
Haii!!! Para pembaca, akhirnya kisah ini sampai juga di bab 44.Atau bisa di artikan kita sudah sampai di bab-bab sebelum ending nih❤ Selamat membaca!!!!!
Lembar 44.
Suga masih terduduk di sana, ia tak lagi memandang laptop di depannya. Pria itu hanya memandang sebuah foto yang sedari tadi membuat perasaannya campur aduk. Ia tak tahu harus berkata apa? Ia tak tahu harus bagaimana saat adiknya menanyakan hal yang tentu saja membuat hati seorang Suga bergetar.
Hal spesial?
Kedekatan?
Kebersamaan?
Liburan bersama?
Suga berjalan ke arah sofa, membawa bingkai foto yang masih ada di tanganya, ia mencoba mengingat semua hal tentang masalalu nya dengan sang adik. Namun, pada akhirnya Suga hanya bisa tertawa miris.
Ia memang tidak terlalu dekat dengan sang adik, bahkan bertegur sapa saja mereka jarang. Bukan karena Suga membenci Arsyan. Namun, Suga tahu posisi dia hanya sebagai anak angkat di keluarga ini, jadi ia hanya ingin ada batasan antara dirinya dengan Arsyan, yang notabene nya adalah calon penerus perusahaan Nanda ,yaitu ayah angkatnya.
Disisi lain, dia Hanya di tugaskan untuk menjaga Arsyan, bukan untuk bermain bersama putra konglomerat itu.
Jangankan hal-hal spesial yang mereka punya, bertemu dalam satu atap saja mereka jarang.
Liburan bersama? Apalagi itu, Suga sudah di didik menjadi pembisnis oleh Alsan, ibu angkatnya, sedangkan Arsyan sudah di didik menjadi pengusaha properti oleh ayahnya? Jadi, mana sempat mereka berdua liburan bersama? Keluarga ini adalah keluarga yang punya hobi berkerja bukan keluarga yang hobinya jalan-jalan.
Akan tetapi, sekarang Suga sedikit bersyukur. Lupa ingatan yang Arsyan alami setidaknya bisa membuat dirinya lebih dekat dengan sang adik. Karena orang tua mereka mempercayakan Arsyan kepada dirinya. Setidaknya Suga bisa mencoba membuka lembaran baru bersama sang adik. Ia hanya ingin memperbaiki semuanya, mencoba dekat dengan sang adik layaknya seperti kakak beradik pada umumnya, membuat hal-hal spesial dan mungkin dirinya bisa membawa adiknya berlibur dan bersenang-senang itu pasti menyenangkan. Suga tersenyum membayangkan hal yang belum pernah terjadi di antara mereka semasa dulu.
Namun entah angin apa yang mendatangkan kesuraman itu kembali, senyum lebar yang tadi terpancar jelas dari seorang Suga kini hilang dalam sekejap. Mengingat sang adik yang saat ini sudah berubah menjadi seseorang yang bar-bar, arogan bahkan tak punya tata krama. Bahkan, terlalu brutal untuk mengajaknya berpergian. Suga hanya bisa menghela napas.
Pria itu memejamkan matanya, sembari memeluk bingkai foto yang sedari tadi masih ia pegang.
"Kak, Suga... Pengen itu..! " Teriak Arsyan kecil meminta sebuah gulali berbentuk pesawat kepada sang kakak.
"Gak boleh..! "
"Kenapa? Itu enak! "Tanya anak kecil itu dengan mata yang berkaca-kaca karena permintaannya di tolak.
"Gulali itu , bisa merusak gigi cantiknya Arsyan, memang Arsyan mau nanti gigi Arsyan yang cantik ini di cabut oleh dokter gigi?"
Anak kecil itu menggelengkan kepalanya dengan brutal, masih dengan mata yang berkaca-kaca.
"Gak mau, nanti Arsyan gak punya gigi lagi dong? Nanti Arsyan jelek dong? Nanti Arsyan gak kayak kak Suga lagi dong! "Ucap anak kecil itu dengan nada polosnya.
Sang kakak tersenyum gemas, ia mengangkat adiknya lalu menggendongnya seperti koala.
