
Farhan terdiam memandang devan yang juga sedang menatap dirinya dengan tatapan tanya.
"Syan? Kenapa lo ada disini? " Pertanyaan dari Devan membuat Farhan gelagapan sendiri.
"Emm... Anu.. Eh itu gue lagi nyari tempat bersembunyi untuk sementara waktu, dan entah kenapa gue tertarik aja sama tempat ini! "Ujar Farhan, sembari menggaruk belakang kepalanya.
"Oh... Lo kabur dari rumah lagi? "Tanya Devan, membuat Farhan hanya menganggukan kepalanya dengan gugup.
" Emm... Lo sendiri ngapain di gedung tua yang sepi seperti ini? Lo jangan-jangan nyabu? "Tanya Farhan basa-basi, di selingi candaan agar ia bisa menyembunyikan rasa gugupnya.
Devan menghela napasnya. Ia menengok ke arah pintu yang terbuka sebelum kemudian menutup pintu itu.
" Enggak!! Gue disini hanya ingin mengenang masalalu saja! "Jawabnya.
" Kalau lo, mau nyari tempat bersembunyi, mending kita ke atas saja, disana lebih nyaman dan aman! " Ajak Devan, yang tentunya di balas anggukan oleh Farhan.
Sesungguhnya Farhan sendiri masih merasa sangat canggung bila harus berinteraksi dengan mantan sahabatnya itu. Padahal sebelum semua itu terjadi , tak ada istilah canggung di antara mereka.
Farhan menatap tubuh devan yang berjalan di depanya, tubuh itu terlihat sangat kurus di banding saat terakhir kali Farhan bertemu dengan Devan.
Devan adalah anak yang memiliki sifat tak bisa diam, bahkan di antara mereka berdua, Devan lah yang mampu membuat suasana menjadi lebih ceria, watak Devan yang pecicilan dan suka bercanda, kini seperti berubah begitu saja. Devan yang saat ini di mata Farhan adalah Devan yang pendiam dan dingin seperti tak ada lagi sisa kehangatan di diri itu.
"Masih sama"Gumam Farhan, ketika matanya melihat sekeliling, gedung-gedung tinggi masih ada disana, suasana bisingnya perkotaan bahkan masih berdenging di telinganya. Semilir angin yang ti tiba-tiba datang seolah menyambut kedatangan dirinya. Farhan memejamkan matanya seolah menjawab sapaan dari angin itu.
" Gue kembali untuk kalian"Gumam lirih Farhan, menyapa beberapa burung merpati yang berterbangan di sana.
Ia menghentikan langkahnya, disana ada sebuah kursi, kursi yang menjadi saksi kisah persahabatan mereka. Dan hal pertama yang membuat Farhan terpaku adalah, ketika Devan sudah duduk disana, sepertinya Laki-laki itu tak lupa akan tempat mereka menghabiskan waktu dulu.
"Sini duduk! " Ajak Devan, yang sudah berada disana.
__ADS_1
Farhan berjalan pelan, menghampiri Devan, mengingat kembali kursi itu? Membuat Farhan merasakan ngilu di hatinya. Benarkah semua ini sudah usai? Pikir Farhan bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Kalau lo ada masalah? Cerita saja sama gue, Kita temanan kan? "
Devan menatap Farhan, beberapa saat pemuda itu hanya terdiam.
"Gue bingung Syan, harus memulai cerita darimana? Gue merasakan akhir-akhir ini hidup gue terasa sangat hambar bahkan lebih hambar dari kehidupan gue yang dulu. Mama gue sendiri saja sampai nyuruh gue untuk ke psikiater. Hahaha!!!!Mereka pikir gue gila kalik"Ujar Devan.
Farhan hanya bisa terdiam saat mendengarkan apa yang mantan sahabatnya itu katakan, di sisi lain ia pun punya masalah yang jauh lebih berat dari Devan. Namun, di sisi lain, ia harus menjadi pendengar apa yang mantan sahabatnya itu katakan, ia tak mau ego itu datang lagi, ia hanya ingin seorang Devan mau bercerita tentang permasalahan yang di hadapi. Farhan tahu betul semua sifat Devan, bahkan saat mantan sahabatnya itu mengalami sebuah permasalahan, hal yang akan di lakukan Farhan sebagai sahabat hanyalah mendengarkan keluh kesah dari Devan. Bahkan untuk saat ini? Farhan sendiri tak menyangka bahwa kondisi Devan lebih kacau di banding apa yang ia pikirkan selama ini.
