
46.
Ruangan ICU begitu mencekam, hanya ada Hellen yang terbaring lemah dan dokter gadungan, Lisa. Yang terus menatap Hellen seperti ingin menerkam nya mentah-mentah.
"Kamu mau cepet nyusul Rojer? Atau, mau ngaku ke semua orang siapa pembunuh aslinya! " Lisa membisikan kata-kata yang seharusnya tak ia katakan di telinga Hellen.
Sembari merapikan jas yang ia kenakan, perlahan Lisa pergi meninggalkan Hellen yang masih terbaring koma itu.
************
"Bima, cepat habisin wanita itu! Atau semua rencana kita akan gagal" Suara Velentina menggema di ruangan itu, membentak sangat putra yang terlihat sangat tak bersemangat sepulangnya dari dunia manusia.
"Bunda tahu, sejauh apa hubunganmu sama Velisa gadis manusia itu, bunda tahu! Tapi saran bunda habisin dulu temanya satu persatu agar rencana yang kita susun tidak berantakan! "
Dalam fikiran ratu jahat itu hanyalah darah suci, tanpa ia sadari akibat ulahnya sendiri, putra yang ia cintai, putra yang harusnya menuruti perintahnya malah benar-benar jatuh hati kepada Velisa gadis manusia yang memiliki darah suci.
Jangankan menghisap dan melukai Velisa, melihat Velisa di bully banyak orang membuat Bima seperti orang gila yang selalu menyalahkan dirinya sendiri tanpa alasan yang jelas.
Apakah gue sanggup ?
Apakah gue mampu?
dua kalimat itu melayang-layang di benak Bima yang bingung harus memilih antara Velisa atau darah suci, karena hanya salah dati antara kedua itu yang bisa ia dapatkan.
"Bim, kenapa lo tega sama gue? Kenapa lo juga tega sama sahabat gue Velisa? Jadi selama ini lo cuma ngincer darah sucinya? Lo gak benar-benar cinta padanya? " Gumam batin Freya ketika mendengar percakapan antara Bima dan sang bunda, ia ingin berontak tapi semua badanya terikat, ia ingin berteriak tetapi mulutnya di bekap, ia ingin menampar laki-laki itu sayangnya tanyanya di juga terikat sangat kencang dan hampir mati rasa.
Apakah yang harus dirinya lakukan?
__ADS_1
Apalah semua akan berakhir disini?
Apalah ia tak bisa menyelamatkan Velisa?
"Oh Tuhan, kenapa gue harus di posisi ini? Apakah gue banyak salah Tuhan?. "Gumam hari kecil Freya meratapi apa yang sedang ia alami, ia merasa gagal karena tak bisa melindungi sahabat yang ia cintai, jangan kan melindungi Velisa, tuk melindungi dirinya sendiri saja dia tak becus.
" Baiklah bunda, malam ke 6 bukan purnama Freya, wanita yang bunda sekap akan Bima habisin di depan mata bunda. "Ujar Bima sembari melirikan matanya ke arah Freya yang berusaha melepaskan diri dari ikatan yang di buat Valentina itu.
"Bulan ke 6,bulan purnama? Tinggal beberapa minggu lagi! Cepat lakukan atau bunda sendiri yang akan habisin manusia itu. " Ujar Valentina sembari pergi meninggalkan Bima.
Bima yang berada di ruangan bawah tanah tak kuasa kala melihat Freya yang sedari tadi berusaha melepaskan diri, air mata itu tak lagi dapat Bima tahan, tiba-tiba pipinya basah penuh dengan air mata yang berjatuhan dari mata elangnya.
Walaupun seorang Bima tak punya jantung seperti manusia! Setidaknya ia masih punya perasaan iba, perasaan jatuh cinta, perasaan sakit dan perasaan sakit hati. Sama seperti manusia pada umumnya.
Bima hanya menatap sendu Freya yang semakin lama semakin melemas, tapi? Apa yang bisa ia lakukan?Ia hanyalah seorang putra dari ratu vampir yang harus menuruti apa saja perintah yang di berikan kepadanya, tak terkecuali membunuh orang yang cukup denganya.
