
"Kau akan pergi kemana?" Teriakan melengking dari suara Devan yang menggelegar menghentikan langkah kaki Alisha.
Alisha menoleh dan mendongak menatap Devan yang mengamati dirinya dari lantai atas. "Ke Mall" jawab Alisha singkat dan melanjutkan langkahnya.
Devan mengerutksn alisnya dan menurunkan anak tangga dengan cepat. Dengan satu gerakan Devan berhasil menarik tubuh Alisha hingga gadis tubuh keduanya menempel.
"Gue anter" ucap Devan tanpa penolakan.
"Tumben" Alisha mengernyit heran dengan sikap Devan yang terkadang baik bak malaikat terkadang juga menjadi jahat seperti iblis.
"Gausah banyak komen bisa gak" Devan menarik tangan Alisha dan meminta gadis itu masuk ke dalam mobilnya.
Dengan kecepatan penuh Devan mengendarai mobilnya menuju Mall yang diinginkan Alisha. "Belanja mulu. Emang punya uang lo?" tanya Devan.
"Dari kakak" ucap Alisha singkat.
"Arkan?" tanya Devan.
"Kakak yang mana lagi yang peduli sama aku?" tanya Alisha telak membuat Devan bungkam.
"Lo boleh muji-muji dia sekarang" cibir Devan
"Kalau nyetir jangan kaya ngajak mati juga" cibir Alisha karena kini bahkan jalanan pun tampak kabur karena kecepatan yang sangat gila.
__ADS_1
"Lo takut?" Devan menoleh sejenak dan menyunggingkan senyum remeh.
"Takut? Kata siapa gue takut" ucap Alisha.
"Yaudah buktiin kalau lo gak takut. Kita balapan besok" tantang Devan.
"Oke" jawab Alisha tanpa keraguan.
Keduanya kini sampai di basement salah satu Mall terbesar di kota itu. Banyaknya pengunjung yang datang membuat parkiran mobil cukup penuh hingga Devan sedikit kesulitan mencari tempat parkir.
"Tuh tuh" tunjuk Alisha saat melihat tempat kosong. Dengan cepat Devan membawa mobilnya untuk di parkirkan di tempat kosong tersebut.
Alisha turun dari dalam mobil namun tak lama ia dikejutkan dengan salah satu mobil yang mundur hingga menabrak mobil Devan.
Hingga ia bisa menghembuskan nafas lega saat Devan keluar dengan keadaan baik-baik saja. Hanya saja kini mobil itu ringsek karena tertabrak.
"Woi!!" bentak Devan marah karena mobilnya menjadi rusak.
"Maaf mas saya gak sengaja" ucap ibu-ibu sang penabrak dengan penuh rasa tanggung jawab.
"Kalau gak bisa nyetir belajar nyetir sono" bentak Devan lagi.
"Saya sudah meminta maaf. Berapa kerugian yang harus saya bayar?" tanya ibu itu dengan mengeluarkan ponselnya.
__ADS_1
"15 miliar" Jumlah yang Devan sebutkan memanglah jumlah biaya perbaikan mobilnya. Karena mobilnya juga tergolong mewah.
"Berikan rekening anda" ucap ibu itu
Devan menyebutkan nomor rekening miliknya dan tak lama sebuah notif masuk ke dalam ponselnya.
"Sudah saya transfer. Sekali lagi saya minta maaf" ucap Ibu itu dengan tersenyum dan pergi.
Seorang wanita yang umurnya tak jauh berbeda dengan Arliza. Wanita yang masih sangat cantik di usianya dan pembawaannya yang sangat anggun dan elegan membuat Alisha terpana sesaat. Wanita itu tidak jauh berbeda dengan Arliza. Keduanya sama-sama cantik dengan pembawaan elegan dan anggun. Hanya saja Arliza sedikit pemarah namun wanita itu sangat lemah lembut.
"Udah kan? Yuk masuk" Alisha berjalan lebih dulu dan disusul Devan di belakangnya.
"Lo mau ngapain sih kesini?" cetus Devan dengan menatap Mall mewah itu dimana isinya mayoritas kalangan atas.
"Mau ngemis sapa tau dapet duit. Mayan kan" ucap Alisha asal.
"Malu-maluin keluarga Amergan tau gak. Kekayaan keluarga kita itu gak kurang buat hidupin lo sama anak cucu keturunan ke sepuluh lo juga gak akan habis" ucap Devan mencibir.
"Yeee sapa juga mau ngemis disini" ucap Alisha dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam sebuah butik terkenal.
"Gue ke toilet dulu. Lo jangan kemana-mana sebelum gue balik. Sampe ilang gue gibeng lo entar" ancam Devan dan meninggalkan Alisha sendiri
"Kakak dakjal emang"
__ADS_1