
"Habis ngejalang dimana aja lo berhari-hari gak pulang?" Renata menatap nyalang kedatangan Alisha yang baru saja pulang setelah beberapa hari menghilang.
"Gue gak mood buat debat sama lo" ucap Alisha lesu dan masuk ke dalam kamarnya.
Namun langkahnya terpaksa terhenti karena tarikan di rambutnya ulah Devan membuat gadis itu mendongak. "Apasih kak"
"Buat apa lo pulang? Sekalian aja lo pergi gausah balik. Bahkan jika lo mati sekalipun gue akan jadi orang paling bahagia" ucap Devan.
"Udahlah kak aku capek. Capek ngadepin keluarga gila macam kalian" teriak Alisha yang benar-benar lelah dengan semua drama keluarganya yang tak pernah habis.
Bruk
Tubuh Alisha terjatuh dari anakan tangga keenam hingga tersungkur ke lantai. Lantai marmer yang semula bersih menjadi ternodai karena darah mengucur dari pelipis Alisha.
Devan melemparnya tanpa dosa. "Gue habis diculik sama Chiko. Puas kalian!!" teriak Alisha.
"Harusnya si Chiko buang aja lo ke laut. Ngapain juga dibebasin gitu aja" ucap Renata dengan bersedekap dada.
"Terserah apa yang lo sama kak Devan bilang. Gue udah gak peduli. Bahkan gue berharap gue akan mati secepatnya" ucap Alisha dan masuk ke dalam kamarnya.
"Kak" panggil Renata
"Hm"
"Minggu depan Arkan akan pulang" ucap Renata membuat Devan tersentak. "Kita harus bertindak secepatnya"
"Kalau Alisha—"
__ADS_1
"Diem. Dia gak akan tau apa-apa" ucap Devan dan melangkah pergi begitu saja sedangkan Renata tampak memutar otaknya begitu keras hingga ia tersentak karena sebuah tangan besar menyentuh pundaknya.
"Aiden lo ngagetin gue aja" ucap Renata kesal.
"Ngapain lo?"
"Dimana nyonya Arliza?" tanya Aiden.
"Lo buta apa bodoh atau apa? Ini masih siang ya pasti mama di perusahaan lah" ucap Renata ketus.
"Ouh oke" Aiden melangkah keluar dari rumah itu.
"Gue ngeraguin lo sebagai asisten pribadinya mama" celetuk Renata
Aiden menoleh sejenak kemudian melanjutkan langkah kakinya tanpa berniat membahas ucapan Renata itu.
Renata mendengus dan menghampiri Devan yang tampak duduk santai di pinggir kolam dengan menyulut rokok miliknya. "Gue takut" ucap Renata membuyarkan lamunan Devan.
"Ada mata-mata di antara keluarga kita" ucap Renata dengan menoleh ke arah Devan.
"Gue udah tau" ucap Devan
"Aiden?"
"Dia tau semuanya. Dia selalu mengawasi setiap pergerakan kita" ucap Devan misterius
"Terus?"
__ADS_1
"Biarin aja" ucap Devan santai.
"Lo sesantai itu?"
"Lo kira gue sesantai itu?" Devan bertanya balik. Renata mengedikkan bahunya acuh. Ia tak paham dengan jalan pikiran Devan.
"Bukankah menyayangi seseorang harus di perjuangkan?" ucap Devan.
"Tidak semua rasa sayang di ungkapkan secara langsung. Bukankah gitu?"
"Temui Saka sana" titah Devan.
"Gue gak yakin, Kak" ucap Renata ragu.
"Ck, pengecut lo" ucap Devan meremehkan.
"Tunggu beberapa saat aja dulu. Jangan sekarang setidaknya kasih jeda" ucap Renata dengan menatap air kolam yang tampak tenang.
"Mau sampai kapan? Waktu kita gak banyak" ucap Devan.
"Gue—"
"Lo harus bisa" ucap Devan penuh penekanan di setiap kata-katanya
"Kenapa harus kaya gini sih? Gue capek tau gak" ujar Renata.
"Kita perlu perjuangan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Dan kita ada di dalam fase itu"
__ADS_1
"Gue akan buat Alisha tanda tangan pengalihan harta itu secepatnya. Atas nama gue" ucap Renata dan langsung pergi begitu saja.
"Keras kepala"