Bima berjalan menjauh dari ruangan yang gelap dan lembab itu, berusaha menepiskan keraguan yang ada di benaknya, ia hanya tak ingin wanita itu membongkar identitas asline kepada Velisa, wanita yang saat ini ia cintai.
"Sheren! Coba cari putri bapak! Sudah berhari-hari ia tak ada di sekolah, bapak punya firasat pasti Velisa bergaul sama geng itu lagi! "
Johan, pria yang menganggap dirinya seorang ayah bagi Velisa, menyuruh anteknya yaitu Sheren, untuk mencari tahu keberadaan Velisa, bersama siapa dan sedang apa. Johan, orang yang paling di benci Velisa semasa hidupnya, ia tak pernah membebaskan Velisa bergaul sama siapa saja. Bahkan, Johan yang tak lain ayahnya sendiri tak membiarkan Velisa untuk bermain atau berteman dengan geng Devil dan geng Angel yang ia bentuk sendiri. Alasan yang masuk akan bagi Velisa untuk membenci pria seperti Johan. Image dan nama baik mungkin itu alasan johan mengekang putrinya agar tidak mencoreng nama baiknya atas semua perbuatan yang putrinya lakukan.
"Biaklah!" Ucap Sheren mengerti, dan mencoba menghubungi Velisa dengan ponsel pribadinya.
Tut....!
Suara telpon berbunyi,
__ADS_1
"Sheren? Pasti ayah gue yang nyuruh. " Dengan sekejap Velisa mematikan handphonenya tanpa menggubris Sheren yang mencoba menelfon nya.
Velisa sangat kesal, karena kehidupannya di atas oleh sang ayah walau dirinya tahu. seorang Velisa bisa meminta apapun dari Johan sang ayah. Mobil mewah ia punya, ATM dengan jumlah uang yang fantasi Velisa juga punya. Bahkan Velisa ketika ulang tahun nya yang ke 15 Johan rela memberikan Penthouse seharga 7milyar atas nama puterinya sendiri. Ia hanya ingin kebutuhan putrinya tercukupi
Terapi semua bagi Velisa hanya tipu daya, ia tahu semua yang di berikan sang ayah tidaklah gratis, Johan, hanya ingin putrinya itu menjauhi semua anggota geng yang mungkin bisa mencoreng reputasi sang ayah.
"Gimana? " Tanya Dengan sedikit khawatir.
Sheren hanya menggeleng kan kepalanya. Karena tak ada jawaban dari Velisa baik chat ataupun telfon balik.
Johan hanya diam, sembari memasang wajah kesal karena tingkah putrinya yang keras kepala.
❤
❤
❤
"Tuhan, kenapa teman gua kagak sadar juga? " Gumam Lintang yang hampir putus asa karena Hellen yang tak kunjung sadar.
"Lo tenang aja! Pasti dia sadar. " Kimberly menepuk bahu Lintang, dan mencoba menenangkan pria yang gundah gulana itu.
"Bima kemana Vel? " Semua menatap Velisa, ketika sebuah Pertayaan dari Steven membuyarkan lamunan semua orang.
"Tadi pamit ke gue, katanya mau ada makan malam sama tantenya yang barusan tiba dari Australia. " Velisa menjawab perkataann Steven dengan santai tanpa mencurigai dimana keberadaan Bima.
Steven hanya terdiam! Ia tahu akhir-akhir ini Bima memang sering pergi tanpa pamit dan datang lagi dengan berjuta informasi. Kelakuan Bima membuat Steven dan Edward sebenarnya sama-sama curiga dengan sifat aneh Bima, akan tetapi mereka memilih diam karena tak ingin beban fikiran Velisa bertambah banyak.
__ADS_1
"Tuh! " Edward bergumam ke arah Steven, akan tetapi gumaman pria itu tak di gubris oleh Steven, karena ia tahu ini bukan posisi yang pas untuk saling curiga satu sama lain.
"Yaudah gue beli makan dulu! Kasian kalian belum makan! " Kimberly berjalan menjauh dari semua teman-temanya berniat ke kantin untuk membeli beberapa bungkus makanan ringan untuk semua temannya.