" Lo ingat kan waktu gue bercerita tentang kisah keegoisan seorang sahabat waktu itu? "Tanya Devan, membuat Farhan menganggukkan kepalanya.
" Jujur itu kisah gue sama sahabat terbaik gue! "Ujar Devan menatap Farhan dengan tatapan sendu.
" Siapa? "Tanya Farhan penasaran.
" Kalau lo ingat , dulu waktu di SMP kita pernah satu sekolah, bahkan saat mos kita satu gugus! Bahkan saat ini pun kita di sekolah yang sama! Sekolah milik keluarga lo, tetapi beda jurusan saja, lo di IPA gue sama Farhan ada di IPS! "
"Emm, Eh.. Gue.. Itu..! " Farhan bingung dengan sendirinya, bagaimana ia harus menanggapi perkataan Devan.
"Gue tahu lo lagi lupa ingatan, gak apa-apa, lo gak harus maksain diri lo untuk mengingat semuanya! Perlahan lo juga bakal ingat sendiri semuanya! "
"Hmmm" Gumam Farhan.
"Dia meninggal, beberapa saat setelah gue mengusir nya untuk pergi dari kehidupan gue! "Lirih Devan, suaranya bergetar dan serak.
"Devan... "
"Gue penyebab sahabat gue meninggal, gue yang harus nya mati bukan dia Syan! "
__ADS_1
"Seandainya gue waktu itu gak Egois, seandainya gue gak nyuruh dia pergi! Pasti dia saat ini masih ada di sini bersama gue! " Teriak Devan kacau.
Farhan hanya terdiam. Mendengar ucapan Devan yang kacau saat itu membuat hati Farhan seperti teriris.
"Bayangan itu, kecelakaan itu, darah dimana-mana, teriakan orang-orang sekitar, tubuh sahabat gue? Gue ada di sana Syan! Melihat sahabat gue berlumuran darah tepat di depan mata gue! Dan hal yang paling membuat gue menyesal sampai saat ini? Ketika sahabat gue disana meregang nyawanya, gue hanya bisa diam Syan!! Gue pembunuh!!! "Teriak Devan dengan penuh emosi.
"Devan!!!"
"Syan.. Gue udah gak sanggup lagi!"
"Devan!!! Jangan!! Lo gak boleh pingsan!! Hey!!! Sadar Van!! "
Farhan panik ketika melihat Devan seperti kehabisan oksigen, ia segera menepuk pipi Devan agar mantan sahabatnya itu tidak pingsan.
"Syan!!! "Devan merintih, seperti oksigen itu enggan ia hirup, bayangan kecelakaan maut itu terus menghantui benak Devan, tak lama setelahnya ia pun tak sadarkan diri.
"Devan!!! Teriak Farhan, ketika Devan benar-benar sudah memejamkan matanya, tak ada respon sama sekali, ketika Farhan menepuk pipinya. Farhan dengan sigap menggendong Devan di punggungnya, lalu membawanya untuk kembali ke tempat semula.
Farhan dengan kebingungannya berusaha keras agar bisa membawa Devan kembali ke ruangan bawah, ia tak ingin angin disana memperparah keadaannya. Walaupun Farhan tahu? Dia hanyalah matanya sahabatnya. Namun, rasa iba dan empati tak bisa ia tepiskan begitu saja, mengingat dirinya hidup bersama Devan tak sesingkat drama di layar kaca.
" Van lo bangun! "Ujar Farhan, masih berusaha memanggil Devan yang sudah tak sadarkan diri di gendongannya itu.
" Van!! "
"-"
"Devan!!! "Teriak Farhan. Namun masih tak ada respon.
Entah kenapa, kecelakaan itu Seakan-akan menghantui pikiran Devan, rasa bersalah yang ia rasakan bahkan melebihi rasa ego yang dulu pernah pemuda itu tanamkan.
__ADS_1