
Perlahan langkah kaki Alisha masuk ke dalam kamar Arliza. Gadis itu mengumpulkan sedikit keberanian untuk masuk ke dalam kamar sang nyonya besar Amergan itu. Jika ia ketahuan, bisa habis dirinya.
"Huftt" Alisha menghembuskan nafas lega ketika berhasil masuk ke dalam kamar Arliza.
Alisha menyusuri kamar yang sangat luas itu. Alisha mencari sesuatu yang dapat menjadi kunci jawaban atas pertanyaan di dalam otaknya.
Namun mata biru itu terhenti pada satu titik. Rak buku yang sangat besar itu berada di dalam kamar Arliza? Terdengar sedikit aneh. Sedangkan di rumah megah ini sudah tersedia ruang baca dengan banyak buku yang tersedia.
Gadis itu melangkahkan kakinya mendekati rak buku yang terbuat dari kayu yang kokoh. Ada satu buku yang menjadi perhatian dirinya. Buku bercetak tebak dengan warna hitam pekat dan warna emas di bagian pinggirnya.
Alisha mengambil buku itu. Namun ia dikejutkan dengan ruangan rahasia yang tampak terbuka di depan matanya.
"Ada ruang rahasia di kamar mama?" Alisha melangkah masuk dengan segala rasa penasarannya.
Sebuah potret gambar dengan bingkai yang berukuran sangat besar terpajang dengan indah di salah satu dinding. Ia mengenal dua orang yang ada di foto tersebut. Itu Arliza Steviana Mahendra dengan Dirganandra Daksa Amergan.
Kemudian Alisha beralih pada satu bingkai foto yang tak kalah besar berada di sisi kanan foto kedua orang tua Alisha. Dirganandra Daksa Amergan dengan seorang wanita yang tak Alisha kenal.
"Viktoria Helena Putri Maheswari dan Dirganandra Daksa Amergan" ucap Alisha membaca tulisan yang ada dibawah foto tersebut.
__ADS_1
Wanita yang sangat cantik dan anggun. Dengan mata biru dan rambut coklat bergelombang indah. Siapa dia?
"Siapa wanita itu? Apa selingkuhan papa?"
"Tapi kenapa mama memasang bingkai foto itu disini? "
Suara derap langkah kaki seseorang menginterupsi atensi Alisha. Gadis itu kembali keluar setelah merapikan semuanya. Alisha melirik kanan kiri untuk memastikan keadaan aman untuk ia keluar.
Dengan langkah anggun, Alisha berjalan setapak demi setapak melewati lantai marmer putih yang ia pijak menuju kamarnya.
"Nona Alisha?" Panggilan itu menghentikan pergerakan Alisha yang ingin masuk ke dalam kamarnya. Alisha meneguk ludahnya kasar dan menetralkan ekspresinya agar tidak dicurigai.
"Nona sudah makan?" tanya Aiden. Pria itu adalah orang kepercayaan Arliza. Pria muda namun memiliki kecerdasan diatas rata-rata.
"Pelayan sudah menyajikan makan malam. Nona silahkan makan malam terlebih dahulu kemudian beristirahat" Alisha hanya mengangguk. Aiden berjalan melalui dirinya membuat gadis itu menghembuskan nafas lega.
"Hufttt" Alisha turun ke lantai dasar menggunakan lift. Ia lelah naik turun dengan tangga. Gadis itu duduk di meja makan dan menyantap sajian makanan yang ada.
Notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel mahal Alisha. Dahi gadis itu mengkerut kala melihat nomo tidak dikenal mengirim pesan padanya.
__ADS_1
Alisha menghentikan makannya dan membuka pesan singkat itu.
"Temui gue di Taman Kenangan"
Hanya pesan singkat yang diabaikan oleh Alisha. Namun pesan berikutnya cukup mengusik pikiran Alisha.
"Kalau lo mau tau kebenaran tentang kelurga lo"
Tangan Alisha tergerak untuk menelfon orang tersebut. Namun dengan cepat nomor itu sudah tidak aktif lagi.
"Siapa berani main main sama gue?" gumam Alisha
"Ada apa nona?" Alisha tersentak dengan kehadiran Aiden. "Ah tidak ada"
"Tapi sepertinya nona sedang memikirkan sesuatu"
"Tidak ada. Hanya perasaanmu saja" Alisha mengakhiri makannya dan kembali keluar dari rumah Amergan.
Ia harus tau siapa yang telah mengirimkan dirinya pesan itu. Itu artinya orang itu tau tentang keluarganya.
__ADS_1