.


"Apa yang lo maksud Devan? Gue merebut apa dari lo? Kebahagiaan lo yang mana yang gue rebut? "Gumam Farhan menatap Devan bingung tentang semua perkataan yang di maksud sahabatnya itu.


" Lo masih nanya? Jangan pura-pura bego? Lo udah merebut kasih sayang keluarga gue ! Dan sekarang-? "


"Apa sekarang apa lagi yang gue rebut? Gue gak pernah rebut siapapun dari lo! " Teriak Farhan memotong ucapan Devan yang belum usai.


"Lo sahabat macam apa yang merebut orang yang di sukai sahabatnya sendiri? Hah! "


Farhan terdiam seketika, sesaat setelah sahabatnya itu mengucapakan kata orang yang di suka? Siapa itu? . Farhan benar-benar tak tahu! Bahkan dirinya menatap Devan dengan tatapan bingungnya.


"Van? Hahaha" Farhan tertawa sumbang.


"Inilah yang gue takutin bahkan gue selalu berpikir kalau ini bakalan terjadi! Alasan utama yang membuat gue gak mau tinggal sama lo! Tapi lo sendiri yang membujuk gue untuk mau tingga bersama lo dan keluarga lo! "

__ADS_1


"Fine!! Semua memang salah gue Far! Kenapa juga bisa tertipu sama muka polos lo! Bahkan, kenapa gue bisa juga bersahabat sama lo! Gue nyesel Far, kenal lo! "Ujar Devan.


" Sebenci itukah lo sama gue? Asal lo tahu Van! Gue gak pernah sedikit pun menyesal bersahabat sama lo! Kita udah sahabatan sejak kecil. Bahkan baik buruknya gue hanya lo yang tahu!Gak cuma itu! Lo harus tahu hanya lo yang gue punya! "Ujar Farhan menatap Devan dengan tatapan sendu.


" Dan satu lagi! Ini yang harus lo tahu! Gue gak ada niatan satu jengkal pun untuk merebut kasih sayang yang lo miliki!Gue.... Gue kira lo? "Farhan menelan salivanya dengan susah payah, berusaha mengatakan sesuatu yang mungkin saja sangat berat untuk ia katakan.


" Gue kira lo gak bakal berpikir sampai sana. . Maaf Devan! Kalau gue seperti itu! Tapi asal lo tahu dari lubuk hati gue yang paling dalam, gue gak ada niatan merebut apa yang sudah lo punya! Kebahagiaan lo, kasih sayang dari keluarga lo, bahkan semua yang lo miliki gue gak ada niatan mengambilnya!Jika menurut lo gue hanya beban di kehidupan lo! Sesuai apa yang lo minta gue akan pergi! "Ujar Farhan, ia menatap Devan yang masih terdiam disana. Tatapan sangat tulis ia berikan untuk sahabatnya itu, sesekali senyuman luas ia pancarkan dari bibir manisnya hanya untuk sahabat baiknya itu.


Devan terdiam, ia merasa ada yang salah disini! Namun, Devan segera membuang pikiranya itu. Devan hanya ingin semuanya kembali,ia hanya ingin hidup dengan apa yang ia punya, ia hanya ingin semua kembali kepadanya. Ia juga menginginkan keluarganya hanya berfokus kepada dirinya seorang bukan kepada Farhan. Ia mungkin bisa hidup lebih bahagia tanpa kehadiran Farhan! Pikir Devan.


Rasa iri, dan cemburu menjadi penyebab utama kehancuran persahabatan mereka. Rasa percaya kini mulai hilang hanya karena sebuah Ego.


"Iya pergi!!! Pergi sana!! Jangan pernah kembali!! "Ujar Devan, kemudian berjalan menuju pintu kamar Farhan. Sebelum suara Farhan menghentikan langkahnya kembali.


Devan memejamkan matanya, sebelum ia keluar dari kamar Farhan, tentunya dengan emosi yang masih membakar pemuda itu.


Brag...


Suara pintu terbanting sangat keras.


Prang....

__ADS_1


Sebuah bingkai foto yang tergantung di sebelah pintu, terjatuh begitu saja, membuat kaca yang ada di dalam figura itu pecah dan menyebar ke mana-mana.


Farhan berjalan, mendekati bingkai foto yang sudah hancur berkeping-keping itu.


"Awwww.. " Tanpa sengaja dan tentunya karena kecerobohan seorang Farhan, ia menginjak serpihan kaca itu, membuat kaki Farhan sedikit berdarah.


Farhan mengambil selembaran foto itu, di sana ada dirinya dan Devan ketika masih duduk di bangku sekolah Dasar. Saat itu Farhan masih tinggal di panti, dan semua baik-baik saja, sebelum ego menghancurkan semuanya begitu saja.


Tak berhenti disitu, di dalam foto itu, menunjukkan berapa eratnya kisah persahabatan mereka, terbukti dari pakaian yang kedua anak itu gunakan. Sama, bahkan topi beserta sepatu pun sama.


Farhan teringkat saat itu, saat dimana Devan, merengek ingin menggunakan apa yang Farhan gunakan.


"Mungkin kisah persahabatan ini hanya sampai disini saja Devan, selamat tinggal" Ujar Farhan lalu menaruh selembar foto itu di tas kecil yang ia bawa.


Farhan segera mengemasi semua bajunya yang ada di kamar itu, tak hanya baju semua barang pribadi yang ia bawa dari rumah panti ia kemas i tanpa ada sisa, sesekali bulir air mata itu jatuh dengan sendirinya, ia tak menyangka sebelumnya, jika kisah persahabatan yang ia untai sekian lama harus hancur hanya karena ego di antara mereka.


Farhan berjalan ke arah meja belajar, tak lupa ia merapikan semua buku pelajaran yang ia miliki disana. Farhan, yang di serang dilema besar, terdiam sesaat. Sebelum dirinya merobek satu kertas lalu menelusi sesuatu di atasnya.


"Semoga lo tahu kalau gue tetap akan jadi sahabat lo selamanya" Gumam Farhan, lalu menaruh secarik kertas itu di atas meja belajar, berharap Devan menemukan lalu membaca isi surat tersebut.


"Benar apa yang lo katakan, gue hanya anak pembawa sial, dan hidup gue juga kagak jelas! "Ujar Farhan, dengan kepala yang mendongak mencoba menahan air mata itu agar tidak jatuh kembali.

__ADS_1


" Inilah yang harus Lo Terima, jika Lo serakah! Farhan! Persahabatan gak cuma hancur tapi sudah usai begitu saja! Tentunya dengan ending yang tak pernah kau harapkan! Dasar bodoh!! Lo memang bodoh! Bahkan lebih bodoh dari lo yang dulu!"Farhan terus mencaci maki dirinya sendiri, hingga bulir air mata itu lagi-lagi kembali jatuh dengan sendirinya.


"Jika memang usai biarlah usai! Ini semua lo sendiri yang membuatnya usai! " Gumam Farhan sembari menyeka air mata yang telah membasahi pipi nya itu.


__ADS_2