Mawar Terakhir

Mawar Terakhir
Mawar Terakhir • 07 •


__ADS_3

"Kak" rengekan itu kembali terdengat dari birai Alisha.


"Plis jangan pergi sekarang. Aku butuh kakak disini" ucap Alisha


"Tapi kan masih ada Devan"


"Aku tau" ucapan itu berubah menjadi lirih.


"Tapi di kondisi kaya gini Kak Devan berpihak ke Renata" ucap Alisha


"Kakak pasti balik kok sebentar aja kakak disana" ucap Arkan dengan mengusap puncak kepala sang adik dengan sayang.


"Bener? Aku gamau kakak lama-lama disana" ucap Alisha


"Iya"


"Dua minggu aja ya? Jangan lebih" pinta Alisha


"Iya adikku sayang. Jaga diri baik-baik disini. Jangan telat makan oke" ucap Arkan


Alisha hanya mengangguk patuh. Gadis itu memeluk tubuh Arkan erat seolah tak ingin melepaskan kakaknya itu pergi dari dirinya.


"Kalau udah sampe kabarin" ucap Alisha dan di angguki oleh Arkan.


Perlahan pria itu melangkah menjauh dengan menyeret koper miliknya.


"Alisha Zevanya Armeltha Putri Amergan" Senyum sinis menjadi akhir dari ucapan tersebut.


Wajah Alisha berubah menjadi datar seketika. Ia membalikkan badan dan melihat sosok wanita menatap datar dirinya.


"Arkan sudah pergi. Lalu siapa yang sekarang berpihak padamu Alisha" Wanita itu tertawa sinis pada Alisha.


"Meskipun dunia ini tidak berpihak. Aku akan tetap mampu berdiri di atas kakiku sendiri" ucap Alisha

__ADS_1


"Bagaimana jika kedua orang yang berpihak ke kamu ku renggut juga?"


"HARLEYYY!!"


"Stttt gausah teriak. Semua orang juga tau kalau hidupmu hancur dan sangat miris"


"Aku bersumpah akan membalikkan keadaan yang aku alami untuk orang-orang yang sudah menyebabkan semuanya" ucapan tegas itu keluar dari mulut Alisha dengan penuh emosional.


"Aku tidak yakin itu terjadi"


"Kenapa tidak?" tantang Alisha


"Setelah mengetahui semuanya" ucap Harley dan pergi begitu saja.


"Apa maksudnya" lirih Alisha namun jejak wanita itu sudah hilang bak di telan bumi.


"Apa maksud ucapan Harley?" Gadis itu masih termenung memikirkan ucapan dari gadis lain yang tadinya menjadi lawan bicaranya.


"Tahu semuanya? Berarti—"


"Tapi apa?"


"Kalau ada rahasia pasti berkaitan dengan orang-orang yang menyebabkan salah paham ini"


Gadis yang masih bergelut dengan isi pikirannya sendiri itu melangkah perlahan menuju mobil miliknya.


"Dan penyebab salah paham ini adalah—"


"Yah!! Rahasia itu pasti masih berkaitan dengan keluarga Amergan" Alisha melangkah cepat dan masuk ke dalam mobil pribadinya.


Gadis itu memacu kendaraan besi itu dengan kecepatan penuhi melintas di jalanan kota yang dipadati para pengendara lain.


"Ada sesuatu yang aku gatau"

__ADS_1


Dering panggilan dari ponselnya membuat fokus gadis itu pecah.


"Kenapa Ze?" tanya Alisha to the point


"Cepet ke rumah sakit Central Healthy"


"Buat?"


"Kay kecelakaan" ucap Zea membuat Alisha tanpa sadar menginjak rem hingga mobil dengan kecepatan penuh itu berhenti seketika meskipun sedikit oleng.


"Oke" Tanpa basa basi Alisha memutus panggilan secara sepihak. Melupakan rencana awalnya dan segera menuju rumah sakit.


Dalam waktu puluhan menit, Alisha sampai di rumah sakit yang dimaksud.


"Atas nama Kaysar Alvaka"


"Di ruang IGD" Suara high heels gadis itu mengiringi langkah kaki cepat Alisha untuk sampai di ruang IGD.


"Gimana kondisi Kay?" Gadis dengan nafas terengah-engah itu menatap nanar pintu ruang IGD yang tertutup.


"Dia kritis. Masih di tangani dokter di dalam" ucap Zea


"Kenapa bisa?"


"Dia ditabrak truk dari belakang saat berhenti di lampu merah"


Alisha menunduk menatap lantai rumah sakit yang di lapisi marmer putih. "Dia butuh banyak darah saat ini Al"


"Stok di rumah sakit ini cuma sedikit"


"Kalau enggak dia akan—"


"Gausah diterusin Ze. Dia pasti selamat"

__ADS_1


Alisha menghapus air matanya kasar dan menatap Zea lekat.


__ADS_2