
Pagi ini Devan melepas ikatannya atas perintah Arliza. Pria itu memastikan denyut nadi Alisha tetap ada. Hingga ia menghembuskan nafas lega saat tau jika gadis itu masih hidup.
"Bangun gadis payah!!" bentak Devan dan menampar kedua pipi Alisha agar gadis itu membuka matanya. Mata yang sembab dan seluruh wajahnya penuh luka itu perlahan mengerjapkan kedua matanya yang indah namun tampak sendu.
"Kak" lirih Alisha pelan.
"Bangun!!" Devan membanting kembali tubuh Alisha hingga gadis itu terjerembab.
Devan beranjak dan keluar dari kamar Alisha. Gadis itu memijat pelipisnya berharap rasa pusingnya mereda.
Beberapa menit terdiam, Alisha akhirnya bangun untuk membersihkan tubuhnya. Gadis itu masuk ke dalam kamar mandi dan tak lama kemudian keluar dengan tubuh segar meskipun tak dapat di pungkiri jika luka-luka itu masih terasa sakit dan ngilu hingga sampai saat ini.
Alisha duduk di meja rias miliknya dan menatap pantulan wajahnya yang babak belur habis di tangan keluarganya sendiri.
Tangan Alisha terangkat untuk menjangkau beberapa luka yang ada di wajahnya. Bukan hanya wajah, punggung, kaki, dan tangan bahkan hampir seluruh tubuhnya lebam karena tendangan dan juga tamparan dari orang-orang gila seperti mereka.
Alisha mengambil foundation miliknya untuk menutupi luka yang ada di wajahnya. Kemudian ia beranjak memakai baju seragam setelah menyisir rambut coklatnya yang ia biarkan tergerai indah.
Alisha juga memakai syal untuk menutupi bekas jari jemari Renata yang mencekik lehernya semalam. Gadis itu menghela nafas berulang kali kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar dengan ragu.
Menuruni satu persatu anak tangga hingga pada anakan tangan yang terakhir. Matanya melirik ke arah meja makan dimana Arliza, Renata dan juga Devan sedang menikmati makanan enak dan juga sehat.
Alisha berjalan melewati meja makan itu dan masuk ke dalam dapur. Dia adalah anak dari Arliza yang tidak diizinkan makan satu meja dengan mereka bahkan tidak pernah dianggap keluarga oleh mereka. Rasa kasih sayang yang Arliza berikan dulu seolah musnah, hangus di telan bumi. Bahkan dirinya pun dilarang makan makanan yang dimasak di rumah itu. Yang halal masuk ke dalam perutnya mungkin hanya nasi sisa semalam yang sudah teronggok di tong sampah.
__ADS_1
Pagi ini, Alisha memasukkan jari jemarinya ke dalam tong sampah untuk mencari sisa nasi semalam yang sudah di buang.
"Mama sudah mentransfer uang saku untuk kalian bulan ini" ucap Arliza dengan menikmati makanannya.
"Thanks mom" ucap Renata dengan tersenyum sumringah.
Berbeda dengan Alisha, gadis itu akan diberikan uang jika Arliza menginginkannya. Jika tidak? Dirinya harus rela tidak jajan berhari-hari agar uangnya cukup.
Senyum Alisha terbit saat menemukan nasi sisa di dalam tumpukan sampah itu. Jika orang lain yang melihatnya sudah dipastikan mereka mual karena baunya. Tapi tidak dengan Alisha, gadis itu tersenyum senang karena dirinya bisa makan hari itu.
Satu bulir bening menetes dari pelupuk matanya. Gadis itu menarik nafas panjang kemudian meraih piring untuk tempat nasi basi itu.
Seperti biasa, Alisha menaburkan garam untuk memberikan rasa pada nasi itu. Meski sedikit mual namun nasi itu berhasil masuk ke dalam lambungnya hingga habis.
Para pelayan yang melihat itu merasakan hatinya teriris. Gadis itu lahir di keluarga kaya raya dan terhormat tapi dia hidup layaknya orang paling miskin di dunia ini.
"Buat apa kamu kesini? Merusak nafsu makan saya saja kamu" ketus Arliza.
"Alisha cuma mau pamitan sama mama. Alisha berangkat ke sekolah ya" Alisha mendekat dan mencium pipi kanan Arliza dengan lembut. Satu tetesan air mata Alisha berhasil jatuh di pipi Arliza.
"Buat apa kamu pake pamitan segala!! Main cium-cium tanpa izin. KAMU ITU BUKAN ANAK SAYA!!" bentak Arliza dengan memukul kasar meja makan hingga piring-piring di atasnya saling berdenting.
Alisha terdiam. Ia kemudian menganggukan kepalanya sambil menghapus kasar air mata yang lagi-lagi turun. Jujur, ia sangat menyayangi wanita itu tak lepas dari semua perlakuan Arliza kepada dirinya yang kejam.
__ADS_1
"Alisha sayang mama. Alisha tau kasih sayang mama udah gak buat Alisha lagi. Tapi satu hal yang harus mama tau, tidak pernah berkurang sedikitpun rasa sayang Alisha untuk mama. Mama itu dunia Alisha. Rumah Alisha walaupun sekarang rumah itu sudah dirusak oleh mama sendiri" ucap Alisha dengan memaksakan senyum di bibirnya.
"Alisha berangkat ya ma" Alisha melangkah pelan menjauh dari meja makan dan berjalan keluar. Tepat hal itu bersamaan dengan Renata yang keluar dari kamarnya dan berjalan menuju area depan rumah.
"Kak Saka" gumam Alisha dan menerbitkan lengkungan senyum di bibirnya.
"Kak" sapa Alisha.
Saka hanya melengos mendengar sapaan dari kekasihnya itu. "Ngapain lo?" ketus cowok itu.
"Kakak kesini mau jemput aku?" tanya Alisha.
"Gausah geer. Buat apa gue jemput lo?" ucap Saka dengan kasar.
"Heyy udah lama?" tanya Renata membuat tubuh Alisha mematung seketika.
"Gak baru aja dateng" ucap Saka.
"Yuk" Renata langsung naik ke atas motor sport Saka dan dengan cepat motor itu berjalan melewati tubuhnya.
Tubuh Alisha terhuyung ke belakang hingga akhirnya gadis itu berhasil mengembalikan keseimbangannya. Lagi-lagi air mata itu turun membentuk sungai di pipi putihnya.
"Setelah merebut kasih sayang mama. Apa sekarang Renata juga akan rebut Kak Saka?" lirih Alisha.
__ADS_1
Gadis itu menunduk tak sanggup membayangkan jika hal itu benar. Hari ini, ia berangkat ke sekolahnya dengan naik angkot. Devan tidak akan mengantarkan dirinya karena Renata sudah berangkat bersama Saka.
Dirinya hanyalah benalu yang bagi Devan dia hanya menumpang saat pria itu mengantar Renata ke sekolahnya.