"Yaudah jangan beli yang itu, kita beli yang lain yuk! "
"Humm" Arsyan kecil menganggukkan kepalanya di bahu Suga, sembari menduselkan hidungnya di bahu itu.
"Udah dong, jangan sedih! Masak adik seorang Suga sedih kayak gini? Malu loh di lihatin banyak orang! "Ujar Suga menggoda adiknya.
Arsyan mendongakkan kepalanya, ia melihat sekitar. Dan benar saja banyak orang di sana. Karena saat ini mereka sedang berjalan-jalan di taman, semua orang yang ada disana memperhatikan mereka berdua, membuat wajah Arsyan kecil memerah karena malu.
"Ayo pulang, Arsyan malu! "Arsyan kembali menduselkan wajahnya di antara sela-sela leher Suga.
Dan pemandangan itu sukses membuat semua orang yang melihat mereka menjerit tertahan karena gemas, begitupun dengan Suga ,ia terkekeh melihat sang adik yang berusaha menyembunyikan wajahnya di lehernya. Saking gemasnya, sesekali Suga mengusak rambut Arsyan hingga membuat pria kecil itu tiba-tiba tertidur pulas di bahunya.
__ADS_1
Suga membuka kembali matanya , setetes air mata tiba-tiba jauh begitu saja dari pelupuk matanya.
"Mimpi yang indah! " Ujar suga sembari tersenyum, entah kenapa dirinya mendapatkan mimpi indah itu, hanya itu kenangan yang mereka miliki di masalalu. Ya, kenangan sewaktu mereka masih kecil, ketika dewasa datang, semua hilang begitu saja. Bahkan, tak pernah terulang kembali.
"Andai waktu bisa berputar ke situ? Kenapa semua cepat berlalu? " Tanyanya entah pada siapa.
🐻
🐻
🐻
🐻
Seorang pemuda sedang termenung di sebuah kamar yang tidak terlalu besar tetapi juga tidak terlalu kecil, kantung mata yang menghitam menjadi pertanda bahwa pemuda itu kurang istirahat.
Ia tertawa miris, ketika melihat sebuah foto yang ada di tanganya, foto itu nampak usang dimakan usia.
"Gue kesepian"
"Sangat kesepian sekarang! "
"Farhan, gue pikir ketika lo pergi dari kehidupan gue ,gue bisa tenang. Nyatanya, gue merasa kesepian tanpa adanya lo disini."
Gumaman serta rancauan pemuda itu mengisi ruangan tersebut.
"Gue bodoh Han, gak seharusnya gue berkata seperti itu. "
"Maaf tentang janji kita, yang harus gue khianati. "
"Devan Adisti"
"Devan"
"Far-han" Bibir itu terucap dengan gemetar.
"Lo kenapa? Lo kangen gue? Atau lo bahagia? Atau lo merasa kacau? Hahahah" Tawa terdengar dengan nada dingin disertai muka yang datar.
"Maa-fin gue Han! "Devan kembali bersuara dengan nada sangat pelan, namun masih terdengar oleh orang yang saat ini berhadapan dengannya.
Farhan, sosok itu menatap Devan dengan tajam, membuat Devan yang di tatap menjadi gemetar ketakutan, baru kali ini ia melihat sahabatnya menatap dirinya begitu tajam. Farhan melangkah maju menghampiri Devan yang terduduk tak jauh darinya.
" Lo bilang maaf? Hah? Gak apa gue gak salah dengar? Sentak Farhan mencengkeram bahu Devan.
"I-iya, maaf! "
"Maaf untuk apa?"Ujar Farhan dengan senyum jahatnya, Pura-pura tak tahu maksud dari perkataan Devan.
"Gue nyesel Han, gue nyesel! "Tutur Devan dengan nada pelan di akhir kalimat, mata Devan kini tertunduk ke bawah, pemuda itu tak berani menatap sahabatnya yang ada di hadapannya. Tanganya bergetar, peluh mulai menetes berjatuhan. Bahkan, bulir air mata itu masih membasahi pipinya.
"Hahahah, bukankah lo sekarang bahagia? "
Devan menggelengkan kepalanya, tidak membenarkan apa yang Devan katakan.
