
Alisha terbangun dalam mimpi buruknya. Nafas gadis itu tersengal. "Aku harap itu hanya mimpi" ujar sang gadis penuh harap.
Namun kenyataan itu dipatahkan kala Zea masuk dengan menggunakan pakaian serba hitam.
"Ze"
"Lo udah bangun?" Zea tersenyum manis namun menyimpan duka di kedua matanya.
Gadis itu menghampiri tubuh Alisha dan mendekapnya erat. "Gue yakin lo kuat" ucap Zea
"Lo apasih Ze kuat apaan coba" Alisha terkekeh pelan namun tak urung air mata itu kembali menetes.
"Kay lagi ngapain?" tanya Alisha dengan pandangan kosong.
"Dia pasti lagi istirahat. Capek banget ya dia" ucap Alisha dengan terisak kemudian tertawa lirih.
"Dia udah gak ada, Sha" ucap Zea
"Dia lagi istirahat, Ze"
"Dia ngantuk banget kan" Alisha masih tetap percaya jika kekasihnya itu masih hidup.
__ADS_1
"Sekarang lo istirahat dulu" Zea mengusap lembut rambut panjang Alisha. Meminta gadis itu kembali tidur agar tenang.
"Gue mau tidur kalau dipeluk Kay" lirih Alisha
"Sha, tidur ya?" Zea meminta dengan harapan penuh.
Gadis itu pasti lelah. Ia seharian menangis setelah mendengar kabar jika Kaysar telah meregang nyawa dengan mendekap tubuhnya. Bahkan ia kembali histeris saat tubuh Kaysar dimakamkan.
...****************...
Hari demi hari berlalu, kini gadis itu kembali menginjakkan kakinya di SMA Atma Jaya. Cacian itu masih ia peroleh mulai gerbang sekolah hingga sampai kelas.
"Fara?"
"Mungkin gue akan terseret dalam kasus ini. Tapi setidaknya gue bantu lo buat tau siapa penghianatnya" ucap Fara dengan sorot mata tajam.
"Far, lo berubah banget. Lo sahabat gue dulu kenapa tega ngelakuin itu ke gue?" teriak Alisha.
"Gue emang sahabat lo. Gue tau jalan yang gue pilih salah. Tapi gue tetep tulus. Terserah mau percaya atau gak" ucap Fara kemudian pergi begitu saja.
Alisha menatap nanar langit biru yang indah dengan pancaran sinar matahari. "Tujuan awal adalah membongkar siapa dibalik ini semua" ucap Alisha
__ADS_1
Alisha melangkah masuk ke dalam kelasnya dan duduk dengan tenang. Gadis itu memainkan ponselnya dengan jari-jari yang menari di atas layar datar tersebut.
"Woi pembunuh!! Masuk juga lo akhirnya" Sebuah kertas yang di bentuk menjadi gumpalan itu mengenai kepala Alisha.
Kini siswa siswi lain pun ikut serta dalam hal tersebut. Namun yang dilakukan gadis itu hanya diam. Ia lelah.
"Kalau gue bisa buktiin kalau gue bukan pembunuh? Kalian semua harus sujud di kaki gue buat minta maaf" tantang Alisha dengan bersedekap dada.
Keadaan hening. Semuanya terdiam tanpa ada satupun yang menjawab. "Takut? Cupu. Beraninya main hakim sendiri. Cih" Alisha kembali duduk dengan tenang. Kini tak ada lagi yang mengganggu konsentrasi dirinya.
Bel masuk berbunyi dengan nyaring. Tak lama seorang guru masuk ke dalam kelas untuk mengisi jam mata pelajaran.
"Anak-anak hari ini kelas kita kedatangan murid baru" ucap sang guru menjadi pusat perhatian murid-murid yang antusias.
"Silahkan masuk dan perkenalkan diri kamu" Seorang gadis dengan paras cantik masuk dengan anggun. Mata coklat itu menyorot pada satu arah dengan lekat. Bibir sang gadis mengukir senyum tipis dan menyambut semuanya.
"Gue Harley Dean Alveita. Pindahan dari SMA Pelita"
"Salam kenal Harley" Sapaan itu terdengar dari birai cowok cowok yang terpesons oleh kecantikan gadis tersebut.
Alisha menatap datar gadis tersebut. Ia adalah gadis yang sama di bandara waktu itu.
__ADS_1