Love velisa

Love velisa
Lembar 41.Histori Devan


__ADS_3

Sebelum membaca ada catatan kecil dari penulis🐻:Apabila kalian menemukan huruf( miring) itu tandanya kejadian tersebut adalah *flashback cerita/tokoh dalam cerita sedang bermimpi) semoga kalian tidak bingung.


Lembar 41.


Desiran angin malam membuat seorang pemuda merapatkan resleting jaketnya, pemuda itu berdiri di depan bangunan yang sudah cukup tua sembari menatap tajam bangunan itu.


Pemuda itu tersenyum nanar, ketika memandangi bangun tua itu, bangun yang terlihat sudah tak berpenghuni terlihat dari gelapnya bangunan itu dari luar. Dulu, pemuda itu sering singgah di bangunan kosong itu hanya untuk melepas lelah. Namun, seiring berjalannya waktu, pemuda itu tak pernah menampakkan kakinya di sini.


Dengan senyum yang masih tersirat jelas dari bibirnya, pemuda itu melangkahkan kakinya untuk masuk kesana. Matanya was-was, sesekali ia menatap sekeliling. Dan benar, semua yang ada di sana tak berubah sama sekali.


Devan, pemuda itu menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kayu yang terbuka kurang dari satu centimeter itu , ia tahu ada kehangatan yang mulai mending disana. Kehangatan sang pemilik yang sekarang sudah tak lagi pulang.


"Farhan"Gumam Devan, sembari menatap pintu itu dengan nanar. Matanya sendu memperlihatkan ada kesedihan yang ia pendam.


Perlahan ia menjulurkan tangannya, seakan-akan ingin membuka pintu itu, melihat apakah yang ada di dalam masih seperti dulu? Namun, pemuda itu mengurungkan niatnya. Ia mengepalkan kedua tangannya, kepalanya tertunduk dan matanya menatap nanar, ke arah pot yang ada di sebalah sana.


"Kalau lo mau masuk, masuk saja! Ini juga rumah lo! Dan kuncinya selalu gue taruh di bawah pot bunga itu.! "Tunjuk Farhan.


Entah angin apa yang membuat Devan, mengingat kembali masa-masanya dulu saat bersama Farhan, di bangunan tua ini. Devan menggeram rendah mencoba menahan emosinya yang akan meluap.


"Lo sahabat baik gue, dan hanya lo yang gue punya! Jadi lo bisa datang kemari kapanpun lo mau.! "


"Kita udah sahabatan dari orok, lo bebas kok mau ngapain saja di sini! Saat lo lelah lo juga bisa datang di sini kapanpun itu!Jadi jangan sungkan.! "


"Devan...... Sosis lo kebakar tuh,buruan matiin kompornya, gue sedang berak.! Awas aja kalau dapur gue kebakar.! "


Devan tertawa kecil, ketika mengingat kejadian dimana dirinya lupa kalau sedang memasak sosis untuk makan malam dirinya dan Farhan, ia malah keasikan main ps yang tentunya itu Farhan siapkan untuk dirinya. Saat itu Farhan berteriak histeris saat mencium bau gosong dari arah dapur. Dan mendengar teriakan Farhan, Devan ikut panik , karna kecerobohan yang ia buat dirinya harus siap mendengar ocehan dari sahabatnya itu.

__ADS_1


"Loh itu yah, masih ada ceroboh! Kalau rumah ini kebakar lo mau nampung gue.? "Sentak Farhan sembari menatap Devan dengan mata yang melotot, ia sesekali tersenyum kecil melihat ekpresi sahabatnya itu yang sedang panik. Sangat lucu.


" Yang penting kan, gak jadi kebakar .! "Ujar Devan dengan santainya, sembari membalas tatapan dari Farhan.


"Tapi kan lo tahu sendiri, ini tempat satu-satunya yang gue punya, jika tempat ini benar-benar terbakar lalu gue---? " Ujar Farhan terpotong karena Devan dengan tiba-tiba mencengkram pundaknya. Devan menatap Farhan dengan intens begitupun sebaliknya.


