Mawar Terakhir

Mawar Terakhir
Mawar Terakhir • 21 •


__ADS_3

"Mulai saat ini gue yang antar jemput lo. Jadi lo gak akan keluyuran setelah sekolah" ucap Devan


"Kak mana bisa gitu" protes Alisha.


"Gausah bantah bisa" tegas Arliza


"Ma tapi—"


"Udahlah jadi anak itu yang nurut" sahut Renata. Gadis itu maju ke arah Alisha dengan sorot mata tajam.


"Renata udah" Arliza menarik tangan Renata agar mundur. "Mama tegaskan mulai saat ini kamu diantar jemput sama Devan. Gausah bawa mobil sendiri" ucap Arliza.


"Ma mana bisa gitu. Itu mobil Alisha jadi hak Alisha mau pakai kemana aja. Mama dan Kak Devan gak berhak untuk ngatur-ngatur aku"


Suara tamparan menggema di sepenjuru ruangan. Pipi Alisha memerah akibat tamparan yang mendarat di pipi putihnya. "Mana kunci mobil kamu" pinta Arliza dengan mata tajam.


"Gak ma!!" Alisha menyembunyikan kunci mobilnya dan berlari masuk ke dalam kamarnya. "Alisha!!" teriak Arliza dan menggedoe pintu kamar Alisha.


"Udah ma udah" cegah Renata. "Nanti penyakit mama kambuh lagi. Udah" ucap Renata

__ADS_1


Devan menuntun Arliza untuk duduk di sofa dan memberikan wanita paruh baya itu segelas air minum.


Devan membawa Arliza masuk ke dalam kamar wanita itu. Sedangkan Renata bersedekap dada di depan kamar Alisha. Ketukan tiga kali terdengar di pintu kamar Alisha.


Alisha diam tanpa berniat untuk membuka pintu. "Lo yang buka sendiri atau gue dobrak" ancam Renata.


"Lo dobrak sekalipun gue gapeduli" ucap Alisha.


"Alisha!!" teriak Renata.


Alisha menghela nafas panjang. Gadis itu berdiri dan membuka pintu kamarnya. Renata langsung berlalu masuk tanpa permisi dan kembali mengunci pintu.


"Mungkin bagi lo gue musuh" ucap Renata membuat Alisha mengernyit. "Gue saudari lo kalau perlu gue ingetin"


"Gak perlu" ucap Alisha.


"Dalam lima tahun terakhir gue ngerebut perhatian mama dari lo. Iyakan?" ucap Renata


"Bagus kalau nyadar. Mama jadi benci gue karena ulah lo" ucap Alisha.

__ADS_1


"Lo nyadar gak kalau lo itu anak emas mama selama ini. Hanya lo yang selalu di prioritasin. Karena apa? Sejak mama ngandung lo, kakek dan nenek antusias banget dengan kehadiran lo" ucap Renata.


Alisha hanya diam tanpa menanggapi apapun. "Tapi lo gak akan sadar. Banyak musuh yang ngintai lo" ucap Renata


"Gue gak peduli. Sekalipun aku mati karena musuh aku juga gak peduli. Asal gak di benci sama mama gue sendiri" ucap Alisha


"Gue cuma ingetin sama lo. Tetep waspada sama siapapun. Gak semuanya yang terlihat baik itu baik dan gak semua yang terlihat jahat itu jahat. Musuh ada dimana-mana. Bisa jadi gue, Kak Devan, mama, atau Kak Arkan bahkan temen-temen lo juga" ucap Renata dan keluar dari kamar Alisha.


"Jelasin apa maksud lo" Alisha menarik tangan Renata dan menatap kedua netra coklat Renata dengan intens.


"Lo pikirin aja sendiri"


"Gue yakin lo bisa paham dengan otak lo yang pinter itu" ucap Renata dan pergi menyisakan tanda tanya dalam benak Alisha.


Ada apa ini? Masalah sebab perubahan mamanya saja ia belum menemukan titik terang kini ditambah lagi dengan musuh yang dimaksud oleh Renata.


Alisha mencari sesuatu di dalam lacinya. "Apa ada hubungannya sama buku nikah ini?" gumam Alisha.


Ia tak paham dengan permasalahan yang ada di keluarganya sendiri. "Ada apa sebenarnya?"

__ADS_1


__ADS_2