Love velisa

Love velisa
Lembar 34.Devan?


__ADS_3

Suasana di toko buku itu tiba-tiba hening seketika. Disaat Suga dengan wajah datarnya menanyai Ganesa tentang keberadaan adiknya. Pria dengan dandanan rapi tersebut masih memperhatikan sekeliling, sebelum ia membuka pembicaraan terhadap Suga yang masih berdiri sempurna di depannya itu.


"Maaf... Anda siapa ya? "Tanya Ganesa dengan curiga. Benaknya di selimuti rasa curiga terhadap Suga, apalagi di depan sudah ada beberapa orang dengan pakaian seperti mafia tengah berjaga-jaga.


" Saya kakaknya.! "Ucap Suga dengan singkat.


Ganesa terdiam sejenak, mengamati orang-orang yang lalu lalang di tokonya, ia takut jika orang-orang yang berpakaian seperti mafia itu menyakiti para pelangganya Bisa-bisa ia di pecat dari pekerjaannya atau lebih parahnya, ia bisa di tuntut karena tak bisa menjaga keamanan toko dari tindak kriminal.


" Apa buktinya? Kalau anda kakak dari orang yang ada di foto ini.? "Ujar Ganesa sembari memincingkan matanya, ia masih menatap Suga dengan curiga.


"Oh ya satu lagi,disini.. ! Saya juga melindungi, menjaga semua pelanggan saya.! Jadi sudah sewajarnya saya tidak gampang percaya sama orang kecuali dengan bukti.! " Ujar Ganesa.


Suga mendengus kesal, tetapi ia harus bisa menjaga emosinya agar tidak meledak di tempat umum. Ia akhirnya menuruti permintaan pria di depanya itu. Dengan menunjukkan sebuah photo keluarga dari dalam dompet mewahnya.


"Ini, di sini ada nyokap, bokap, kakak gue dan adik gue yang saat ini gue cari.! " Ujar Suga menunjukkan photo itu ke Ganesa.


Genesa memperhatikan dengan seksama, dan benar orang yang ada di depanya itu sedang mencari adiknya bukan ingin berbuat onar. Ganesa tersentak, pria konyol itu tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuknya.


"Oh tadi dia ke toilet! Sehabis membeli buku ini.! " Jawab Ganesa sembari menunjuk ke tumpuk an buku doraemon yang tersusun rapi di sebelahnya.


"Disebelah mana.? " Tanya Suga sembari membuka kacamata hitamnya, membuat Ganesa hanya bisa melelan ludahnya Ia tak tahu ternyata pria yang ada di depanya itu sangatlah tampan, bagi seorang Ganesa,cinta itu tak memandang gender. Siapa yang cocok di mata seseorang Ganesa pasti Ganesa akan tertarik.


Genesa yang masih terkesima dengan ketampanan Suga, menunjuk perlahan arah menuju toilet. Namun, sangat di sayangkan setelah Suga mendapatkan jawabannya, pria itu meninggalkan Ganesa tanpa sepatah katapun.Ganesa yang sedari tadi hanya terkesima, sekarang hanya bisa mendengus kesal. Karena, dia kehilangan pria yang membuat matanya tak berkedip itu.

__ADS_1


Suga berjalan ke arah toilet tersebut, membuka pintu toilet itu dengan paksa.! Namun apa yang ia dapat? Tak ada sama sekali. Toilet itu ternyata kosong. Tak ada siapapun di dalam sana. Suga hanya bisa menggeram kesal.Lagi-lagi ia tak bisa menangkap adik bandelnya itu, ia tak menyangka kedatangannya sudah terbaca oleh sang adik.


Dengan emosi yang sudah di ubun-ubun, Suga beserta bawahannya bergegas keluar dari toko buku tersebut, bahkan dirinya mengabaikan sapaan ramah dari Ganesa, membalas sapaan ramah itu dengan tatajam tajam, membuat pria lugu itu hanya bisa menundukkan pandangannya.


Brak.....


Suara pintu mobil terbanting cukup keras, Suga yang sudah dimakan emosi hanya bisa memasang wajah galaknya.


"Arsyan......! Kamu benar-benar bandel. Awas aja kalau ketemu.! "


"Ayo..! Sampai kapan kamu sanggup bermain sama kakakmu ini.! " Ujar Suga dengan emosi yang menyerangnya.


Farhan berlari kecil, meninggalkan toko buku itu. Ia tahu dirinya sedang di cari,kali ini ia tak bisa santai. Kalau dirinya tak ingin di tertangkap.


Farhan tersentak kecil dan memberhentikan langkahnya. Ia melotot horor siapa yang saat ini berdiri di depanya.


Baru saja pemuda itu berbalik, sebelum seseorang itu memanggil namanya.


"Arsyan ? " Tanya sosok itu.


Farhan gugup di tempatnya, ia takut dan belum siap untuk bertemu dengan sosok orang yang ada di belakangnya itu.


"Hey.! "Orang itu menepuk pundaknya, mau tidak mau, berani tidak berani Farhan dengan terpaksa membalikan tubuhnya.

__ADS_1


" Ya...! " Jawab Farhan dengan rasa gugup yang berusaha ia sembunyikan.


"Nah kan! Beneran lo. Gue kira tadi salah orang.! " Ujar sosok itu.


Farhan hanya tertawa canggung di tempatnya, ia tak tahu harus berbuat apa. Bahkan untuk bereaksi aja dia pun tak bisa.


"Hmm.! " Sosok itu meneliti tubuh Farhan dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Lo ingat gue kan Arsyan.? "Tanya pemuda itu, membuat Farhan hanya bisa mengerjapkan matanya, ia bingung harus menjawab seperti apa. Kalau dia bilang tak kenal pasti juga pemuda itu tak percaya apa yang ia katakan.


" Gak usah di paksa kalau gak ingat.! Gue tahu dari Gery kalau kamu lupa ingatan.! "


Farhan baru ingat, pemuda itu adalah seseorang yang ia temui bahkan ia ajak berbicara terakhir kali sebelum dirinya mengalami kecelakaan hebat waktu itu.


"Sini gue bantu lo biar ingat. Gue Devan Adityawarman. Sory sebelumnya, selama ini gue belum ada waktu untuk jengukin lo.! "Ujar Devan.


Farhan hanya bisa menganggukkan kepalanya, entah kenapa dirinya bisa bertemu dengan Devan, sahabat yang sangat membencinya, bahkan sahabat yang pernah menyuruhnya untuk pergi dari dunia ini. Farhan menatap sahabatnya itu, ia tak tahu harus berbuat apa? Mengumpatinya atau menghajarnya hingga babak belur.


" Ka-kalau gitu gue balik dulu ya.! "Pria dengan tinggi badan yang lumayan itu melangkahkan kakinya menjauh dari Devan, namun dengan sigap Devan menahan pria itu agar tak pergi begitu saja.


" Kenapa tangan gue lo tahan. ? "Tanya Farhan , mencoba melepas cengkraman dari Devan.


Entah kenapa, Devan menahan dirinya. Ia seperti merasakan aura tidak enak disini. Lagian kenapa Devan bisa kenal dengan anak konglomerat seperti Arsyan.? Sedangkan dia sendiri saja tidak pernah kenal apalagi bertemu dengan sosok Arsyan. Saat-saat seperti inilah yang membuat seorang Farhan lama-lama gemas dengan dirinya sendiri, karena di masa lalunya ia selalu mengabaikan dan cuek akan orang-orang dengan keadaan di sekitarnya.

__ADS_1


__ADS_2