Love velisa

Love velisa
Lembar 69.Miris


__ADS_3

Farhan berdiri mematung di depan pintu bercat cokelat yang baru saja tertutup. Sesekali is mengelap keringat yang menetes dari keningnya.


"Tuan muda, apakah anda baik-baik saja? "


Farhan hanya bergumam, dan menganggukkan kepalanya, saat seorang pengawal bertanya kepadanya. Ia masih terkejut dengan apa yang barusaja terjadi.


...............


"Devan!!! " Farhan berteriak ketika sahabatnya itu jatuh pingsan tepat di hadapannya, ia dengan sigap memapah Devan, melihat kondisi Devan saat ini membuat hati Farhan teriris, kondisi yang sangat mengkhawatirkan, merespon ucapannya saja Devan tak bisa.


Devan masih bisa merasakan ketika Farhan memapahnya. Namun telinganya berdenging tak bisa mendengar apa yang Farhan ucapkan, mulutnya pun lemas tak bisa berkata untuk merespon Farhan.


"Maaf Farhan...."


Farhan tak bisa dengan jelas mendengar apa yang di katakan oleh Devan, dirinya sudah benar-benar kacau melihat keadaan orang yang dulunya selalu ceria kini menjadi seseorang yang sepertinya sedang menyembunyikan banyak luka. Farhan dengan tergesa-gesa membawa Devan untuk turun ke bawah, menuruni satu demi satu anak tangga. Tentunya dengan kondisi Devan saat ini, tidak lah mudah bagi Farhan untuk membawa mantan sahabatnya itu agar bisa sampai bawah.


"Maaf.... Aff" Rancau Devan sepanjang perjalanan menuruni anak tangga.


"Lo bisa diam kagak!! Kalau kagak gue lempar sekarang juga!!"Teriak Farhan pada akhirnya.


Farhan akhirnya bisa bernapas lega ketika dirinya berhasil membawa Devan keluar dari gedung tua itu.

__ADS_1


"Heiii!! Bantuin gue! "Teriak Farhan yang tak sengaja melihat ada para pengawal yang berdiri tak jauh dari pintu gedung tua itu.


Mereka bergegas lari, menghampiri tuan mudanya yang berteriak meminta bantuan. Dengan sigap para pengawal itu mengambil alih Devan dan membawanya menuju mobil.


" Kalian bawa dia! Saya akan bersama Loop di sini sementara waktu! "Ujar Farhan.


" Baik tuan! "Jawab mereka serentak.


Mobil pun melaju dengan kecepatan yang biasa, Farhan masih terdiam disana di temani satu pengawal tentunya. Dirinya terduduk sejenak berusaha mengontrol napasnya yang terengah-engah.


" Hentikan mobil itu! "Teriak Farhan dengan tiba-tiba ke arah Loop, menyuruh Loop untuk menghentikan mobil pengawal yang membawa Devan pergi barusan.


" Baik tuan!"Jawab Loop, setelahnya mengambil telepon dari kantongnya, lalu dengan sigap ia menyuruh pengawal tadi untuk menghentikan mobilnya.


"Farhan.. Farhan.. Hahah... Farhan! "Suara yang pertama kali Farhan dengar, ketika baru saja dirinya membuka pintu penumpang.


" Apa gue disini! Lo manggil gue? Ngetawain gue? Atau lo mau mati dengan sisa napas lo itu! "Gerutu Farhan, ketika mendengar napas Devan yang sudah terengah-engah.


Farhan bingung harus berbuat apa sekarang, tak mungkin jika dirinya menceritakan semuanya saat itu juga. Di tambah, ia tak tahu harus berbuat apa, ketika mendengar napas Devan yang sudah di ujung batas.


"Tolong agak cepat kalau nyetir jangan lelet! "Teriakan Farhan kembali terdengar, kali ini sasaran teriakan itu tertuju kepada supir pribadi keluarga Alsan.

__ADS_1


" Haduh Devan!!! Lo jangan bikin gue mati parno! "


"Disini ada tabung oksigen atau apakek gitu buat nih bocah! "Teriak Farhan yang sudah panik dengan sendirinya.


"Maaf tidak ada tuan! "


"Bgst!! Mobil mewah gini gak ada perlatan medisnya? Gimana caranya gue ngasih pertolongan pertama kalau gini caranya? "Racau Farhan.


" Napas buatan tuan! "Ujar salah satu pengawal, sembari menahan tawanya.


" Njir!! Kagak mungkin kita dua cowok gue juga cowok, ya kali gue main ciplok dia! "Teriak Farhan panik.


Ucapan Farhan membuat orang yang ada di dalam mobil itu, semua tertawa terbahak-bahak. Mereka menganggap kepanikan tuanya itu sangatlah lucu.


" Emang tuan yakin, gak mau sama tuh anak! Kalau sama tuan Suga?"Tanya supir dengan beraninya, berusaha menghidupkan suasana agar tuanya itu tak lagi panik berlebihan.


"Gue pecat juga lo! Cepetan buruan! Ini anak orang! Bisa mati kalau kalian bercanda begini! " Teriak Farhan kesal.


"Hah... Ahh... Farhan.... Farhan... Gue membunuh lo! "


"Nih bocah satu!! Lo bisa berhenti bicara gak sih!!! Napas lo udah kayak habis lari Indonesia Jepang saja! "

__ADS_1


"Far.... Han... "


Farhan menatap mata Devan yang mulai sayu. Dengan keringat yang terus bercucuran dari dahinya. Miris, adalah salah satu kaya yang dapat menggambarkan kondisi Devan saat ini.


__ADS_2