Mawar Terakhir

Mawar Terakhir
Mawar Terakhir • 25 •


__ADS_3

"Gimana ma?" tanya Saka saat melihat sang mama keluar.


"Demamnya mulai turun. Kenapa dia bisa kaya gitu?" tanya Reyana.


"Ada apa ini?" tanya Frans yang baru saja datang melihat wajah istri dan juga anaknya yang sedikit tegang.


"Ceweknya Saka, dia sakit" ucap Reyana.


"Ma dia bukan cewek Saka" ucap Saka kesal.


"Calon pacar?" goda Reyana.


"Waduh anak kita udah besar ternyata ma" ucap Frans kemudian tertawa pelan. Pria itu membuka sedikit pintu kamar Saka dan melihat gadis yang terbaring di atas tempat tidur dengan keadaan pingsan.


"Kalau bukan spesial ngapain di bawa ke kamar kamu?" tanya Reyana dengan menaikkan salah satu alisnya dan tangan bersedekap.


"Kan mama yang nyuruh" ucap Saka membela diri.


"Iya emang mama nyuruh kamu bawa dia ke kamar. Tapi kan ada kamar tamu" ucap Reyana.


"Iya juga ya" Saka menggaruk tengkuknua yang tidak gatal dan menatap wajah papa mamanya dengan kikuk.


"Kamu suka sama dia?" tanya Frans.


"Mana ada" ucap Saka.


"Kalau suka akuin aja. Dia cantik loh nanti kalau udah di dapetin orang lain baru nyesel. Cinta itu butuh di perjuangin" ucap Frans.


"Pa, Saka gak suka sama dia. Dia itu cuma sekedar temen udah gak lebih"


"Kalau lebih juga gapapa kok" ucap Reyana dan duduk di sofa dengan menatap kedua wajah pria yang begitu berarti di hidupnya.

__ADS_1


"Emang kejadiannya kaya gimana kok dia bisa kaya gitu?" tanya Reyana.


"Betul tuh" Frans ikut duduk di samping istrinya dan memeluk bahu wanita itu dengan mesra. Keduanya menatap Saka seolah mengintimidasi cowok itu.


"Ya gitu—"


"Gitu gimana. Jelasin lah!!" ucap Reyana.


"Tadi Saka ketemu dia di halte deket sekolah. Posisinya udah sore mulai malem. Terus Saka tanyain ternyata dia mau di jemput sama kakaknya. Terus pas di rumah Varo gatau tiba-tiba Saka keinget dia terus Saka samperin deh. Ternyata masih ada disana yaudah Saka bawa pulang" ucap Saka


"Jadi sekarang ceritanya kamu lagi nyulik anak orang nih? Papa gak ikutan loh" Frans mengangkat kedua tangannya dan menggelengkan kepalanya.


"Mama juga" Reyana pun melakukan hal yang sama hingga kedua orang itu tertawa bersamaan menatap wajah kesal Saka.


**


Saka tidur di sofa yang ada di kamarnya karena kini ranjangnya sudah terisi anak gadis orang yang ia bawa tanpa permisi. Posisi sofa yang menghadap langsung ke arah ranjang membuat Saka dapat melihat wajah tenang Alisha yang sedang memejamkan kedua matanya.


"Capek banget hari ini" ucap Saka dan perlahan memejamkan kedua matanya. Menjadikan tangan kanannya sebagi bantal membuat baju Saka sedikit tersingkap karena posisinya yang terlentang.


"Udah biarin aja. Gak akan ada apa-apa kok. Aku percaya sama Saka" ucap Reyana dan kembali menutup pintu.


Hingga pada tengah malam Saka terbangun saat menyadari ada pergerakan dari atas ranjang. Alisha terbangun dengan kepala yang pusing berkunang-kunang.


"Sha" panggil Saka


Alisha menoleh dan menatap wajah Saka yang sangat tampan saat terbangun dari tidurnya. Perlahan Saka beranjak dari posisinya dan mendekati Alisha. Ia duduk di samping gadis itu dan menyurai pelan rambut coklat Alisha.


"Mau apa hm?" tanya Saka.


"Minum. Aku haus" ucap Alisha.

__ADS_1


Saka mengambilkan segelas air putih yang sudah ada di atas nakas kemudian memberikan kepada Alisha.


"Makasih" Alisha mengembalikan gelas itu kepada Saka setelah meminum isinya. "Kok bisa aku ada disini? Emang ini dimana?" tanya Alisha.


"Ini di rumah aku. Ceritanya panjang besok aja aku ceritain. Sekarang tidur dulu gih" ucap Saka yang mendadak menjadi mode lembut.


Alisha mengernyit heran apa cowok itu jika siang mode galak dan jika malam mode lembut? Aneh.


"Kamu gak kesambet kan?" tanya Alisha.


"Kesambet apa?" tanya Saka.


"Kok beda"


"Udah tidur sekarang. Udah malem" Alisha kembali membaringkan tubuhnya dan tidur kembali.


"Aaaaa" teriak Alisha saat lampu yang ada di kamar itu padam. Hujan lebat diluar mungkin karena itulah terjadinya pemadaman listrik.


"Udah gausah takut gue disini" Saka memeluk tubuh Alisha erat untuk menenangkan wanita itu yang tampak ketakutan.


"Kamu takut hujan sama gelap?" tanya Saka.


Alisha menggelengkan kepalanya. Saka bisa mengetahui gerakan itu karena Alisha yang berada di dekatnya dan kepalanya yang bersandar pada dada bidangnya. "Lalu?"


"Aku emang takut gelap. Tapi aku suka hujan. Yang aku takutin cuma petir" cicit Alisha pelan.


"Yaudah sekarang tidur. Gue gak kemana-mana gausah takut"


Beberapa menit kemudian Saka dapat merasakan nafas yang teratur dari Alisha. Perlahan cowok itu ikut menyusul ke alam mimpi bersama.


**

__ADS_1


"Astaga"


"Papa!!!!"


__ADS_2