Love velisa

Love velisa
Lembar 36.Bunuh Diri?


__ADS_3

Waktu siang sudah tiba. Namun, mereka berdua masih di tempat yang sama, Farhan dengan sikap cueknya dan Devan dengan sikap rahasianya melengkapi suasana di dalam minimarket itu.


"Tadi lo tanya kan? Sejak kapan kita saling kenal.? ".Jawab Devan setelah meminum susu yang ia genggam.


"Ya.! "


Devan menatap Farhan yang masih menggengam susu yang ia belikan, sembari ia menghela nafasnya.


"Kita sudah saling kenal sejak dulu! Bahkan kita sebangku sewaktu masih duduk di sekolah dasar.!"


Farhan terkejut, tentu saja. Dirinya tak pernah melihat seorang Devan memiliki banyak teman selama ini. Dirinya berteman dengan Devan sangat lama,Farhan pun tahu betul siapa saja yang berteman dengan Devan. Namun untuk Arsyan? Ia tak tahu jika Devan memiliki teman bernama Arsyan. padahal sedari dulu mereka,Devan dan Farhan selalu bersama dimanapun berada. Hingga banyak yang mengatakan mereka itu anak kembar karena selalu bersama.


"Hah.! " Gumam Farhan, yang mengetahui hal tersebut. Entah kenapa dia sedikit merasa kecewa? Entahlah, ia hanya tak menyangka ada banyak hal yang tak ia ketahui dari sahabatnya itu. Mantan sahabat lebih tepatnya.


"Kalau gitu gue harus pergi dulu! Lagian ini sudah siang.! "Ujar Farhan ,sembari beranjak dari duduknya. Ia hampir melupakan tujuan yang ada di sana, karena terlalu sibuk dengan semua yang ingin ia ketahui dari mantan sahabatnya itu.


"Kemana.? " Tanya Devan sembari berusaha menahan Farhan, berharap ia tak pergi begitu saja.


"Bukan urusan lo! Intinya ini lebih penting dari apapun.! "Ketus Farhan.


Ia masih engan bersama Devan, bahkan dirinya terus meminta agar Devan mau membiarkannya pergi. Ia merasa suasana saat di dekat Devan itu agak sedikit janggal.


"Tunggu.! " Teriak Devan meraih tangan Farhan.


Farhan baru saja melangkahkan kakinya tak lebih dari satu jangkah itu, ia di buat terdiam seketika. Sebelum perkataan yang keluar dari mulut Devan berhasil membuatnya menghentikan langkah.


" Lo gak akan berusaha untuk bunuh diri lagi kan.? "


Deg....


"Bunuh diri.? "Batin Farhan, untuk apa dirinya bunuh diri.

__ADS_1


Farhan tersentak menyadari apa yang ia lupakan saat ini. Devan tidak tahu jika yang ada di tubuh ini adalah Farhan bukan Arsyan.Yabh Devan tahu orang yang saat ini bersamanya itu adalah Arsyan. Itu berarti yang Devan maksud.......?


"Apa yang lo maksud dengan bunuh diri. ?"Tanya Farhan, sembari membalikan tubuhnya ke arah Devan, mengurungkan niatnya untuk pergi dari situ. Entah kenapa dirinya harus mencari tahu itu semua dan entah kenapa kini tubuh mungilnya itu tiba-tiba bergetar dengan sendirinya, setelah mendengar apa yang Devan katakan.


Devan hanya terdiam, ia tak menjawab pertanyaan dari Farhan, ia baru sadar jika laki-laki yang ada di depanya ini sedang lupa ingatan dan tak seharusnya dirinya menanyakan hal konyol seperti tadi. Devan menuruti kebodohannya itu. Jika sudah begini ia harus bagaimana.?


"Apa yang lo maksud dengan bunuh diri? Katakan.! "Sentak Farhan sembari mencengkram kerah baju Devan. Matanya memerah karena emosi yang membuncah. Ia tak tahu harus bagaimana agar Devan bicara! Menghajarnya atau membiarkannya.?


Lagian mana mungkin pemilik tubuh yang ia tempati ini melakukan bunuh diri. Untuk apa? Dan karena apa?


Segala pertanyaan sudah bermunculan di kepalanya. Namun, kali ini ia semakin di buat emosi, karena satu pertanyaan yang ia lontarkan justru tak di gubris oleh mantan sahabatnya itu.


"Devan.....! " Teriakan Farhan menggema, membuat Devan yang hanya diam saja sedari tadi tersentak di tempatnya. Laki-laki itu menatap Farhan dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya.


"Farhan..! " Lirih Devan , namun masih terdengar oleh Farhan. Mendengar ucapan dari Devan membuat laki-laki yang sudah di ambang emosi itu melepaskan cengkraman pada baju Devan.


