
______FLASHBACK-----π₯π₯π₯
Lanjutan dimana Berlin masih terlelap disana, dan dia bermimpi tentang kisah masa lalunya bersama sahabat baiknya. Arsyan...
...****************...
...****************...
Seorang pemuda masih termenung di sana! Dengan sejuta harapan yang entah bisa ia dapatkan atau tidak.
"Andai saja, gelang merah ini bisa menjadi jembatan harapan gue seperti di novel yang gue baca. Pasti semua akan berjalan sesuai yang gue mau! Gue ingin merubah kisah ini, walau nyawa gue taruhannya! "
"Arsyan cukup!!!! "Sentak Berlin, ia tak suka dengan apa yang sahabatnya katakan barusan.
Arsyan menatap Berlin dengan mata yang berkaca-kaca, Berlin tersentak melihat sahabatnya itu. Baru kali ini dalam hidupnya melihat bagaimana berantakan nya orang di depanya saat ini. Arsyan mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela, ia meremas selimut dengan sangat erat.
" Sebaiknya lo pergi Berlin! Gue mau sendiri! "Ujar Arsyan.
" Arsyan, maafin perkataan gue! "Ujar Berlin berusaha mendekap sahabatnya itu.
" Pergi! "Teriak Arsyan mendorong badan Berlin yang berusaha memeluknya.
Berlin masih terdiam disana, ia menatap sahabatnya yang sedang kacau itu.Ia menghembuskan napas kasar melihat sahabatnya yang enggan menatap wajahnya.
" Yaudah gue mau cari makan dulu! Nanti gue balik lagi buat jagain lo! "
"-"
"Arsyan? " Tegur Berlin saat ucapannya tak di jawab oleh Arsyan.
"Iya"
Bodohnya Berlin saat itu, ia meninggalkan Arsyan seorang diri dalam keadaan kacau. Hingga penyesalan itu datang secara tiba-tiba ketika dirinya kembali ke dalam ruang rawat Arsyan,baru saja pintu terbuka,ia sudah melihat sahabatnya itu terkurai lemah di atas bankar rumah sakit dengan mulut yang sudah mengeluarkan busa.Berlin yang panik memanggil dokter dengan kalang kabut.
"Apa yang terjadi sama adik saya !!!!! "Suara Arthan saat itu membuat tubuh Berlin bergetar, bukan karena takut. Lebih tepatnya ia merasa bersalah karena sudah mengecewakan orang yang mempercayainya untuk menjaga Arsyan.
" Ma-af Tuan Arthan, maafkan saya, saya gagal menjaga Tuan Arsyan! "
"Kamu sahabat macam apa? Tidak bisa menjaga teman mu sendiri! Kamu memang tidak berguna untuk menjadi seorang sahabat? Lebih baik kamu pergi dari sini! "Ujar Arthan, menatap tajam lawan bicaranya.
" Tolong, jangan usir saya Tuan! Izinkan saya untuk menjaga Tuan Muda Arsyan lagi! Beri saya satu kesempatan lagi Tuan! Saya janji tidak akan mengecewakan Tuan untuk kedua kalinya! "Berlin terus memohon kepada Arthan, ia tak mau jika harus berhenti untuk menjaga sahabatnya itu. Hanya Arsyan yang ia punya, demi bisa menjaga Arsyan, ia rela melakukan apapun termasuk harus memanggil Arsyan dengan sebutan 'Tuan Muda'.
Arthan yang mendengar permohonan Berlin, hanya diam sejenak ia berpikir, bagaimanapun juga ia masih membutuhkan Berlin untuk menjaga adiknya, tanpa Berlin? Tak akan ada yang bisa menjaga adiknya itu.
__ADS_1
" Baiklah, jangan buat saya kecewa untuk yang kedua kalinya! Saya gak suka memberi kesempatan ke tiga! "
"Baik Tuan! Saya janji! "
Berlin memberi hormat kepada Arthan yang berjalan melewatinya, walaupun ia sahabat Arsyan. Namun, ia tak bisa berbuat seenaknya, ia tahu siapa dia! Bahkan dia sadar posisi dia hanyalah sebagai anak miskin yang di beri kesempatan bisa berteman dengan anak konglomerat ternama. Ia pun tak minta banyak hal. Bisa berteman dan di izinkan berteman oleh Arsyan saja itu sudah lebih dari cukup. Apalagi sampai masih di kesempatan ke dua untuk menjaga sahabatnya itu, ia tak mungkin menyia-nyiakan kesempatan kedua yang Arthan berikan kepadanya.
Berlin berjalan ke arah tempat duduk di seberang sana, lalu terduduk sembari menundukkan kepalanya, ia sangat menyesali apa yang terjadi terhadap sahabatnya itu.
"Andai saja gue tidak pergi dari sana! " Gumam Berlin sembari meremas tanganya sendiri.
"Seandainya harapan yang lo buat itu benar nyata! Gue harap lo suatu saat nanti bisa melupakan hal buruk yang pernah lo alami di masa lalu" Gumam Berlin.
