Love velisa

Love velisa
Lembar 71.Atap!


__ADS_3

Hokkaido Jepang 2022.


"Baiklah saya akan memimpin perusahaan ini dengan sebaik yang sama bisa"


Senyuman itu terpancar dari wajah tampan seorang Arthan, yang sudah resmi menjadi penerus perusahaan milik Alsan. Ibu kandungnya.


"Congratulations for Mr. Arthan" Ujar salah satu wanita berwajah Jepang, sembari menunjukkan senyuman indahnya.


Arthan tersenyum ke semua orang yang ada disana, ia tak menyangka apa yang ia inginkan sudah tercapai, dan kini saatnya dirinya membuktikan kepada sang Nanda, kalau dia juga bisa menjadi seorang pimpinan yang tak bisa di anggap remeh, ambisi Arthan untuk bersaing dengan Arsyan baru saja di mulai dari titik ini.


........................................................


...****************...


...****************...


...****************...


...****************...


"Gue gak ngira lo setega ini Arsyan!! Gue bukan boneka lo! Gue bukan mainan lo! Yang bisa lo mainin seenak yang lo mau! Gue bukan barang yang bisa lo gunakan untuk mencapai semua keinginan yang ada di otak lo itu! "


"Lo harus ngerti Arsyan!! Gue bukan robot!! Gue manusia biasa yang punya perasaan enggak seperti lo, dadar arwah!!" Teriak Farhan dengan amarah yang meledak saat itu.


Tatapan Arsyan berubah menggelap dan kemudian menjadi tatapan yang sangat tajam, menatap Farhan yang masih dengan emosinya itu.


"Kamu gak bisa hidup menjadi Farhan lagi!!! Hidup mu sekarang milik saya Farhan!! Milik seorang Arsyan hahahahah!!" Pekik Arsyan.

__ADS_1


"Lo gila Arsyan!!! " Teriak Farhan, setelah melihat Arsyan yang saat ini terlihat lebih menakutkan dari sebelumnya.


"Ya saya emang gila!! Saya akan lebih gila kalau tujuan saya belum terwujud! Selama itu belum terwujud hidup mu masih menjadi milik saya, milik Arsyan seorang! "


Farhan menatap arwah di depanya itu dengan tatapan tajam. Ia baru saja sadar, jika sebuah kehidupan pasti akan ada yang namanya tokoh antagonis, dan dia sendiri tak menyangka jika tokoh antagonis itu, bermula dari seseorang yang baik, lalu berubah menjadi jahat. Saat iki Farhan hanya bisa menatap heran kepada arwah di di depanya itu, hanya karena sebuah ambisi, arwah itu kini menjadi arwah jahat, berbeda dari saat pertama kali dirinya bertemu dengan arwah Arsyan itu. Arwah yang baik dan pengertian kini berubah menjadi arwah yang menakutkan.


"Gue sudah gak peduli lagi!!! Kisah ini akan segera usai! Gue akan memberitahu semua apa yang terjadi! Gue gak peduli jika nyawa gue lagi yang akan menjadi taruhan! Dan lo Arsyan! Lo harus ingat!! Gue gak akan menjadi boneka lo untuk selamanya! Camkan itu!! "Teriak Farhan.


" Farhan, apa kamu yakin akan keputusan yang kamu ambil? Ingat semua itu tidak akan pernah bisa kamu ulang! "Tanya Arsyan dengan seringai menakutkannya.


"Kamu harus ingat apa yang akan saya katakan.... Arsyan mendekat dan berbisik di telinga Farhan, membuat wajah Farhan semakin memerah, emosinya kian bertambah. Kedua tanganya mengepal erat di sisi tubuhnya.


"Lo!!!!? Bajingan!!!! "Farhan menonjok Arsyan. Namun percuma, kepalan tangannya tak bisa menyentuh apapun kecuali angin.


Arwah itu? Arsyan,tertawa menyeramkan, sekaligus menyebalkan untuk Farhan dengar, ia tak habis pikir dengan hari yang ia lalui saat ini. Ia juga binggung apa yang di inginkan seorang Arsyan, kenapa dirinya yang harus menanggung ini semua. Sebesar apa dosanya, hingga dua harus menerima karma yang berat seperti ini? Pikiran itu menghantui Farhan, hingga membuat pria itu mengacungkan jari tengah ke arah Arsyan, yang lambat laun menghilang itu.


