
Visual
Alisha Zevanya Armeltha Putri Amer
Arenata Verlha Amergan
"Bukti apa?"
"Coba liat liat"
Seluruh siswa siswi SMA Atma Jaya itu berkumpul di satu titik dimana salah satu hal menjadi daya tarik mereka saat ini.
"Tuh kan bener"
"Bener kan dugaanku"
"Gila sih"
"Ternyata kaya gitu kejadiannya"
Alisha menatap tajam kumpulan siswa siswi itu dari lantai dua. Tangannya bersendekap dan bersandar pada tembok.
"Why Sha?!!"
"Maksud lo?" tanya Alisha tanpa menoleh
"Ck"
"Gausah pura-pura bodoh"
"Gue ga bodoh. Gue juga ga pura-pura bodoh"
"Lantas?"
"Lo yang bodoh karena ga bisa ngerti ucapan gue" Alisha tersenyum remeh dan pergi begitu saja.
__ADS_1
Ia sudah cukup muak dengan segalanya. Segala drama yang sudah cukup banyak ia lalui beberapa tahun terakhir. Mulai dari drama yang di buat Renata atau drama yang di buat Devan.
"Wait!!" Tangannya yang digenggam erat membuat Alisha menghentikan langkah kakinya. "Apa?!!"
"Apa yang lo rencanain?"
"Sepenting apa kamu sampai aku harus menceritakan segalanya" ucap Alisha dan menepis kasar tangan itu.
"Jangan ikut campur kalau gamau terseret lebih dalam" ucap Alisha tegas
Langkah kaki Alisha kembali terhenti saat berhadapan dengan Deon.
"Ikut gue" Tangan Deon menarik paksa lengan Alisha dan menyeretnya menuju gudang sekolah.
"Apa yang mau lo lakuin?!!"
"Menurut lo?"
"Lepas!!"
Senyum sinis terbit dari bibir Deon. "Cewek kaya lo patut di kasih pelajaran" ucap Deon
"DEON!!!" Alisha memukul keras pintu gudang yang sudah terkunci rapat.
"Gue gila karena lo udah nyakitin Renata" ucap Deon dan berjalan menjauh dari arah gudang.
"Sial!!" Alisha menggeram kesal. Matanya menelisik sekitar ruangan untuk mencari celah agar bisa keluar.
"Kay" lirih Alisha dan mengambil ponselnya.
"Ck kenapa sih di saat genting gini malah lowbatt" Alisha mengacak rambutnya frustasi.
"Gue harus bisa keluar. Apapun caranya"
...****************...
"Gimana keadaan Renata ma" tanya Devan penuh prihatin.
"Dia masih koma" ucap Arliza lemah
__ADS_1
Devan menghela nafas panjang. Menatap tubuh Renata yang terbaring di atas ranjang rumah sakit.
"Lo harus balik Ta. LO HARUS BALIK!!" ucap Devan penuh keyakinan.
"Mama!! Devan" panggil seseorang dari arah belakang membuat keduanya menoleh.
"Arkan" Arliza merentangkan kedua tangannya dan menyambut tubuh kekar Arkan masuk ke dalam pelukannya.
"Mama udah makan?" tanya Arkan dan wanita paruh baya itu menggeleng.
"Mama ga selera makan"
"Mama makan dulu. Kalau mama sakit nanti siapa yang jaga adek?" bujuk Arkan
Beberapa kali percobaan akhirnya wanita paruh baya itu mau memasukkan makanan ke dalam tubuhnya yang butuh nutrisi.
"Satu lagi" Arkan menyuapkan makanan terakhir itu ke dalam mulut sang mama.
"Dev" panggil Arkan dan duduk di sebelah Devan. Keduanya menatap kosong ke arah depan dan berkecamuk dengan pikiran masing-masing.
"Kondisi Renata masih sama?"
"Iya"
"Lusa gue akan ke China"
"Di saat kaya gini lo pergi?" ucap Devan kesal
"Perusahaan disana ada kendala"
"Alisha gimana?" tanya Devan
"Gue titipin ke lo ya buat sementara waktu"
"Ck lo tau sendiri gue ga deket sama tuh anak" ucap Devan
"Gue cuma nitip dia buat dijagain" ucap Arkan
"Berapa lama?"
__ADS_1
"Dua minggu"
"Ok" Setelah percakapan singkat itu hanya keheningan yang tercipta. Arliza yang menatap kosong tubuh sang putri sedangkan kedua pemuda beda usia itu terdiam dengan pikiran masing-masing.