Love velisa

Love velisa
Lembar 53.Sebuah foto


__ADS_3

Farhan termenung disana, ia masih memikirkan semua ucapan yang mantan sahabatnya itu katakan.


"Lo kenapa sih Van? Bukanya lo sendiri yang nyuruh gue untuk pergi dari kehidupan lo? Lo bilang ini karma yang lo dapat? Karma untuk apa? " Farhan mengerang frustasi. Laki-laki itu kini tak tahu harus berbuat apa?Mau bilang kalau dia itu Farhan, sahabatnya? Tentu saja itu hal bodoh yang mungkin saja tak akan membuat seorang Devan percaya begitu saja. Ah sudahlah toh drama ini sudah ada yang mengatur. Pikir Farhan.


"Devan lo kenapa sih?"Gumam Farhan setelah berpikir panjang lebar. Menatap laki-laki itu yang terlihat sudah jauh di depan sana.


Farhan tentu masih menyimpan rasa khawatir akan sahabatnya itu, bukanya gimana? Bagaimanapun Devan bagi dirinya sudah bisa dikatakan lebih dari sekedar sahabat. Farhan sudah menggangap Devan itu seperti adiknya, bahkan sebaliknya dirinya pun sudah Devan anggap seperti kakaknya sendiri. Hal itu yang membuat batin Farhan selalu bergejolak ketika berada di dekat Devan. Ingin rasanya ia mengatakan yang sebenarnya kalau dia itu Farhan bukan Arsyan.


...****************...


...****************...


...****************...


"Sialan lo, bodoh banget sih jadi orang Devan!!!! Lihat sekarang apa yang terjadi? Semua jadi kacau! "Teriak Devan, saat ini dirinya berada di atap sekolah. Mengeluarkan semua emosi yang sepertinya ia tahan, entah karena apa.


"Kenapa lo gak jelas banget, lo bodoh Devan!!!"


Devan terduduk bersandarlah tubuh kecil itu di sebuah pagar pembatas.


"Farhan!!! Kenapa gue ngerasa lo itu masih hidup!!! Bahkan gue ngerasa kalau yang ada di diri Arsyan itu diri lo Farhan?! "


"Sepertinya gue benar-benar sudah gila! "


"Maafin semua kebodohan dan ketololan gue,kenapa gue bisa rindu lo Farhan? Kenapa? "


"Padahal pasti disana lo tertawa lihat gue seperti ini, gue yang ngusir lo, gue juga yang menderita tanpa adanya lo disisi gue! "


"Gue rindu lo Han, gue rindu! "


"Andai kata-kata itu tak keluar dari mulut sialan ini, pasti lo akan tetap di sini sama gue!"


"Sahabat macam apa gue ini Han? "


Devan terus meracau tanpa henti, hingga tanpa ia sadari ada seseorang yang sedari tadi memperhatikannya dari kejauhan.


"Lo, memang keterlaluan Devan! "Gumam orang itu, sebelum pergi begitu saja. Tangannya terlihat mengepal erat, menandakan orang itu sedang menahan emosi.


...****************...


...****************...


...****************...


"Hai? Gue Arsyan... Salam kenal ya"


Farhan menatap orang itu tak peduli, ia berjalan acuh mengabaikan orang itu.


"Lo sahabatnya Devan kan? Oh iya, kalau gue temenya Devan! "Ujar pemuda itu.

__ADS_1


Farhan hanya enggan untuk menanggapi, ia masih acuh tidak peduli sedikitpun pada orang itu.


"Kemarin Devan khawatir banget sama lo, saat lo hilang, bahkan dia hanya melamun saja seperti orang yang kehilangan semangat hidup! "Pemuda itu tertawa renyah, sembari mengikuti Farhan dari belakang.


"Nama lo Farhan kan? Astaga gue baru ngeh kalau nama belakang kita mengandung akhirnya yang sama. "Lagi-lagi pemuda itu tertawa.


