Love velisa

Love velisa
Lembar 65.Anak Buangan?


__ADS_3

Farhan terdiam ia menatap Estes dengan tatapan heran yang ia simpan.


Sebijak inikah pembawa pesan itu ?


Atau jangan-jangan ada maksud yang Estes sembunyikan dari dirinya?


Pertanyaan-pertanyaan itu menghantui benak Farhan, apakah anak itu berniat untuk bertanya kepada sosok itu? Tentu saja tidak! Farhan hanya diam seribu bahasa namun tatapannya tak lepas dari sosok yang sudah menghilang tersebut.


"Heii!!!!saya belum bertanya tentang berapa lama hidup saya di dunia Arsyan? Kacau dong kalau saya tiba-tiba koit lagi tanpa sebab! "Drang Farhan sembari mengacak rambutnya sendiri.


" Nanti kalau gue mati tanpa sebab! Di kira orang bunuh diri! Hahahah"Farhan terkekeh memikirkan hal gila yang ada di benaknya saat ini.


"Mampus gue telat! Mana si Berlin udah pergi duluan? Awas lo pengantar pos!!" Teriak Farhan membuat orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya menatap aneh ke arahnya.


Menit berganti menit, jam berganti jam waktu terus berputar dan tentu saja Farhan masih menyusuri jalanan itu.


"Dah lah gue cabut saja!! Lagian gue udah telat! Yang ada gue bisa di geprek abis sama orang-orang disana! "Gumam Farhan ketika sudah menyusuri jalanan itu dari ujung ke ujung tak jelas.


Farhan berjalan berniat ingin pulang, tentunya langkah kaki itu ia bawa menuju rumah aslinya, bukan rumah milik Arsyan.


Perjalanan demi perjalanan ia susuri, hingga langkah kaki itu kembali berhenti di sebuah gang kecil di seberang sana. Dengan mata sedikit berkaca-kaca,Farhan melangkahkan kakinya menyeberangi jalan dan memasuki gang tersebut, tentunya dengan perasaan campur aduk yang membara.


" Akhirnya gue pulang juga! "Gumam Farhan ketika sudah sampai tepat di depan bangunan tua itu.


Perlahan, langkah kaki itu berjalan memelan, ketika dirinya sudah berada tepat di depan pintu masuk bangunan itu. Namun, kenapa pintu itu tak tetutup rapat? Apakah ada maling? Pikiran brutal seorang Farhan membuat pemuda itu dengan sigap membuka pintu itu.

__ADS_1


" Anjirr Maaaaaaaa-Astaga Devan? "Teriakan Farhan berhenti, ketika melihat sahabatnya Devan yang sudah berdiri di depannya.


" Arsyan??"Tanya Devan menatap Farhan bingung.


"Hah!!!Lo ngapain di sini? "Tanya mereka berdua sserentak.


Farhan terdiam sejenak, ia berpikir, kalau seorang Devan di sini itu sudah wajar, toh mereka dulu temanan antara dirinya dan Devan, bahkan kunci rumahnya saja Devan tahu. Yang aneh itu justru kenapa Arsyan yang tubuhnya sekarang ia pakai itu harus berada di tempat itu?


" Bodohnya gue"Gumam Farhan lirih.


Farhan kembali terdiam, ia mengumpat dalam hatinya, tentang kecerobohan kedua yang ia buat, selain ia tak ingin umur nya berkurang, dirinya juga bingung harus berkata apa di depan sahabatnya itu.


"Arsyan? "


Flashback....


Bugh.....


" Anjirr!! Jadi orang jangan munafik Farhan!!!! Lo tau gak Lo itu munafik! "Teriak Devan setelah satu pukulan mendarar di pipi Farhan.


Farhan tersungkur di tempatnya, ia menatap wajah Devan yang memerah karena amarah yang sudah mencapai puncak. Bahkan dirinya juga tak tahu jika Devan memiliki daya pukul yang sangat kuat. Farhan sendiri juga tak tahu apa yang merasuki tubuh sahabatnya? Kenapa sahabatnya bisa brutal seperti ini. Bahkan Farhan hanya bisa diam mematung ketika Devan sahabatnya memukul pipinya dengan sahabat keras.


" Gue dan lo sahabatan? Hahaha semua itu hanyalah omongan mu saja, Munafik!!! "


"Astaga! Devan, lo kenapa sih? " Tanya Farhan pada akhirnya, sembari mengusap ringan bekas pukulan yang Devan daratkan tepat di pipi sebelah kanannya.

__ADS_1


"Lo masih nanya? Gue kanapa? Gak usah sok polos lo? Jangan jadi pembohongan apalagi sok lugu! "


"Devan! Gue benar-benar gak tahu apa yang lo maksud? Gue nanya baik-baik! " Sentak Farhan.


"Dasar munafik, dasar pembohong!!! Anak pembawa sial!! Anak buangan!! "


Bugh....


Satu pukulan mendarat tepat di rahang seorang Devan, Farhan tak bisa mengontrol lagi emosinya, ketika sahabatnya itu mengumpatinya dengan julukan 'Anak buangan'


"Lo udah kelewat batas Devan!! Gue nanya baik-baik dan lo malah ngegas! Gue gak faham jalan otak lo! "Geram Farhan.


"Hahaha!Gue nyesel punya teman kayak lo Farhan! Nyesel banget!! Cuihhhh! " Ujar Devan, sembari membuang ludah di depan kakak Farhan.


Farhan mengertakan giginya geram, ia mengepalkan tanyanya dengan sangat kuat, mencoba menahan emosi yang sudah memuncak.


"Gue gak tahu apa yang lo katakan! "


"Halah! Lo tahu panti tempat lo tinggal? Semua ke gusur bahkan semua harus terusir gara-gara siapa? Gara-gara lo!" Ujar Devan dengan tatapan amarahnya.


"Kalau lo seandainya mau menerima orang yang mau ngadopsi lo! Nasib panti itu gak akan di gusur kayak gini Far! " Teriak Devan.


"Kalau lo tahu apa yang sebenarnya terjadi jangan tutup mata! Lo masih waras jangan berlagak buta!!!! " Teriak Farhan kalap.


Farhan masih mencoba menahan emosinya, ia memang tak suka jika kisah masa lalunya ada yang mengungkitnya. Bahkan, Farhan tak suka jika memori kelam yang berusaha ia lupakan ada yang mengingatkan nya kembali.

__ADS_1


__ADS_2