Seseorang menatap dari kejauhan dengan gemetar Farhan yang bersimpuh di sana..


"Apa.....jadi...? Dia bukan Arsyan? "Gumam seorang laki-laki yang berdiri di tikungan tak jauh dari tempat Farhan saat ini.


Wajah laki-laki itu terlihat sangat pucat, dengan langkah yang gemetar laki-laki itu berbalik badan dan...


Brak...


Suara tendangan terdengar jelas, dan itu adalah sebuah tempat sampah yang menggelinding tepat di bawah kakaknya. Laki-laki itu dengan tatapan penasaran mencoba mencari-cari siapa yang menendang tempat sampai itu, hingga sampai tepat di bawah kakinya.


"Siapa disana?" Farhan berteriak dari sana, mencoba memastikan tak ada yang menguping pembicaraannya tadi dengan Arwah Arsyan. Namun teriakan Farhan tak ada jawaban, membuat rasa penasaran itu semakin besar. Tak mungkin tempat sampah yang ada di ujung tikungan sana bisa menggelinding sampai di kakinya, kalau tak ada yang menendangnya dengan sengaja. Pikir Farhan.

__ADS_1


Farhan berlari ke arah tikungan di sudut lorong sana, mencari tahu apakah ada seseorang yang mendengar semua yang ia ucapkan tadi. Namun, hasilnya nihil tak ada siap-siap disana, semua terlihat sepi. Ya, memang rumah sakit itu hanya milik keluarga dan tak sembarangan orang bisa masuk, akan tetapi Farhan tak bisa tenang disana. Apalagi teriakan demi teriakan yang ia lontarkan tadi tak mungkin tak ada yang mendengar walau ia berada di sudut lorong yang cukup di bilang sangat sepi sekalipun.


Laki-laki itu, berlari menuju anak tangga di lorong sana, berlari menaiki anak tangga itu satu persatu, hingga sampailah dia di depan sebuah pintu. Ya, itulah pintu rooftop, tujuan awalnya, sebelum sosok Arsyan tadi menghentikan langkahnya.


Krek.....


Pintu terbuka, terpaan angin yang sejuk berhembus di wajahnya, seolah menyambut kedatangan laki-laki itu.


Farhan berjalan dengan emosi yang tentunya masih tersisa. Ia menatap kosong pada jajaran gedung-gedung di depanya, langkah kaki itu kemudian berhenti disana. Masih banyak pertanyaan yang menghantui isi kepala laki-laki itu, kenapa hidupnya kini menjadi kacau? Kenapa harus dirinya yang mengalami semua ini? Dan kenapa pula? Harus ada teleportasi kehidupan.


"Andai saat kecelakaan itu gue langsung meninggal, mungkin semua ini gak akan terjadi sama gue? " Gumam Farhan kacau.


"Hmmm, Estes!!! Gue tarik ucapan gue! Gue kira dengan adanya Arsyan disisi gue, semua ini bisa gue lalui dengan mudah! Ternyata tidak semudah itu!!!! Lo mengacaukan segalanya!!!! " Teriak Farhan dari atas rooftop.


Bagi Farhan, Arsyan itu seperti lembaran putih pada buku yang baru saja terbuka kita bebas membacanya, namun akan sulit untuk mengerti isinya, penuh misteri dan teka-teki yang seorang Arsyan sembunyikan dari dirinya saat ini.


"Estesssss!!! Lo denger kan apa yang gue katakan? "Teriak Farhan.


" Estesss!!!"Teriak Farhan memanggil sosok itu, berharap ia akan datang dan mendengarkan apa yang ingin Farhan katakan.


Farhan mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian mendengus kesal. Karena makhluk yang sedari tadi ia panggil itu tak kunjung datang.


"Arsyan, "


Farhan membalikan badanya, saat telinga itu mendengar ada seseorang yang memanggilnya, ia tahu betul siapa orang dengan suara berat itu. Suga,


"Gak kakak gak adik sama saja! Menyebalkan!! " Gumam Farhan.

__ADS_1


Suga kian mendekat, tatapan tajam menjadi ciri khas pemuda itu, membuat Farhan hanya bisa menelan ludahnya, bukan karena tatapan itu. Namun, karena beberapa kancing baju suga tidak terkancing dengan benar, membuat sebagian dada bidang pemuda itu terlihat dengan jelas, di tambah ada sisa keringat disana, membuat Farhan hanya bisa menelan salivanya kasar.


__ADS_2