...****************...
...****************...
...****************...
Berlin terbangun dari lelapnya, tanpa ia sadari wajahnya sudah basah dengan air mata. Dia menangis? .
"Mimpi yang indah, terimakasih pohon, terimakasih angin! Setidaknya saya bisa bermimpi hal seperti itu! " Gumam Berlin, ia terduduk sembari menyeka sisa air mata yang ada.
"Gimana keadaan Arsyan? Gue harus kesana! " Ujar Berlin lalu berjalan kembali menuju ke arah tempat dimana sahabatnya saat ini berada.
Dengan hati yang mantap, Berlin memberanikan diri memasuki ruangan yang sangat besar itu. Tanpa ada keraguan sedikitpun.
Cek lek....
Pintu terbuka lebar, dan benar saja sahabatnya yang sangat ia jaga dulu masih terbaring disana, dengan selimut yang hampir menutupi semua badanya.
Berlin melanjutkan langkahnya, hingga langkah itu terhenti saat dirinya sudah berada tepat di sisi sahabatnya yang masih terlelap.
"Maafin saya Tuan!" Gumam liruh Berlin sembari mengusap pipi sahabatnya itu.
"Apa menurutmu sebuah harapan itu ada?"
Berlin tersentak seketika, saat pemuda di sampingnya itu mengeluarkan kata-kata.
"-"
"Gue tahu kita dulu sahabatan, tapi gue gak ngerti kenapa sekarang setiap gue ingin bicara sama lo,mereka seolah-olah melarang agar gue gak deket-deket sama lo! " Ujar Farhan, ia terduduk sembari menatap sendu pria yang ada di dekatnya saat ini.
"Karena kita memang gak sedekat yang anda pikir! "Jawab Berlin dengan wajah datar.
__ADS_1
"Apa menurutmu mitos gelang dari benang merah itu benar-benar ada? "Tanya Berlin .
" Hah maksud lo ? "
"Seribu gelang yang terbuat dari benang merah bisa membuat harapan itu jadi kenyataan! Bahkan orang yang memakai gelang itu akan hidup kembali dengan cerita yang lebih baik dari kisah hidup yang sebelumnya?"
"Hahhah mana ada? Jika ada gue pasti udah jualan tuh gelang atau enggak ya gue buat seratus ribu dah ! Agar harapan gue terkabul semua! Jadi gue gak usah pusing mikirin hidup di tubuh ini! "
Berlin tersentak mendengar jawaban dari orang di sampingnya itu. Dan saat itu Berlin tahu ada yang berbeda dari sahabatnya itu. Orang yang menurutnya sangat familiar sebenarnya terasa asing.
"Kalau apa yang gue katakan itu ada? Apa yang bakal lo pinta? "Tanya Berlin.
"Simpel, gue ingin semua orang-orang yang pernah baik sama gue hidup dengan damai, hidup dengan bahagia, baik saat ada gue atau enggak sama sekali. Gue harap mereka bisa menjalani hidup dengan sebaik mungkin! " Jawab Farhan.
"Lalu untuk kehidupan ke dua? Apa lo gak mau! "
Mendengar pertanyaan yang Berlin lontarkan kepadanya, membuat Farhan terdiam, ia tak bisa menjawab tapi harus ia jawab agar orang di sampingnya itu tidak tahu siapa yang ada di tubuh sahabatnya saat ini.
"Gue sudah mendapatkan kehidupan ke dua, sejak tersadar dari koma, namun semua menjadi lebih buruk dari sebelumnya. "
Berlin terdiam, ia melihat Farhan dengan tatapan dalamnya. Mata itu adalah mata yang memancarkan sebuah perbedaan, Berlin pernah berada di situasi yang sama seperti ini dan bersama orang yang saat ini berada di dekatnya. Akan tetapi dulu orang itu memancarkan binar putus asa.Berbeda dengan sekarang, walaupun dengan orang yang sama. Namun, sorot matanya kali ini memancarkan sebuah harapan dan keinginan yang masuk akal, bukan lagi sebuah harapan yang penuh keputusasaan.
Siapa orang ini?
...----------------...
...----------------...
...----------------...
**Hallo.... Gimana kalian pasti bingung yaπ maaf ya di 2 bab ini memang isinya Flashback semua, ya karena nanti tokoh-tokoh antara Berlin, Claudia dan Arsyan yang aslin akan saling berkaitan, kenapa Arsyan bisa bunuh diri, dan dari sini pasti kalian tahu kan siapa yang Arsyan maksud (Dia) itu? pasti sudah tahu kanπ ..
Dan pasti ada yang bertanya-tanya, kenapa bisa roh Farhan berteleport ke tubuh Arsyan?Dan dimana Roh Arsyan?
dan pasti ada yang berpikir 'Farhan bisa hidup kembali karena gelang merah buatan Arsyan?.
ada juga nih pasti yang nanya.. Apakah Farhan menerima gelang itu? lewat siapa? semua akan kami jawab nanti di next BAB π₯*
...***************...
...****************...
...****************...
__ADS_1
...****************...