"Kalau lo gak ada tempat lagi,masih ada rumah gue yang selalu nunggu lo pulang.! " Ujar Devan.


Farhan terdiam. Namun, tak lama kemudian ia menyingkirkan tangan Devan yang masih melekat di pundaknya, membuat mereka yang sedari tadi saling tatap kini buyar seketika.


"Lo tau kan gue gak bisa, pergi dari tempat ini.? "Ujar Farhan yang tersenyum ke arah Devan, sebelum membalikan badanya dan berjalan ke arah dapur untuk mengambilkan Devan segelas air.


" Kenapa? Kita kan sudah sahabatan dari orok, seperti yang selalu lo bilang gue gue. Tapi kenapa setiap lo gue ajak pulang ke rumah, lo selalu nolak Farhan.? "


Devan menatap punggung Farhan yang sedang menegang itu.


"Lo bodoh Han, sumpah lo bodoh.! "


Farhan menatap Devan kembali, namun tatapan Farhan kali ini sulit di artikan oleh Devan.


"Ya, lo memang benar! Gue sangat bodoh.!! Tapi gue gak masalah di katain bodoh, selagi itu lo yang bilang! Apa salahnya mengharapkan keluarga yang utuh.! "


"Han.. "


"Lo udah tahu kan kalau kata ibu panti,gue masih punya keluarga yang utuh.! "


"Kata ibu panti, suatu saat pasti keluarga gue bakal jemput gue di sini! Itulah alasan kenapa gue gak mau ninggalin tempat ini. Termasuk di adopsi oleh keluarga lo.! "Lanjut Farhan, sebelum Devan berbicara.

__ADS_1


"Lo tahu sendiri Farhan!!! Kenapa wanita itu ngelarang orang lain untuk ngadopsi lo.! "


"Devan.... " Panggil Farhan lemah, ia menatap Devan seaakan memohon agar sahabatnya itu mengerti kondisinya saat ini.


"Gue cuma mau yang terbaik buat lo! Lo udah gue anggap seperti saudara gue sendiri. Bahkan, nyokap dan bokap gue pun membuka pintu lebar untuk lo.! "


Mendengar ucapan Devan, Farhan mendongakkan wajahnya kembali menatap Devan, tatapan Farhan kali ini benar-benar sendu, sorot matanya seakan berbicara kepada Devan agar sahabatnya itu mau mengerti keadaannya saat ini.


"Dengan lo ada di sini setiap saat, bermain sama gue, nemenin gue , selalu ada buat gue dalam suka maupun duka. Itu sudah lebih dari cukup bagi gue Devan.! " Ucap Farhan sembari memeluk sahabatnya itu.


Devan meneteskan air mata, saat Farhan memeluknya, pria itu tahu apa yang sedang sahabatnya rasakan. Tinggal sendiri tanpa kasih sayang orang tua memang berat bagi sahabatnya itu. Devan tak bisa apa-apa kecuali menyemangati sahabat baiknya itu.


"Gue akan selalu ada buat lo, gue akan selalu suport lo dalam keadaan apapun. Gue janji itu.! "Ucap Devan sembari merapatkan pelukannya untuk Farhan. Ia tak mencerna apa perkataan terakhir yang ia ucapkan itu.


Air mata Devan menetes tanpa ia sadari membuyarkan lamunannya yang sedari tadi membelunggunya. Ia ingat betul setiap detail kejadian saat itu, membuat hati Devan terasa teriris karena tak bisa menepati janji yang ia buat sendiri.


" Maafin gue gak bisa nepatin janji itu Han.! "


"Maaf sikap gue egois banget.! "


"Maaf gue gak percaya sama lo.! "


"Maaf.! "


Hanya kata-kata maaf yang selalu Devan ucap. Pria itu terduduk termenung, tubuhnya ia sandarkan di depan pintu bangunan tua itu, mengingat setiap kenangan manis yang pernah mereka untai bersama. Sebelum kejadian naas itu memisahkan kisah persahabatan mereka.


Kejadian itu membuat Devan menyesal, ia tak menyangka secepat itu harus kehilangan sosok seperti Farhan.

__ADS_1


__ADS_2