
Pukulan bertubi-tubi itu kini menghantam tubuh Mario. Saja yang sedang dibalut kemarahan menjadi sangat brutal saat menatap musuhnya itu.
"Saka udah" cegah Fino yang melihat Mario sudah hampir mati.
"Biarin aja. Dia pantes dapet itu" ucap Varo kemudian tertawa.
Mendapat tatapan tajam dari Fino, Varo menghentikan tawanya dan ikut menarik tangan Saka.
Mario dibawa menjauh oleh beberapa orang agar perkelahian itu tidak berlanjut. Mario k
sudah tidak sadarkan diri namun hal itu tidak membuat Saka menghentikan pukulannya.
"Lepas!!" Saka menarik kedua tangannya dan masuk ke dalam ruang ganti.
Varo dan Fino duduk di salah satu kursi panjang untuk menunggu Saka. Tak lama kemudian Saka keluar dengan pakaian yang sudah rapi.
"Wajah lo lebam semua" ucap Varo.
"Biarin" ucap Saka.
Ketiga cowok itu melangkah keluar untuk pergi ke kediaman Fino.
"Wah wah wah jadi ini orang yang udah hajar Mario sampe kaya gitu?" ucap salah satu cowok yang menghadang jalan Saka, Varo dan Fino.
"Gue gak ada urusan sama lo" ucap Saka dengan tatapan datar.
__ADS_1
"Serang" Saka berdecak pelan. Lagi-lagi ia harus menguras sedikit tenaganya.
Pertarungan tiga cowok itu menjadi pusat perhatian dari beberapa orang yang berlalu. Hantaman kuat Saka mengakhiri perkelahian itu.
"Gue udah bilang gue gak ada urusan sama lo. Jadi jangan salahin gue kalau lo babak belur karena nyari masalah sendiri" Saka berlalu begitu saja dan naik ke atas motornya diikuti Varo dan juga Fino.
Ketiga cowok itu pergi meninggalkan tiga cowok lainnya yang sedang terkapar karena kalah.
"Sekarang lo udah resmi jadi pacar Alisha?" Varo meneguk segelas air minum. Mereka telah sampai di rumah Fino.
"Terpaksa karena kalah taruhan sama kalian berdua" ucap Saka dan menjatuhkan tubuhnya dengan kasar di atas sofa.
"Terpaksa nanti ujung-ujungnya cinta" cibir Fino dengan menatap Saka yang menutup matanya sejenak.
"Awas nelen ludah sendiri" ucap Varo memperingati.
Fino menyalakan televisi karena di rumah ini benar-benar hening jika tidak ada suara mereka.
"Nyokap bokap lo kemana?" tanya Varo penasaran dengan mengamati sekeliling rumah Fino yang cukup luas dengan nuansa putih.
"Pergi" ucap Fino dan duduk di karpet sambil memakan cemilan.
"Sendirian dong lo" ucap Varo.
"Kagak" ucap Fino.
__ADS_1
"Terus?" tanya Varo penasaran.
"Bertiga sama setan" ucap Fino ngasal.
"Lo ngatain kita setan?" tanya Varo kesal dan melempar kacang yang disuguhkan Fino di atas meja ke arah pemiliknya.
"Gue gak bilang ya. Lo sendiri aja yang nyadar baguslah" ucap Fino santai sambil menonton tayangan televisi yang menayangkan film Tayo the Little Bus.
"Lo kayanya bocah TK yang nyasar ke SMA" celetuk Saka yang melihat tontonan Fino seperti tontonan anak TK.
"Seenaknya aja lo ngomong Sak" ucap Fino tak terima.
"Kalian mau minum apa?" tanya Fino menawari.
"Sebagai tuan rumah yang baik gue gak akan biarin kalian mati kehausan disini. Entar gue sendiri yang repot" sambung cowok itu.
"Terserah lo aja" ucap Saka.
"Gue es krim mekdi" ucap Varo dengan tertawa jenaka yang langsung disambut pukulan dari Fino yang kesal.
"Itu ngelunjak" ucap Fino.
"Lah lo sendiri yang nawarin. Bebas dong gue mau apa" bantah Varo yang tak terima.
"Setidaknya kaya Saka gitu. Itu baru namanya tamu yang baik. Kalau lo tamu dajjal" Fino menggerutu sambil berjalan masuk ke dapur.
__ADS_1