
Pemuda itu, Farhan. Menunggu sangat lama saking lamanya ia tak bisa menahan kantuk yang menyerang. Tetap saja, suasana hening masih menyelimuti Farhan. Belum ada ucapan yang keluar dari pria bernama Suga yang entah saat ini laki-laki itu berada dimana. Hingga tak lama, suara yang ia nanti itu terdengar kembali.
"Lo gak tidur! ".Ucap Suga dengan singkat.
" Gue nunggu cerita dari po anjir. "Sentak Farhan yang sudah sampai di batas sabarnya.
" Bahasanya tolong! "Sahut Suga dengan nada sedikit melembut.
" Ya habisnya kakak gak cerita-cerita! Capek nunggu kakak cerita.! "Ujar Farhan yang uring-uringan.
"Hubungan kita baik-baik saja, layaknya seorang kakak dan adik! "
Sungguh jawaban Suga sangat tak memuaskan. Ia menunggu sangat lama bahkan harus merengek agar Suga mau bercerita. Namun, jawaban Suga itu sungguh membuatnya jengkel. Farhan menatap CCTv dengan sangat tajam, ia tahu laki-laki di sana pasti sedang memantaunya. Farhan memberi kode kalau dia tak terima jawaban yang di berikan kepadanya.
"Yang bener hubungan kita baik-baik saja? Kok kemarin kakak---! "
"Kakak khilaf dan itu cuma buat pelajaran aja buat lo, kakak masih normal! " Sahut Suga, memotong perkataan Farhan yang belum usai.
"Gue gak percaya! "
"Lalu lo sekarang mau kakak gimana? Mau kakak gituin kamu lagi? " Jawab Suga jengkel dengan sikap keras kepala Farhan.
"Ihh bukan itu yang gue maksud, maksud Arsyan itu, Arsyan gak percaya kalau hubungan kita cuma gitu aja! " Ujar Farhan, wajahnya yang memerah karena Suga salah menangkap apa maksud dari perkataannya tadi
"Lantas? Lo mau gua cerita gimana? Arsyan sayang! "
"Mmmm, ceritakan yang lebih detail dong tentang kedekatan kita, atau dulu waktu kita kecil bagaimana, liburan kemana? Masa kecil gue bagaimana? Apakah gue banyak tingkah? Kenangan spesial kita bareng keluarga besar, pokoknya kakak harus ceritain semua! " Ujar Farhan dengan penuh semangat.
__ADS_1
Farhan sebenarnya tak ingin kepo tentang kedekatan antara keluarga ini. Namun, ia ingin mencari tahu seluk-beluk kehidupan Arsyan, agar dia tahu apa penyebab Arsyan koma. Apakah bunuh diri seperti yang Devan bilang atau karena hal lain.
"Kita tidak sedekat itu, toh kakak mu ini hanya kakak angkat! "Gumam Suga, namun masih terdengar samar-samar oleh Farhan.
"Coba ulang? Lo bicara apa barusan? Kita gak sedekat itu,Maksudnya? Bukankah lo dan gue katanya Alena kakak dan adik yang tak bisa di pisahkan? Kok lo bilang kita gak sedekat itu? "
"Sudah jangan di bahas, lebih baik kamu tidur lagi saja. Kakak ada urusan sebentar.Sebentar lagi waktu makan siang.Kakak sudah nyuruh Erika untuk mempersiapkan makan siang mu, jangan lupa di habiskan dan minum obatnya dan ingat jangan pernah berpikir untuk kabur lagi"
"Kenapa jadi orang gak jelas gitu sih, sekali ngomong selalu gak pernah kelar, huhhhh..... ! "Gerutu Farhan.
Untuk menghilangkan rasa bosan yang mulai menghampiri Farhan, pria itu berkeliling kembali di dalam kamar yang sangat luas itu. Memindai setiap detail yang ada di sana, Piala-piala yang berkilauan, piagam berjejer di mana-mana.
" Adek kakak sama saja, pintar semua! " Gumam Farhan setelah memindai kamar milik Suga, ia terkagum karena isi kamar Suga ternyata sama dengan isi kamar Arsyan yang pernah ia tempati sewaktu pertama kali ia datang ke rumah itu. Hanya berisi piagam yang tersusun rapi.
"Bentar, ada sesuatu yang aneh di sini"Gumam Farhan yang mulai melihat perbedaan yang jelas di sana.
"Gue lihat di kamar Arsyan ada sebuah bingkai foto,tapi gue lupa foto apa itu. Tapi kok disini tidak ada satupun foto yang terpasang? "Gumam Farhan.
Ia membuka buku itu dari awal hingga sampai pada lembar akhir, ia ternganga ketika melihat tiga lembar terakhir ada beberapa note yang bertuliskan,
Fighting Arsyan....
Farhan bersikap acuh akan note itu, mungkin note itu di tulis ketika Arsyan merasa gabut. Toh dirinya juga pernah melakukan hal semacam itu.
Ia membuka dua lembar terkahir, ia ternganga kembali ketika di lembar itu ada sebuah note lagi, bertuliskan.
Ayo kamu pasti bisa Arsyan, kamu calon tuan muda di kota ini, jangan menyerah.
__ADS_1
Farhan tersenyum kecil, ternyata note-note itu di tulis untuk menyemangati diri Arsyan sendiri. Mungkin Arsyan
Pusing merasakan semua rumus yang tercatat di buku itu.
Ia melanjutkan membuka lembar terkahir dan di lembar terkahir, ia menemukan sebuah note yang membuat air matanya jatuh tiba-tiba note yang tercatat di kertas pink pada lembar terkahir itu bertuliskan.
Hey diriku Arsyan.... Kalau kamu merasa tidak kuat istirahatlah, jangan kau paksakan dirimu yang mungil ini seperti robot. Sesekali berontaklah jika hidup seperti ini menyakitkan. Ok?
Entahlah, kenapa tiba-tiba Farhan terpaku dengan kalimat
*KALAU LELAH ISTIRAHATLAH*
"Arsyan! Seberat itukah kehidupan lo? "
Farhan menutup kembali buku itu, menyimpanya di sebuah laci, ja masih penasaran kenapa buku seorang Arsyan ada di kamar suga? Ia menatap keluar jendela, melihat hiruk-pikuk para perja keluarga Alsan di luar sana.
"Arsyan plis, jangan suka ngasih gue teka-teki, kenapa semua tentang lo itu penuh teka-teki? Mulai dari Devan bilang lo bunuh diri, kakak lo yang gak mau cerita tentang kehidupan lo, di tambah, nih buku kenapa bisa ada di kamar kakak lo?Asal lo tahu Arsyan, gue benci teka-teki! " Tanya Farhan yang mulai kebingungan dengan cerita kehidupan Arsyan.
❤
❤
❤
❤
Suga berjalan ke arah ruang kerjanya, tak jauh dari kamar miliknya yang saat ini sedang di tempati Farhan, ia berpapasan dengan Erika yang terlihat baru saja keluar dari kamar adiknya dengan membawa nampan kecil di tangannya. Ia berjalan demuan gelisah mengabaikan Erika yang baru saja lewat. Sesampainya di ruang kerja ia masih nampak gelisah.
__ADS_1
"Maaf, kakak belum bisa cerita! " Gumaman itu terdengar lirih, keluar dari mulut seorang Suga.
Suga mengambil sebuah foto dari laci meja kerjanya, ia memandangi foto itu dengan perasaan campur aduk, matanya yang sendu mengisyaratkan ada sebuah penyesalan dari dalam diri Suga.