
Nana dan Irene saling tatap dengan bingung. Alisha yang terdiam tanpa sepatah katapun membuat mereka bertanya-tanya.
"Sha, lo sariawan?" tanya Irene.
Alisha menggeleng pelan. "Terus?" tanya Nana antusias.
"Perut gue sakit" lirih Alisha.
"Kok bisa?" tanya Irene dan Nana bersamaan.
"Hamil mungkin" sahut Harley yang duduk di belakang Alisha. Gadis itu melirik sekilas ke arah Harley kemudian kembali menatap Nana dan Irene.
"Omongan tuh dijaga neng entar balik ke diri sendiri sukurin" cibir Nana.
"Gue lagi hari pertama" ucap Alisha membuat Irene dan Nana ber-oh ria saat paham.
"Pantes lo badmood mulu dari pagi" ucap Nana dengan berkacak pinggang.
"Gue panggilin Saka aja gimana?" tanya Irene dan siap berdiri.
"Gak usah" cegah Alisha dan menarik tangan Irene agar kembali duduk.
"Alisha!!" teriak Renata yang seketika menggelegar di sepenjuru ruang kelas Alisha menarik perhatian dari siswa siswi kelas itu.
Renata melangkahkan kakinya mendekat dan siap menjambak rambut Alisha. "Eitss jangan ganggu temen gue. Dateng-dateng ngajak ribut. Nyari perkara lo!!" tantang Nana dan menahan tangan Renata.
"Diem lo!! Gausah ikut campur urusan gue sama dia" ucap Renata dengan menunjuk wajah Alisha.
Alisha berdiri dan melepaskan tangan Nana dari tangan kakaknya, Renata. "Mau apa?" Kedua tangan Alisha bersedekap dada dan menatap kedua mata Renata dengan nyalang.
__ADS_1
"Mau nyari ribut? Lo gak ada habis-habisnya nyari masalah sama gue, Ta" ucap Alisha.
"Bahkan gue sampe capek ngeladenin orang kaya lo" sambung Alisha.
"Saka ngebenci gue gara-gara lo ja lang!!" teriak Renata frustasi.
"Kenapa lo jadi tiba-tiba suka sama dia? Karena lo mau hancurin hidup gue lagi?" tebak Alisha yang ternyata tepat sasaran.
"Lo berani main hati berarti lo sanggup nanggung konsekuensi untuk patah hati" ucap Alisha santai.
"Jatuh cinta dan patah hati itu dua hal yang selalu ada disaat lo naruh perasaan ke seseorang. Lo bisa jatuh cinta kapanpun tanpa ada yang melarang. Tapi jika semuanya tidak sesuai ekspetasi lo, maka lo harus siap buat patah hati"
"Saka akan jadi milik gue!! Camkan itu" Renata menunjuk wajah Alisha kemudian melangkah pergi.
"Gila tuh si nenek lampir. Dateng-dateng main labrak anak orang" ucap Nana.
"Mereka satu orang tua" sahut Irene
**
"Tumben si Alisha gak samperin lo, Ka" ucap Varo santai yang sibuk menghabiskan es jeruk miliknya.
Saka yang semula sibuk dengan ponselnya pun menoleh ke arah Varo. "Iya juga ya" gumam Saka dan langsung beranjak pergi.
"Woi kampret mau kemana" teriak Varo yang menyadari jika Saka pergi.
Varo pun ikut berdiri dan menyusul Saka. "Eitss gausah ganggu orang pacaran" Fino menarik kerah baju seragam Varo hingga menghentikan langkah kaki cowok itu seketika.
"Aelah gue kan kepo" ucap Varo mendengus kesal.
__ADS_1
Sedetik kemudian mata Varo bening seketika saat melihat salah satu pacarnya. "Hai sayang" sapa Varo dan langsung memeluk bahu kekasihnya itu.
"Baru inget kalau kamu pacar aku" cibir Cia, kekasih Varo.
"Ya ingetlah masa iya lupa" ucap Varo dengan cengengesan.
"Kalau inget coba sebutin tanggal jadian kita" tantang Cia dan menghentakkan tangan Varo dengan kesal. Selama beberapa minggu ini Varo mencueki dirinya karena sibuk dengan pacarnya yang lain.
"Mmm ingetlah tanggal 2 Februari 2023 kan" ucap Varo yakin meskipun itupun tanggal yang ia ingat entah jadian dengan siapa.
"Tuhkan" ucap Cia kesal dan menjewer telinga Varo.
"Awsss galak amat neng" ringis Varo dengan mengusap telinganya.
"Ouhh tanggal 5 Februari kan? Ouh atau gak 7 Februari? Apa 9 Februari?" tanya Varo menebak.
"Ihhhhhh Varoo!!!" teriak Cia dengan sangat kesal karena semua tanggal yang disebutkan Varo salah semua.
Fino hanya menyandarkan tubuhnya di dinding dan menikmati tontonan yang sangat asik di depannya tanpa ada niatan membantu kawannya itu.
"Kamu seminggu jadian berapa kali hah!!"
"Mmm berapa ya?" Varo menghitung nama-nama pacarnya dengan jarinya.
"Cuma sepuluh" ucap Varo enteng.
"Ihhh au ah" Cia berdecak kesal dan melenggang pergi begitu saja.
"Lah pergi" ucap Varo melongo dan disambut tawa Fino yang meledak.
__ADS_1
"Makanya punya pacar tuh satu aja" Fino memukul pelan punggung Varo membuat cowok itu mendengus kesal.
"Mana enak pacar cuma satu. Kalau putus nangis" cibir Varo