Farhan tidak peduli, sama sekali tidak peduli ocehan pemuda itu. Ia hanya jengah jika pemuda itu masih mengikutinya. Ada apa dengan nya? Siapa dia? Ahh tadi siapa namanya?Bahkan Farhan sudah lupa nama pemuda yang terus mengekorinya itu.


" Lo bisa diam gak sih! Ngoceh mulu dah! "


"Hm kalau lo gak nyaman Oke!! Sampai ketemu lagi Farhan...! "Dan pemuda itu berlari melewati Farhan begitu saja. Membuat Farhan bisa menatap punggung yang mulai menjauh itu.


"Aneh, benar-benar aneh tuh anak! " Gumam Farhan.


"Siapa sih tuh anak"


Ya itulah Farhan, baru saja anak itu memperkenalkan diri kepada dirinya. Namun, ia begitu saja melupakanya, bahkan namanya saja ia tidak ingat. Se acuh itulah seorang Farhan terhadap sebuah kehidupan?.


...****************...


...****************...


...****************...


Farhan melenguh dalam tidurnya, entah kenapa tiba-tiba rasa haus yang dahsyat datang menghampiri tidur lelapnya. Pemuda itu melirik jam disana, jarum jam itu tepat berada di angka dua belas.


"Tengah malam" Gumam Farhan dengan suara sedikit serak.


"Orang di rumah ini aneh-aneh semua dah! " Gumam Farhan.


...****************...


...****************...


...****************...


"Eh, bisa kita bicara sebentar? "Tanya Farhan, menghentikan langkah orang tadi yang akan melewatinya. .


" Bisa"Jawab orang itu singkat.


Farhan berjalan ke arah belakang rumah. Jam malam membuat suasana menjadi sangat sunyi, bahkan ratusan pengawal yang biasa ia hanya tersisa puluhan untuk menjaga rumah itu. Desiran angin malam mulai membuat suasana menjadi sangat dingin. Bahkan Farhan menggigil tanpa sadar.Farhan berhenti tepat di tepi kolam renang.


Ia menatap heningnya air di dalam kolam renang itu sembari menikmati minuman yang ia pegang sedari tadi.


Sebuah jaket menyampir di pundaknya, sontak membuat Farhan kaget.


"Pakai ini, di sini dingin! "Ujar orang itu.


" Tak apa, gue cowok gak mungkin gue sakit cuma gara-gara kedinginan! "

__ADS_1


"Tapi nyatanya gak kayak gitu, anda gampang sakit jika terkana cuaca dingin seperti ini! "Gumam orang itu.


Deg!!!


Jantung Farhan berdegup kencang, ia merasa aneh tentang perkataan dari gadis yang berdiri di sampingnya saat ini . Kenapa kalau di sekolah dia bicara secara informal? Sedangkan di rumah? Kenapa bisa sesopan ini? Pikir Farhan bertanya-tanya, tentang sifat gadis itu.


"Claudia,apa sih yang sebenarnya lo sembunyikan dari gue?"Tanya Farhan,pandangan laki-laki itu masih menatap air yang tenang di kolam itu. Namun, ia tahu orang di sampingnya itu tersentak saat sebuah pertanyaan tadi keluar dari mulut Farhan.


" Kenapa lo diam? Jangan kira gue kagak tahu apa yang lo sembunyiin di belakang gue! "


"Apa yang anda maksud? Saya saja berada di Indonesia baru satu hari ini, tidak mungkin menyembunyikan sesuatu dari anda! "Jelas Claudia.


Penjelasan yang keluar dari mulut gadis itu, masih membuat Farhan merasakan hal aneh seperti ada sesuatu yang gadis itu tutupi darinya. Melihat tingkah aneh dia di sekolah membuat Farhan semakin yakin gadis itu pasti tahu semuanya.


