Mawar Terakhir

Mawar Terakhir
Mawar Terakhir • 31 •


__ADS_3

Pintu yang semula terkunci itu kini terbuka. Wajah Arliza kini tampak muncul di hadapan Alisha. Namun sang gadis kini tampak pingsan dengan tubuh yang menggigil kedinginan.


Tangan wanita itu tergerak untuk memastikan shower yang selama semalaman menyala. Wajah Alisha kini sudah sangat memucat dengan bibir yang terus menggigil.


"Devan!!" teriak Arliza.


"Iya ma?" tanya Devan dengan segera.


"Panggil Dokter Riyan" titah Arliza.


"Aku udah hubungi Dokter Riyan" ucap Renata dari arah belakang membuat kedua manusia yang ada di hadapan Renata menoleh padanya.


"Bawa Alisha ke kamarnya" ucap Arliza dan pergi begitu saja. Wanita itu tampak duduk dengan santai di sofa ruang tamu sambil membaca majalah fashion keluaran terbaru.


Renata ikut menyusul Arliza dan duduk di sebelah wanita itu. "Dia bisa mati jika tidak di panggilkan dokter. Dan mama gamau itu terjadi" ucap Arliza tanpa menoleh menatap ke arah Renata.


"Bukannya lebih baik dia mati?" tanya Renata dengan bersedekap dada.


"Lebih baik dia pergi jauh dari keluarga ini" ucap Arliza mengoreksi kata-kata Renata.


"Udah ma" Devan pun ikut duduk di sofa yang berbeda dengan Arliza dan Renata.


"Gadis bodoh itu sudah aku bawa ke kamarnya" ucap Arliza.

__ADS_1


Tak lama Dokter Riyan datang. Dokter kepercayaan keluarga Amergan yang sudah di percaya beberapa tahun terakhir ini menggantikan posisi ayahnya yang sudah bekerja puluhan tahun untuk keluarga itu.


"Siang dokter" sapa Arliza


"Ada apa? Siapa yang sakit?" tanya Dokter Riyan.


"Alisha" Arliza melangkah masuk ke dalam kamar putri bungsu nya itu.


Dokter Riyan pun ikut masuk ke dalam kamar gadis yang sedang pingsan itu kemudian memeriksanya.


Beberapa menit kemudian Dokter Riyan membereskan alat-alat medisnya dan berdiri. "Dia demam tinggi. Aku sudah memberinya obat penurun demam" ucap Dokter Riyan.


Arliza hanya menganggukan kepala tanpa menjawab perkataan Dokter Riyan.


"Saka anterin ini baju seragam Alisha" ucap Reyana.


"Biarin dia dateng sendiri kesini. Saka udah bilang kemarin" ucap Saka.


"Udah ah gapapa anterin aja" ucap Reyana memaksa putranya itu untuk mengantarkan baju seragam Alisha yang sudah di cuci oleh Reyana.


"Ma. Dia yang butuh maka dia yang harus datang. Biar jadi cewek gausah manja" ucap Saka.


"Saka mau keluar. Ada urusan sebentar sama Varo" ucap Saka dan meraih kunci motornya.

__ADS_1


"Hati-hati" teriak Reyana.


"Anak itu" Reyana menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Saka.


Varo duduk seorang diri di kursi taman. Cowok itu tampak menunggu seseorang sedari tadi. "Lama?" tanya Fino dan menepuk bahu Varo dari arah belakang.


"Baru lima menit lalu" ucap Varo


Fino hanya mengangguk dan menaikkan salah satu kakinya. Kini hanya Saka yang belum datang. Mereka janjian bertiga untuk bertemu disini karena Mario yang masih dendam dengan Saka kini ia mengajak cowok itu untuk berduel.


Tak lama kemudian tampak Saka sedang berjalan ke arah Varo dan Fino. Dengan jaket hitam yang melekat di tubuhnya dan juga celana jeans membuat penampilan cowok itu semakin memukau.


"Gileee coba aja gue cewek udah gue pacarin lo Sak" ucap Varo kemudian terkekeh pelan.


"Lo yakin mau nerima ajakan Mario?" tanya Fino.


"Yakin"


"Urusan gue sama dia soal kemarin harus selesai di ring hari ini" ucap Saka.


"Emang lo bisa berantem bro?" tanya Varo.


Saka menatap tajam Varo kemudian memukul dada cowok itu pelan hingga Varo mundur beberapa langkah.

__ADS_1


"Becanda bre. Jangan di bawa hati" Varo terkekeh pelan saat melihat wajah masam Saka.


__ADS_2