Love velisa

Love velisa
Lembar 46.Penjaga Sebelum ke Sekolah


__ADS_3

"Rumah sakit cinta Abadi.Ternyataa bocil itu ada di sana. " Ucapan Adizti sembari tersenyum sinis ke arah ponselnya, ponsel yang memberinya sebuah notifikasi entah dari mana datangnya, memberitahu dimana wanita yang ia cari itu berada.


"Dengan penyamaran gue, gue yakin gue bisa nyelesain misi ini. "


Mata gadis itu berbinar ria , karena rencana yang ia susun mulai berhasil. Ia tahu dimana Hellen berada dan ia pun tahu apa yang akan dirinya lakukan pada sahabatnya itu.


Membalas dendam? Hanya itu yang ada di benak Adizti saat ini.


"Bawa mobil gue kesini. " Adizti memerintahkan seseorang untuk membawakan mobilnya ke tempat ia saat ini.


Kejam? Lo yang buat diri gue jadi seperti ini Akbar.! Gumam Adizti yang sedari tadi berdiri di depan cermin yang menghiasi ruangan mewah miliknya itu.


Adizti yang di bakar api amarah tak bisa tinggal diam kala melihat Hellen bisa lepas begitu saja dari tanganya. bertahun-tahun dirinya mencari cara agar bisa membalaskan dendamnya ketika ia memiliki kesempatan justru kesempatan itu tak bisa ia gunakan sebaik-baiknya.


Marah?


Kecewa?

__ADS_1


Dua kata itu yang terus menghantui fikiran nya. Misi dia hanyalah mencari keadilan, keadilan yang tak pernah di dapatkan oleh sang kakak. Bahkan bulian, hinaan, dan cacian terus sang kakak terima dengan lapang dada membuat hati Adziti seperti ter gores benda tajam. Sakit sangat sakit.


**************************


"Kita harus gimana? Apakah kita harus diam saja? Gak berbuat apa-apa? "


Alis Velisa naik sebelah, ia bingung harus berbuat apa kala melihat Akbar yang di bakar api emosi dan tak percaya perkataan yang Bima lontarkan kepadanya.


Velisa duduk melipat kedua kakinya, wanita bertubuh mungil itu terlihat sangat lelah. Memikul beban yang harus ia terima.


Komanya Hellen!


Dendamnya Adizti!


Bahkan sekarang Akbar yang mulai menjauh dari gengnya.


Apa yang harus gadis kecil itu perbuat? Memberitahu pelaku penabrakan adalah Hellen? Sudah segala cara sudah Velisa coba untuk memberitahu Akbar, tapi semua nihil. Bagi Velisa jalan satu-satunya adalah menunggu Hellen bangun, dan meminta gadis kecil itu untuk jujur ke semua orang! Tapi kapan? Apakah dalam waktu dekat?

__ADS_1


Pertanyaan semua pertanyaan terus mengambang di benak Velisa,membuat nya semakin lemah tak berdaya.


"Biar gue yang coba jelasin lagi. " Ucap Bima sembari mengusap bahu kekasihnya yang di landa banyak fikiran itu.


Setidaknya ada laki-laki yang masih perhatian pada dirinya, setidaknya masih ada semua anggota geng yang selalu bersamanya. Membuat Velisa sedikit merasa lega.


"Apakah aku harus membunuhnya sekarang?"


"Tidak, aku tidak boleh gegabah! Aku hanya ingin melihat keadaan bocil itu untuk saat ini, selebihnya biar gue urus nanti saat mereka para pecundang pergi dari sini. "


Seorang perawat wanita datang dari lorong lengkap membawa alat medis beserta para asistennya berjalan menuju ruangan Hellen.


Tak ada kecurigaan yang terpancar dari raut muka semua orang. Semua orang malah berbalik menyambut kedatangan seorang dokter wanita bernama Lisa itu yang akan memeriksa Hellen.


Tanpa mereka ketahui siapa wanita di balik masker medis itu.


Prak.. Prak...

__ADS_1


Lisa dokter gadungan yang masuk perlahan ke ruangan ICU itu menaikan sebelah alisnya, melihat seorang gadis lemah terbaring di atas ranjang rumah sakit lengkap dengan kabel-kabel medis yang melekat di tubuhnya. Kabel yang mungkin membuat gadis itu masih hidup sampai sekarang.


"Kalau gue cabut, lo pasti akan cepat ke nereka sayang! Gak semua akan ada waktunya, gue mau kematian lo menjadi kematian terpedih yang semua orang rasakan, termasuk kekasih lo Akbar. " Suara tertawa yang lirih menghiasi ruangan itu, ruang yang akan menjadi saksi mati atau hidupnya seorang gadis yang sudah di ujung tanduk.


__ADS_2