"Baiklah, lo tidak di Indonesia, tapi jangan pura-pura lo kagak tahu semua yang ada di sini! Lo kan anak dari kakak nyokap gue! Pasti lo tahu semua masalah yang gue alami sebelum amnesia kan? Jangan pura-pura bodoh dah! "


"Oke, kalau gitu saya ganti pertanyaan tadi, anda mau tahu tentang apa? " Tanya Claudia.


"Siapa lo sebenarnya? Dan mau apa lo kesini? "


"Nama gue Claudia, dan anda sudah tahu siapa saya. Keponakan tante Alsan! "


Farhan menggeram, ia menatap tajam Claudia yang sepertinya ingin bermain-main dengan seorang Farhan.


"Gue tahu lo wanita, tapi gue bisa saja teriak-teriak disini! Tapi gue lagi gak mood, jadi tolong jawab yang benar dan jangan memancing emosi gue"


"Geu tahu lo anak orang kaya, ibu lo kakak dari nyokap gue, tapi kenapa lo mau sih jadi mata-mata mereka? "


Claudia menatap Farhan dengan tatapan yang sulit di artikan. Namun, Farhan lebih memilih untuk mengalihkan pandangannya ke arah lain, dari pada harus memandang cowok aneh itu.


"Gak ada!!! Gue cuma ada kerjaan saja! "


Ingin rasanya Farhan mencabik muka gadis di depannya itu. Ia melempar sebuah poto hingga terjatuh disana.


"Sedakat apa kita dulu, sewaktu gue masih di Rusia? "Tanya Farhan.


Claudia tersentak mendengar pertanyaan dari Farhan. Gadis itu mengambil foto yang terjatuh tadi. Ia memandang foto itu dengan lamat-lamat. Disana ada dua remaja ,seorang pria dan wanita yang saling duduk bersama di tengah-tengah mereka ada sebuah boneka robot. Tak hanya itu, dua remaja itu saling tersenyum satu sama lain dan tersenyum ke arah lensa kamera.Gadis itu menatap foto yang ia pegang dengan sendu.


" Clau, lo tahu kan gue sedang amnesia? Kenapa saat gue dalam kondisi lupa semua, tak ada yang bantu gue untuk perlahan memulihkan ingatan gue? Dan setiap gue tanya tentang semua kenangan gue saat ada disini, seoalah mereka mengalihkan pembicaraan enggan menceritakan semuanya! "


"Dan lo datang tiba-tiba ke Indonesia, entah apa mau mereka sampai harus menyuruh lo datang ke sini, untuk jadi asisten gue? "


"Tak hanya itu, setiap kali gue berusaha bicara sama Gery dan Berlin lo selalu menghalangi, apa yang lo mau sebenarnya? Apa ini suruhan dari nyokap bokap gue? "


Claudia masih diam di tempatnya, enggan berbicara lebih. Gadis itu hanya mendengar ocehan dari Farhan, ia tak tahu lagi harus berbuat apa. Ia merasa sulit untuk mengungkapkan semuanya. Ada janji dan sumpah yang ia pegang, tak mungkin ia mengingkarinya. Claudia mengalihkan pandangannya. Namun matanya malah bertubrukan dengan sepasang mata yang tengah mengintai mereka dari lantai atas, mata yang saat ini menatapnya dengan sangat tajam.


"Ini sudah malam sebaiknya anda segera tidur! Saya mohon permisi duluan? "Ujar gadis itu. Ia masih menggenggam foto membawanya pergi, dengan semua pertanyaan yang entah kapan dirinya bisa menjawab itu semua.


" Claudia!!!! Kalau kita dulu pernah memiliki hubungan spesial,tolong berhenti sekarang juga!!! "

__ADS_1


Secara spontan gadis itu menghentikan langkahnya, namun enggan untuk melihat kebelakang. Farhan menatap sesaat punggung itu, sebelum gadis itu melanjutkan langkahnya pergi begitu saja. Meninggalkan Farhan yang masih menyimpan rasa penasarannya.


__ADS_2