
"Gue gak nyangka penghianatnya adalah sahabat gue sendiri" ucap Alisha berdecih
Zea merunduk. Menatap mata nyalang Alisha sama saja uji mental dirinya. "Kenapa lo gak berani natap gue Ze?" bentak Alisha
Gadis itu tampak terbakar dalam emosinya. Para siswa siswi yang semula membully dirinya pun diam seketika. Tak ada satupun yang berani angkat suara.
"Sekarang disini siapa yang pembunuh?" tanya Alisha menatap satu persatu siswa siswi yang ada disana.
"Itu urusan gue. Yang perlu lo lakuin cuma dateng kesana dan lakuin apa yang gue bilang tadi" ucap Zea dan di angguki oleh Renata.
Zea tersenyum sinis menatap datar pada wajah Alisha yang ada di dalam layar ponselnya.
"Gue gak suka dengan kebahagiaan yang lo punya Sha"
"Hidup lo terlalu sempurna. Keluarga harmonis, pacar setia, temen temen yang baik"
__ADS_1
"Sedangkan gue, udah miskin ga punya keluarga dan ga ada yang mau temenan sama gue"
Hingga pada waktu yang direncakan pun tiba, pertemuan kedua gadis itu menjadi ajang balas dendam Zea.
"Gue cuma mau balikin pisau yang gue pinjem buat pelajaran prakarya tadi" ucap Renata dan menyodorkan pisau itu ke arah dirinya.
Ketika pisau tersebut dalam genggaman Alisha, *Renata memajukan dirinya atas titah yang di berikan Zea melalui kode.
Hingga semuanya seolah Alisha lah yang menusuk Renata. Dimana kesalahpahaman bermula*.
"Lo gila ya ngelakuin itu?" Alisha menarik dagu Zea. "Dulu lo emang sahabat gue. Disaat lo ga punya temen dan gue mau jadi sahabat lo? Apa itu gak ada artinya buat lo?" tanya Alisha
"Dan ini balesan lo? Gue hampir di keluarin dari sekolah karena lo bangsat" Alisha menampar pipi gadis itu hingga memar merah.
"Zea silahkan keluar dari area sekolah ini. Kamu bukan lagi siswi SMA Atma Jaya" ucap sang kepala sekolah membuat Zea menatap nanar dan setetes air mata jatuh di pipinya.
__ADS_1
Alisha membuang muka. Kenapa masalah selalu datang beruntun? Disaat salah paham itu terjadi, ia hanya punya Zea dan Kaysar.
Hanya dua orang itu yang masih berpihak pada dirinya. Namun siapa sangka kebeneran jika Zea lah penghianat sebenarnya itu terungkap setelah mendengar kematian Kaysar? Takdir terlalu mempermainkan hidupnya.
Perlahan Zea melangkah keluar dari area sekolah. "Huuuu!!!" sorakan hinaan itu kembali terdengar namun bukan lagi tertuju pada Alisha.
Sedangkan Fara, gadis itu tersenyum puas. "Masih ada yang sayang sama lo, Sha" Satu tepukan di bahu Alisha mengakhiri percakapan singkat itu. Kedua gadis yang pernah menjadi sahabat Alisha kini keluar dari area sekolah bersama petugas kepolisian.
Setelah keadaan kembali tenang, sang kepala sekolah meminta seluruh murid - muridnya untuk kembali ke dalam kelas masing-masing.
"Dunia emang gak selalu berpihak pada lo terus. Kadang diatas kadang dibawah. Itu wajar" Sebuah kata-kata yang terlontas dari birai gadis bule itu. Harley. Sorot mata coklat itu bertatapan dengan netra biru Alisha di kaca cermin yang ada di dalam toilet tersebut.
"Lo musuh atau sahabat?" Alisha membalikkan badannya menatap Harley yang memiliki tinggi yang sama dengan dirinya.
"Tidak keduanya"
__ADS_1
"Gue bisa aja jadi musuh lo. Bisa juga jadi sahabat lo" Harley keluar begitu saja meninggalkan Alisha seorang diri.
Alisha merenung sejenak. Kemudian gadis itu melangkah keluar dan kembali ke dalam kelasnya.