Love velisa

Love velisa
Lembar 63.Pelangi itu?


__ADS_3

*FLASHBACK***


Syan kecil meringkuk dalam tidurnya,tangisan kecil terdengar dari bibir mungilnya, namun terpendam oleh bantal.


"Syan kangen Han!!!! Hikzz.. Hikzz.. Hikzz"


"Kenapa Han gak pulang-pulang? Syan kangen" Tanya anak itu entah kepada siapa.


Cek lek...


Suara pintu terbuka, membuat Syan semakin meredam tangisnya pada bantal.


"Kamu kenapa nangis sayang? " Tanya Alsan sembari mengusap lembut kepala putranya itu.


"Syan, lindu kak Han, Syan mau main sama kak Han! Syan mau beli es cleam sama kak Han! "Ujar anak itu masih dengan tangis yang berusaha ia redam.


" Sayang? "Panggil Alsan dengan lembutnya.


" Mama!!!! "Teriak Syan kecil memeluk Alsan.


" Syan rindu kak Han? Iya? "Tanyanya lembut.


" Emm,, Syah lindu banget sama kak Han, kapan Syan bisa main lagi sama kak Han? "Ujar Syan kecil sembari menatap mata Alsan dengan tatapan sendunya.


Alsan terdiam,wanita itu berusaha menyembunyikan kesedihannya ketika melihat putra yang ia cintai dalam keadaan kacau saat ini. Alsan tak bisa berbuat apa-apa, yang bisa ia lakukan hanyalah menenangkan sang putra itu agar berhenti meratapi Han.


" Anak mama tidak boleh nangis gini jelek ah! "Ujar Alsan sembari mengusap air mata yang membasahi pipi putra tercintanya itu.

__ADS_1


" Mama? Kapan Syan bisa main lagi bareng kak Han? "


Alsan kembali terdiam, membuat Syan kecil mengerang kesal. Karena tak mendapatkan jawaban yang ia inginkan.


"Besok sayang! Kakak Han pulang kok! " Ujar Alsan pada akhirnya, setelah wanita itu sempat terdiam beberapa saat.


"Bohong!!! Mama selalu bohongin Syan! " Teriakan Syan tentu saja membuat Alsan tersentak di tempatnya.


"Mama, Papa kak Suga,dan kak Arthan, selalu bilang besok tapi kak Han gak pulang-pulang! "Teriak Syan kesal.


Syan kecil melepas pelukan itu, ia memilih untuk merebahkan tubuhnya di kasur sembari menutupi tubuh kecilnya itu dengan selimut.


"Syan mau gulali! "Gumam Syan.


Alsan tersenyum, ia tahu betul sikap Syan yang kacau saat ini, akibat si kecil itu kesepian dan hanya butuh teman untuk bermain bersamanya. Mengingat akhir-akhir ini dirinya sibuk dengan perkerjaan sehingga hanya menitipkan putra kecilnya itu kepada anak angkatnya yaitu Suga, yang sedikit lebih dewasa dari Syan.


"Benarkah itu? " Tanya Syan dengan mata berbinar ria penuh harap.


Alsan menganggukan kepalanya. Berusaha menyakinkan sang putra agar bisa lebih tenang. Dan Syan kecil pun akhirnya bisa tersenyum kembali, membuat Alsan akhirnya bisa bernapas lega.


Dua bulan telah berlalu, semua nampak kembali normal. Syan kecil tak lagi menanyakan keberadaan Han, dan Alsan yang sudah berjanji untuk menemani Syan kini membatasi waktu kerjanya dan memilih untuk fokus merawat Syan seperti janjinya kepada sang putra. Di tambah kebahagiaan mereka kini terasa sangat terasa karena kabar kehamilan Alsan membuat Syan kecil menjadi lupa akan sosok Han.


Begitupun dengan Arthan dan Suga, sepulang sekolah selalu dengan setiap menemani sang adik untuk bermain. Kini syan kecil sudah tak kesepian lagi, janji-janji yang mereka ucap semua di tepati. Nama Han, kini sudah mulai jarang terucap dari bibir mungil Syan.


Mungkin langit yang mendung bak kesepian dari seorang Syan kini berubah menjadi pelangi seperti kebahagiaan yang Syan rasakan saat ini. Tak ada lagi kesepian yang di rasakan bocah kecil itu.


Tiga bulan telah berlalu, tiba akhirnya Syan kecil menerima hasil ujian pertamanya, bocah itu berlari berniat menunjukkan selembaran kertas yang tertulis nilai 100 kepada kedua orang tuanya. Namun, sesampainya ia di sana? Tak ada satupun orang di rumah itu, perasaan Syan yang ceria akhir-akhir ini berubah lagi menjadi perasaan yang aneh. Apakah pelangi itu mulai redup?

__ADS_1


"Yah gak ada! Syan tidul aja ! " Ucap Syan kecil, sebelum memasuki kamarnya dengan perasaan anehnya itu.


Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan. Bahkan kini sudah satu tahun lamanya ia tak bertemu Han, Namun, entah kenapa nama Han tak lagi terdengar di tengah-tengah keluarga itu.


"Kakak "Panggil Syan ketika acara makak malam perayaan ulang tahunnya akan di mulai.


" Iya Syan? "


"Kenapa di acara ulang tahun aku, mereka tidak datang? " Tanyanya, sembari menatap sendu lilin ulang tahun yang telah menyala itu.


"Siapa yang Syan maksud? " Tanya Arthan sembari mengusap kepala sang adik.


"Mama sama papa? "


"Hmm, mereka masih ada urusan! Kan ada kakak Arthan sama Suga yang menemani Syan! " Sahut Erika dengan tiba-tiba, sembari menyiapkan beberapa alat makan untuk mereka.


"Betul kan ada kita! " Timpal Suga! "


"Tapi Arsyan mau sama papa, mama dan dedek Alena! "


Arsyan sudah dewasa, bahkan ia sudah bisa menyebut namanya secara lengkap. Tak ada lagi cadel yang keluar dari mulut Arsyan.


"Lah dedek kan ada di Jepang! Mama jagain dedek disana, nanti kalau sudut dewasa pasti pulang dan akan jadi teman bermain Arsyan!" Jawab Erika berusaha menenangkan bocah yang sedang berulang tahun itu.


"Udah lah Syan tiup saja lalinya! "Sentak Arthan, membuat Arsyan hanya menatap kue ulang tahunnya itu dengan mata sayunya.


Kini Arthan dan Suga yang biasanya memiliki sifat hangat, berubah menjadi seseorang yang tagas bahkan sudah tak lagi banyak bicara antara satu sama lain, membuat Arsyan merasa tak enak jika harus terus bertanya kepada kedua kakaknya. Arsyan tak tahu kenapa semua bisa berubah secepat itu. Ia hanya ingin merayakan hari spesialnya itu dengan kelaurga yang lengkap! Namun, dia harus menerima pil pahit kalau semua keluarganya kini mulai abai kepada dirinya. Bahkan acara ulang tahun itu semua Erika yang mengatur! Semua sibuk pada urusan masing-masing.

__ADS_1


Apakah pelangi itu kembali redup? Apakah Arsyan akan mulai merindukan sosok Han lagi?


__ADS_2