"Bukankah ini kemauan lo? Supaya gue bisa ngilang dari kehidupan lo? And oke, mulai sekarang lo eh maksudnya kamu boleh bahagia sendirian tanpa saya. "Ujar Farhan dengan kata-kata yang ia sopan kan ke Devan, membuat Devan semakin ketakutan. Ia tak terbiasa dengan sikap Farhan yang satu ini, berbicara sopan! Karena itu bukan selayaknya dirinya yang bar-bar.
__ADS_1
"Han, jangan pergi maafin gue! " Teriak Devan setelah Farhan mulai berjalan menjauh membelakangi Devan yang masih terdiam di situ.
"Han"
"-"
"Farhan"
"-"
"Gue nyesel! " Teriak Devan sejadi-jadinya, saat Farhan sudah berdiri di depan sebuah pintu.
Farhan terhenti di situ, tersenyum miris saat mendengar ucapan akhir mantan sahabatnya, ia membalikan badanya kembali menatap tajam Devan.
"Telat, semua penyesalan itu sudah terlambat"Ujar Farhan dengan nada sinisnya. Namun, raut wajah Farhan mengatakan sebaliknya, wajah dengan sedikit luka di bagian pelipisnya itu terlihat sangat sendu bahkan raut wajah itu belum pernah Devan lihat selama mereka berteman. Apakah Farhan merasakan apa yang Devan rasakan? Kesepian? Entahlah.
"Farhan... "
"Lo udah bunuh gue Van,lo udah hancurin harapan gue."
"Engak... Gue bukan pembunuh! "
"Ya, lo pembunuh! " Teriak Farhan, yang mulai berjalan kembali mendekat ke arah Devan.
Devan yang terlihat ketakutan mulai memundurkan badanya. Namun, ia malah terjatuh ke sofa tempatnya duduk tadi.
"Lo udah tega ngebunuh gue! " Teriak Farhan, yang kini sudah berada tepat di depan Devan yang masih terduduk di sofa itu.
"Engak Farhan, lo sahabat gue, gue gak mungkin bunuh lo. "
"Engak? Lo sahabat yang jahat! Ada salah apa gue sama lo? Kenapa lo tega bunuh gue Devan. "Tanya Farhan, ia memandang Devan yang mulai gelisah di tempatnya.
Kedua tangan Farhan menahan Bahu Devan, mencoba untuk mencegah Devan agar tetap di posisi duduknya, wajah mereka saling berhadapan satu sama lain. Namun, sesekali Devan mengalihkan pandangannya ke samping kanan-kiri, karena merasa takut akan sifat Devan yang tiba-tiba berubah menjadi brutal.
"Lo sahabat gue kan? " Tanya Farhan tepat di telinga kanan Devan, membuat rasa gemetar itu kembali Devan rasakan.
"Farhan sahabat Devan selamanya. "Jawab Devan dengan suara lembutnya.
"Pembohongan!!!! Lo pembunuh!!!!!! Sampai kapanpun lo tetap pembunuh.Lo tega membunuh sahabat lo sendiri Devan! "
Devan menangis sejadi-jadinya ia bahkan menutup kedua telinganya, ia tak ingin mendengar kata-kata itu lagi, dia bukan pembunuh dan sahabatnya Farhan, itu belum mati.
"Engak... Engak... "
"Devan! "
Devan tersentak kaget, ketika ia merasakan seseorang memeluk tubuhnya dengan erat.
...****************...
🐻Apakah Devan benar-benar membunuh Farhan? Jika kalian ingat pada bab awal, di sana sangat jelas bahwa Devan mengusir Farhan agar pergi dari kehidupannya. Bahkan yang lebih parah Devan menyuruh Farhan untuk meninggalkan dunia ini.?
Apa sebenarnya yang terjadi antara mereka? Bukankah mereka bersahabat sudah sejak lama? Lalu apa penyebab hubungan mereka menjadi kacau seperti ini?
Tunggu updatenya terus ya...
__ADS_1
Untuk yang vote/like/coment makasih banyak. Semoga rezeki kalian lancar dan selalu sukses selalu.
❤❤❤❤❤