Mawar Terakhir

Mawar Terakhir
Mawar Terakhir • 11 •


__ADS_3

Alisha menatap datar pasa gundukan tanah yang ada di hadapannya. "Lo jahat Kay" lirih Alisha


"Lo ninggalin gue secepet ini" Alisha menahan sesak di dadanya mengingat kenangan manis yang selalu diberikan oleh Kaysar.


"*Zevanyaku" panggilan manis itu terdengar dari bibir tebal Kaysar.


"Ih cemong banget makan es krimnya" ejek Kaysar dan menarik es krim yang ada di tangan Alisha hingga membuat wajah gadis itu semakin belepotan.


Kaysar tertawa keras melihat wajah kesal kekasihnya itu. "Kaya bocil tau"


"Ihhh Kaysarr" Alisha berjalan ke arah pria itu dengan kesal. Namun dengan cepat Kaysar berlari menjauhinya. "Ga bisa. Lari kaya siput mau ngejar aku" Lagi - lagi pria itu mengejek dirinya.


Hingga saat Alisha bisa menangkap Kaysar, wanita itu mencubit pinggang Kaysar hingga sang empunya meringis kesakitan. "Awww kasar banget jadi cewek"


"Biarin!! Kamu ngeselin" Alisha membuang muka. Sedangkan Kaysar tertawa tanpa rasa bersalah.


"Kalau aku kasih ini masih ngambek?" tanya Kaysar menyodorkan satu bucket bunga mawar merah ke hadapan Alisha.


"Cantik banget" Alisha menghirup aroma bunga itu dengan menutup kedua matanya.


"Sama seperti kamu. Always cantik"

__ADS_1


"Apasih bahasanya gado-gado" Alisha kemudian tertawa mendengar ucapan Kaysar yang menggunakan bahasa amburadul.


Kaysar menatap wajah Alisha yang tampak sangat cantik dari samping. Tangannya terulur mengusap sisa es krim di sekitar bibir gadis itu dan memakannya. "Kebiasaan" Kaysar hanya terkekeh pelan.


"Tetep di sampingku apapun yang terjadi" ucap Kaysar


"Kamu juga" Kaysar mengangguk.


"Aku gak akan pernah ninggalin kamu, Zevanyaku"


"Lebih baik aku mati dari pada bersama orang lain selain kamu*"


Langit sore dengan semburat oranye itu tampak indah menghiasi awan. Menambah suasana sendu yang sedang menyelimuti Alisha. "Lebih baik melihat kamu bersama orang lain dari pada melihatmu tiada" Air mata itu kembali menetes.


Alisha menoleh. "Ngapain lo disini?" tanya Alisha pelan


"Mau ke makam papa gue" ucap Harley


"Gue udah bilangkan sewaktu di bandara"


"Lo akan ngerenggut dua orang yang berpihak ke gue?"

__ADS_1


Harley mengangguk. "Bedanya gue bukan pelaku"


"Itu takdir, Sha. Lo gak bisa nolak. Zea emang bukan sahabat yang baik buat lo. Sekarang udaah terbuka kan kebenarannya. Dan Kay, dia menemani lo sampai mencapai titik terangnya meskipun gak sampai endingnya"


Kedua gadis itu bersitatap dengan di temani daun-daun kering yang berguguran. Tampak indah ditemani dengan langit senja.


"Lo mau balik?" tanya Harley dan Alisha mengangguk


Gadis itu mengambil kunci mobilnya yang ada di dalam tas kemudian pergi begitu saja. Sedangkan Harley tetap berada di tempat yang sama.


Gadis itu mengusap air matanya yang menetes. "Kisah kalian terlalu sempurna"


Alisha melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Ia berniat menjenguk Renata. Dia tak tau keadaan saudarinya itu saat ini.


Langkah kaki sang gadis tampak menjadi pusat perhatian dengan high heels yang ia pakai bersiteru dengan lantai marmer rumah sakit.


Namun langkah itu terhenti saat sampai pada ruangan dimana Renata dirawat. Alisha menatap saudarinya dari kaca yang mengekspos isi di dalamnya.


Arliza dengan wajah berbinar menyuapi putri kesayangannya itu. "Dulu itu yang aku dapat. Tapi sekarang?" Alisha tertawa kecil.


Sedangkan Devan dengan penuh kasih sayang mengusap lembut rambut panjang Renata.

__ADS_1


"Gue pengen ngedapetin kebahagiaan itu lagi"


Alisha menunduk sejenak kemudian kembali mengangkat dagunya. "Aku harus tau apa yang disembunyikan"


__ADS_2