Farhan yang sudah berusaha menahan emosi pergi begitu saja, meninggalkan Devan tanpa sepatah kata apapun. Ia berlari,meninggalkan minimarket tersebut berharap kali ini ia bisa lolos dari siapapun yang berusaha menghalangi langkahnya.


Devan masih terdiam di situ, menatap kepergian seorang laki-laki yang baru saja membentaknya.


Devan terduduk kembali, pikirannya tiba-tiba kosong begitu saja.


"Apa yang kau pikirkan Devan? Dia itu Arsyan bukan Farhan.! "Rancau Devan , ia memukul kepalanya berkali-kali, berusaha sadar dari apa yang ia lamunkan sedari tadi.


Jantung Farhan mulai berdetak tak beraturan, nafasnya yang mulai tersengal, tak ia hiraukan. Farhan masih berlari sejauh yang ia bisa. Meninggalkan tempat yang di rasa sudah di rasa tak nyaman itu.


Farhan berhenti berlari ia menginjakkan kakinya di atas jembatan, ia duduk di pinggir jalan dan bersender di bahu jembatan. Kini laki-laki itu seperti kehilangan arah dan tujuan, ia hanya menatap sekeliling mengingat apa yang tadi mantan sahabatnya itu bicarakan.


"Bunuh diri? Apa maksudnya.? "Farhan mengacak rambutnya hingga berantakan. Untung saja jalan di sana sangat sepi, jadi tak ada yang mengolok dirinya yang saat seperti orang gila . Berbicara dan marah-marah sendiri tak karuan.


"Hey, Kenapa lo bunuh diri? Hutang lo banyak.? "Tanya Farhan entah bertanya dengan siapa,matanya yang indah menatap langit biru disana berharap ada jawaban yang bisa ia dapatkan.

__ADS_1


Hembusan angin menerpa wajahnya, seakan memberinya sebuah jawaban. Farhan memejamkan matanya. Menikmati setiap hembusan angin yang menemaninya itu.


"Arsyan, lo selain bodoh juga gak ada otak.!"Farhan tertawa setelah mengucapkan hal konyol itu, entah apa yang membuat laki-laki itu tertawa begitu renyah.


Nanda berjalan dia antara para bawahannya yang berbaris berjajar.Sepertinya mereka sudah siap untuk menerima hukuman dari atasannya.Nanda menatap semua bawahannya dengan tatapan tajam. Seorang Nanda memang tak suka tentang kegagalan.


Plak...


" Gak becus.! "


plakk...


"Kamu juga.! "


plak...


"Nyari anak kecil begitu saja tidak bisa.Kalau kalian tidak bisa bekerja lebih baik jangan bekerja.! " Teriak Nanda memarahi bahkan menampar satu persatu bawahannya.


Semua bawahannya yang ada disana hanya membisu dan menundukkan kepalanya. Tatapan tuannya yang mengintimidasi membuat mereka tak berani bergerak satu inci pun. Bahkan untuk mengusap bekas tamparan di pipi mereka saja, mereka semua tak berani.


Arthan, Suga dan Alsan hanya terdiam di tempatnya. Melihat kepala keluarga mereka yang marah-marah disana. Jangankan mendekat ikut campur pun mereka tak berani.


"Saya beri kalian kesempatan satu kali lagi, dalam waktu kurang dari 72 jam kalian harus bisa menemukan Arsyan! Jika tidak ada hasil lebih baik kalian semua keluar dari rumah ini.!"Sentak Nanda dengan nada tingginya.


Nanda pergi begitu saja dari ribuan itu, di ikuti istri dan anak-anaknya. Ia mempercayakan semua bawahannya kepada Nathan, kepala bawahan yang mengatur semua bawahannya di rumahnya.


Mereka membungkukkan badan serempak saat Nanda berjalan di depan mereka semua.


Setelahnya salah satu pengawal melangkah ke depan memberi arahan tentang pencarian Arsyan.


" Kalian harus secepatnya menemukan tuan muda,jika kalian masih ingin tetap bekerja di sini.!"Ujar laki-laki itu.

__ADS_1


Setelah mendapatkan pengarahan dari Nathan, mereka semua berlari kembali mencari tuan muda yang masih berkeliaran di luar sana. Nasib mereka di pertaruhkan saat ini. Jika mereka semua di pecat oleh Tuan Nanda, bisa-bisa mereka semua tidak akan mendapatkan pekerjaan dimanapun itu. Bahkan, mereka semua tidak yakin bisa mendapatkan pekerjaan lagi sekalipun mereka pergi keluar negeri. Entah dari mana peraturan itu tertulis, yang mereka tahu semua bawahan yang Tuan Nanda pecat. Tidak ada akan di terima bekerja di tempat lain. Ibarat kata hidup dan mati mereka semua di atur oleh tuanya itu.


__ADS_2